Minggu, 16 Desember 2018 Registrasi NewsLetter
User ID:     Password:  
MENU
 
 
KUNCI MENGEMUDIKAN BUS YANG AMAN : KENALI DETIL KENDARAAN
 
21 Mei 2018


(Jakarta – haltebus.com) Saat pertama mengemudikan kendaraan, kebanyakan orang di Indonesia tidak belajar dari langkah-langkah dasar. Seringkali pengenalan kendaraan, fungsi fitur pada kendaraan serta fisik dan instrumen kendaraan teraabaikan. Yang sering kita lihat di jalan raya, pengendara berberak-seolah-olah tak memperhatikan dimensi kendaraan, jarak aman serta situasi di sekelilingnya.

Menurut Direktur II PT. Jasa Marga yang bertanggungjawab pada Operation Management, Subakti Syukur, kecelakaan di jalan tol sering kali terjadi karena faktor pengemudi. Karena itu untuk mendukung kelancaran arus pemudik selama musim Idul Fitri, kata dia, PT. Jasa Marga mengadakan kursus singkat defensive driving untuk pengemudi bus.

“Kegiatan ini sesuai dengan Rencana Umum Nasional Keselamatan kami mengedukasi customer dalam hal kepatuhan pengoperasian kendaraan, pemeriksaan kondisi dan kesehatan pengemudi serta kampanye keselamatan. Dalam rangka pelayanan arus mudik-balik lebaran 2018 kami mendukung keselamatan angkutan umum serta menekan tingkat kecelakaan dan fatalitas untuk kecelakaan yang disebabkan angkutan penumpang khususnya bus,” kata Subakti saat membuka pelatihan pengemudi bus kerjasama PT. Jasa Marga dan Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia (IPOMI) di Jasa Marga Learning Center, Jakarta, Selasa (15/5/18).



PT. Jasa Marga bekerja sama dengan IPOMI mengadakan pelatihan pengemudi bus dalam rangka menyambut persiapan musim liburan Idul Fitri 1439 H. ada 40 pengemudi bus dari 12 perusahaan bus anggota (IPOMI) yang mengikuti pelatihan itu. Subakti mengaku senang karena pelatihan pengemudi bus ini diikuti oleh peserta yang cukup signifikan. Pada tahun sebelumnya, jumlah peserta realtif sedikit.

Dalam kesempatan itu, Subakti menjelaskan, meski angka kecelakaan bus tergolong rendah, tetapi tingkat fatalias saat terjadi kecelakaan cukup tinggi. Sebab, kata dia, bus mengangkut banyak penumpang. Dia berharap, kerjasama dengan IPOMI bisa terus berlanjut. Dia menjelaskan, kemampuan dan kapabilitas pengemudi bus menjadi faktor yang penting dalam penyelenggaraan angkutan lebaran yang aman dan selamat.

Indonesia Defensive Driving Center (IDDC), yang memberikan pelatihan pengemudi membagi pelaitahan dalam tiga tahap. Pertama mereka memberikan penjelasan teori-teori defensive driving beserta contohnya, kedua mengukur pengetahuan pengemudi melalui tes tertulis dan terakhir memberikan pengetahuan praktis di lapangan.

Pelatihan yang terakhir ini cukup menarik. Instruktur IDDC memberikan tips singkat cara mengenali dan mengendalikan kendaraan. Pertama pengemudi bus diajak memeriksa kendaraan mulai dari depan di sisi kanan sampai ke kap mesin. Di bagian mesin instruktur mengajak peserta berdiskusi apa saja yang perlu di cek oleh pengemudi. “Ingat yang pak, saat memeriksa ban pastikan tekanan angin pada ban cukup, mengapa karena kebanyakan ban meletus terjadi akibat kurangnya tekanan angin,” kata Instruktur IDDC Adhie Faizal.

Tiba saatnya praktek manuver, pengemudi diberikan tips singkat untuk pengendalian kendaraan. “Bapak-bapak sekalian, silahkan diperhatikan. Pilar A ada di atas roda depan, pilar B ada di antara roda depan dan roda belakang, dan pilar C ada di belakang roda paling belakang,” kata Deki Hartanto.



Deki sedang menginformasikan titik-titik yang perlu diperhatikan dan paling menentukan ketika sebuah kendaraan bermanuver. Menurut dia, apapun kendaraannya, titik-titik itu tetap pada posisi yang sama, alias universal untuk semua kendaraan. Bagaimana IDDC menunjukkan cara bermanuver yang baik dengan memperhatikan ketiga titik tadi? Mudah saja. Mereka menempatkan kerucut di areal praktek manuver kendaraan. Kerucut itu sudah diukur jaraknya berdasarkan dimensi kendaraan.

“Bapak-bapak hanya perlu memperhatikan kendaraan, kerucut dan spion. Ketika kendaraan bapak-bapak maju dan sudah melewati kerucut dan pada posisi di tengah silahkan berbelok. Kalo kerucut ada di kanan lihat spion kanan, belok ke kanan, begitu lurus lanjut lihat spion kiri, begitu juga sebaliknya ketika mundur,” kata Adhie yang selanjutnya memandu praktek manuver.



Gerakan zig-zag dibatasi kerucut sekilas terlihat rumit. Namun saat mengikuti instruksi yang diberikan oleh instruktur IDDC menjadi lebih mudah dan sederhana ini. Sayangnya tidak semua pengemudi memperhatikan intruksi itu. Iwan Arief, salah satu peserta, hanya melewati satu kerucut dan berjalan lurus sebelum akhirnya dikoreksi oleh Adhie. Begitu juga Andri Kurnia, terlihat gugup saat menjalankan bus dalam posisi maju dan lebih gugup lagi saat mundur. Dia sempat mengerem bus karena ternyata menyenggol kerucut di sisi kanan bus. Ridwan, pengemudi yang lain juga tak kurang gugupnya, meski sehari-hari bertugas dibalik kemudi bus, saat praktek manuver dia terlihat sangat hati-hati dengan ekspresi wajah serius.

Tidak sedikit pula yang berhasil menyelesaikan manuvernya. Ketenangan dan kemampuan pengendalian bus menjadi kunci mereka yang berhasil menjalankan praktek manuver. Tanpa disadari oleh pengemudi, instruktur IDDC memberikan penilaian kepada peserta yang ikut praktek. Mereka mewakili 12 perusahaan bus anggota IPOMI.



Setelah tim IDDC menghitung penilaian seluruh peserta dan perwakilan perusahaan, PO. Gunung Harta mendapat tempat pertama, disusul oleh PO. Sinar Jaya dan PO. Anugerah Mas. Para peserta tak mengira praktek manuver itu dinilai para instruktur. “Tadi masih ada yang tidak pakai sabuk pengaman. Ada yang pakai sabuk pengaman karena diingatkan. Ada juga yang masih tidak pakai sabuk pengaman setelah ada peringatan,” ujar Adhie mengevaluasi praktek manuver para peserta.

Sebetulnya, praktek manuver itu, merupakan bagian dari prinsip mengenali kendaraan. Managing Director Scania South East Asia, Ian Tan, dalam satu kesempatan menyatakan, pengemudi kendaraan komersial seperti truk dan bus harus memiliki kemampuan untuk menyatu dengan kendaraannya.



Dia mengungkapkan, para pengemudi harus terus diingatkan dan dilatih kemampuannya dalam mengendalikan kendaraan. Besarnya kendaraan, lanjut dia, membuat mereka harus memperhatikan keselamatan di jalan raya. “Scania Driver Competition menjadi salah satu cara agar mereka bisa mengukur kemampuan dan dengan cara ini pula sebetulnya kita mengetahui sejauh mana pelatihan dan kegiatan untuk meningkatkan kemampuan pengemudi bisa kita ukur,” kata dia.

Presiden Direktur IDDC, Bintarto Agung menegaskan, hasil dari pelatihan pengemudi bus tidak bisa dilakukan hanya dalam satu kesempatan. Namun, kata dia, setidaknya pelatihan pertama kali untuk pengemudi bus bisa menjadi awal untuk membuat angkutan bus menjadi lebih baik. “Pelatihan semacam ini memang harus berkelanjutan. Jika pengemudi bus memiliki kemampuan defensive driving yang baik, mengemudikan bus lebih aman, tentunya masyarakat akan senang naik bus. Selain aman juga nyaman. Ini menjadi nilai positif untuk perusahaan bus,” katanya.



Salah satu anggota Pengurus Besar IPOMI, Yayan Irman yang mendampingi pengemudi selama pelatihan mengungkapkan, pihaknya mengapresiasi langkah PT. Jasa Marga dalam membekali pengemudi bus. Menurut dia, selama ini mereka memang menunggu ada instansi yang mengadakan pelatihan keterampilan dan kecakapan pengemudi. Dalam kurun waktu tujuh tahun terakhir, IPOMI sedikitnya sudah mengadakan pelatihan pembinaan karakter pengemudi sebanyak 10 angkatan.

“Melalui pelatihan pegemudi, kami ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa perusahaan bus juga berbenah. Kami ingin membentuk pengemudi bus itu secara positif. Kami punya motto : Pengemudi, Yes!. Sopir, No!. sebagai self motivation baik ke perusahaan anggota IPOMI maupun si pengemudi sendiri,” ujar dia. (naskah : mai/foto : mai)
 
 

Home   |   Tentang Kami   |   Halte Berita    |   Halte Manca    |   Sudut Halte    |   Profil    |   Halte Advertorial    |   Halte Wisata    |   Hubungi Kami   |   Registrasi Newsletter
haltebus.com © Copyright 2011 - 2013