Kamis, 19 Juli 2018 Registrasi NewsLetter
User ID:     Password:  
MENU
 
 
VOLVO UNJUK KEMAMPUAN BUS OTONOM DI GOTHENBURG
 
25 Juni 2018


(Jakarta – haltebus.com) Mulai 15 Juni lalu hingga selesainya ajang kompetisi Volvo Ocean Race di Swedia, Volvo mendemonstrasikan bus otonom tanpa pengemudi di Gothenburg, Swedia. Volvo Ocean Race musim kompetisi 2017 – 2018 di mulai di Alicante, Spanyol, berakhir di Hague, Belanda. Gothenburg menjadi kota ke 12 yang menjadi tuan rumah dari ajang kompetisi perahu layar dunia bergengsi itu.

Volvo ingin mengambil momen bersamaan dengan kompetisi kapal layar bergengsi dunia itu dengan menampilkan bus otonom selama perhelatan berlangsung di Gothenburg. Volvo Bus mengundang beberapa tamu khusus untuk melihat langsung prototipe yang masih dipersiapkan ini.

“Dengan level suara yang rendah, bebas emisi selama beroperasi, sistem bus listrik menghadirkan transportasi publik berkelanjutan yang sangat baik dan menarik. Dengan variasi tingkat otonom, kami mencapai kemajuan terkait kebutuhan akan keselamatan, kenyamanan dan efisiensi. Memanfaatkan teknologi yang dikembangkan Volvo Grup, kami akan menunjukkan peluang masa depan selama Volvo Ocean Race,” ujar President Volvo Buses, Håkan Agnevall dalam siaran pers yang diterima haltebus.com, Senin (18/6/18).

Apa hubungannya bus otonom Volvo dengan kompetisi kapal layar dunia? Volvo Bus menyebut, kehadiran bus otonom adalah bagian dari kerangka kerja bersama yang disebut ElectriCity. Program ElectriCity yang menjadi program unggulan Gothenburg itu yang berpartispasi aktif dalam kompetisi Volvo Ocean Race. ElectriCity adalah proyek kerjasama komunitas peneliti, industri dan pemerintah Kota Gothenburg. Pemerintah kota Gotenburg ingin menunjukkan pada dunia, solusi baru untuk generasi masa depan. Solusi ini terkait dengan lalu-lintas perkotaanm, baik orang maupun kendaraan, yang sedang dikembangkan dan terus dievaluasi.

Bus otonom yang menjadi prototipe berukuran 12 meter, yang didesain untuk mengedepankan aspek keselamatan dan kenyamanan penumpang. Bus deprogram untuk berakselerasi dan berhenti secara halus dan lembut baik saat berjalan maupun bergerak dari kondisi berhenti. Di perhentian bus, posisi bus sama antara platform halte dengan lantai bus untuk memastikan keluar-masuk penumpang lebih aman dan nyaman. Posisi yang tepat itu bias dihasilkan dari peralatan sensor yang terpasang pada bus yang digunakan untuk memandu gerakan bus secara konstan dari situasi di sekeliling bus.

Titik menariknya dari bus otonom ini adalah, informasi yang diterima oleh sensor diteruskan ke “otak” bus untuk memandu jalannya bus. Sistem yang terpasang memungkinkan bus otonom mendeteksi obyek yang mendekati bus sehingga bus dapat menghindar dari insiden. Deteksi obyek sekitar juga diikuti dengan penyesuaian kecepatan atau menentukan saat bus berhenti.

Desain konsep dengan sistem pengendalian bus saat berjalan yang halus juga membuat bus otonom Volvo ini diklaim bisa lebih efesien. Tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga ramah bagi biaya operasional. “Teknologi ini juga memungkinkan penanganan kendaraan lebih efisien ketika bus tidak dalam status beroperasi. Dengan bus otonom, staf pool dapat fokus pada layanan dan pemeliharaan. (Tidak ada staf yang) harus mengisi baterai, membawa bus ke tempat cuci dan memarkir bus. Di masa depan, bus dapat melakukan semua ini sendiri, ” kata Agnevall lagi.

Tidak hanya sampai pada operasional diri sendiri. Volvo Bus juga mengembangkan teknologi platooning (bus berjalan beriringan). Sistem operasional platooning jalan raya memungkinkan bus berjalan dalam posisi konvoi di tengah padatnya lalu-lintas perkotaan. Agnevall mengungkapkan, sistem bus listrik tidak hanya menawarkan alternatif penggunaan sumber energi yang menarik, melainkan solusi lain yang bias diaplikasikan. Salah satunya dengan pergerakan seperti dalam rel untuk solusi angkutan umum masa depan.



“Volvo sudah menjadi pelopor sistem transportasi berkapasitas besar dan berbasis bus, yang disebut Bus Rapid Transit (BRT). Sekarang kami ajak anda memasuki langkah selanjutnya, dengan menggunakan sistem nirkabel otonom untuk menghubungkan bus-bus dalam rangkaian “bus train” yang sangat fleksibel,” Agnevall menjelaskan.

Lebih dari dua tahun lalu, bus Volvo dijadikan alat utama proyek penelitian di Swedia dan Singapura. Di Swedia, ada proyek FFI Autonomous City Buses dan KRABAT. FFI adalah pusat penelitian strategis untuk kendaraan dan program inovasi. Proyek penelitan yang dilakukan FFI Autonomous City Buses ini bagian dari kerja sama antara industry otomotif dan pemerintah Swedia. Sedangkan KRABAT adalah program yang menjadi bagian dari program pemerintah Swedia yang bernama, Next-generation travel and transport. Sebagian pembiayaan KRABAT didanai oleh lembaga Vinnova melalui program Drive Sweden.

Beberapa tahun belakangan ini, Swedia sedang gencar mengembangkan teknologi sebagai salah satu produk unggulan mereka di kancah perdagangan internasional. Di awal tahun ini, Volvo Bus juga meluncurkan program kerja sama dengan Nanyang Technological University (NTU) di Singapura. Bersama Volvo, peneliti salah satu universitas terkemuka di Singapura itu mengujicoba dan mengembangkan bus otonom di Singapura. (naskah : mai/foto : volvobuses.com)
 
 

Home   |   Tentang Kami   |   Halte Berita    |   Halte Manca    |   Sudut Halte    |   Profil    |   Halte Advertorial    |   Halte Wisata    |   Hubungi Kami   |   Registrasi Newsletter
haltebus.com © Copyright 2011 - 2013