Rabu, 17 Oktober 2018 Registrasi NewsLetter
User ID:     Password:  
MENU
 
 
ANGKUTAN UMUM TANPA AWAK SIAP DIOPERASIKAN?
 
25 September 2018


(Jakarta – haltebus.com) Perhelatan Asian Games pertengahan Agustus lalu tak hanya dimeriahkan oleh antusiasme penonton maupun pengunjung festival di Kompleks Gelora Bung Karno, Senayan. Ada yang menarik di ujung Barat Kompleks Olahraga yang juga pernah digunakan pada Asian Games lebih dari 50 tahun lalu itu. Sebuah kendaraan unik dengan wajah serupa baik depan maupun belakang, tanpa pengemudi hilir mudik di seputar jalan sepanjang tak lebih dari 500 meter. Kendaraan itu tak lain adalah Navya, sebuah kendaraan otonom yang diproduksi oleh perusahaan yang berbasis di Perancis, Navya yang berdiri pada 2014.

Kendaraan tanpa pengemudi ini baru diperkenalkan dengan format yang hadir di sela-sela Asian Games pada 2017. Melibatkan lima perusahaan global, dua diantaranya bergerak di bidang otomotif, Keolis dan Valeo, membuat eksistensi Navya di dunia relatif luas. Selain Perancis dan Amerika Serikat, yang menjadi pusat riset Navya, kendaraan yang bergerak sendiri dengan teknologi canggih itu sudah bisa ditemukan di China (Hongkong), Jepang, Singapura, Australia, Swiss dan Jerman.

“Kendaraan otonom atau kendaraan tanpa pengemudi ini merupakan sebuah contoh dari kecanggihan teknologi LIDAR (Light Detection and Ranging), AI (Artificial Intelligent) dan tentunya teknologi 5G untuk mewujudkan (industry) Indonesia 4.0,” demikian penjelasan Vice President Technology & System Telkomsel, Indra Mardiatna Kamis (23/8/2018), seperti dikutip dari gridoto.com.



Kehadiran kendaraan tanpa awak, Navya ini tidak terlepas dari peran Telkomsel untuk menunjukkan teknologi terbaru 5G di Indonesia. Menurut Menteri Komunikasi dan Informasi (Menkominfo), Rudiantara, ujicoba yang dilakukan adalah bagian dari kerja sama lanjutan dengan pemerintah Korea Selatan untuk menghadirkan teknologi 5G.

Saat pertama kali Navya model Arma diluncurkan di Arena Asian Games, Rabu (15/8/18), Rudiantara hadir. Bersama menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, dia menaiki kendaraan listrik sebesar minibus yang beredar di Indonesia tanpa kemudi itu. “Di Korea Selatan saat ini juga dikeluarkan model yang sama dengan 5G. Kemudian Jepang akan melakukan launching 5G pada tahun 2020. Indonesia tidak boleh kalah, sekarang kita menghadirkan experience center 5G,” ujar Rudiantara.

Navya Arma memiliki panjang 4,75 meter, lebar 2,11 meter dan tinggi 2,65 meter. Titik terendah kendaraan hanya 20 cm dan jarak antar sumbu roda 2,90 m. Bobot kosong kendaraan 2,4 Ton. Kapasitas angkut Navya Arma sebetulnya adalah 15 orang penumpang, 11 orang di antaranya bisa duduk. Namun selama ujicoba di Senayan, hanya dibuat untuk 12 orang, yakni delapan tempat duduk dan empat bisa berdiri. Ada LCD besar sebagai layar penunjuk situasi di seputar kendaraan yang ditempatkan di tengah, yang mengurangi ruang berdiri dan duduk penumpang.

Navya Arma menggunakan teknologi berbasis 5G dengan aplikasi teknologi Artificial Intelligent (AI). Teknologi 5G yang memiliki high throughput hingga 20 Gbps serta Low latency (1 millisecond) memungkinkan akses internet yang cepat tanpa terputus, yang menjadi basis pengendalian kendaraan. “Dengan menghadirkannya di perhelatan Asian Games 2018 sebagai bagian dari Telkomsel 5G Experience Center, kami memastikan kendaraan otonom dengan teknologi AI dan 5G Telkomsel ini mampu memfasilitasi animo dan antusias masyarakat, tanpa mengganggu jalannya jalur pertandingan dan kebutuhan para atlet serta masyarakat,” ujar Indra Mardiatna menambahkan.



Saat beroperasi, Navya Arma sama sekali tidak di-remote seperti halnya yang kita temui pada drone (pesawat tanpa awak). Navya Arma bergerak mandiri dengan pemograman pada titik-titik kordinat dan perintah tertentu. Saat haltebus.com melihat langsung operasional Navya Arma, ada beberapa titik perintah yang berjalan. Saat kendaraan itu mulai bergerak beberapa meter langsung berbelok ke kanan, di titik ini Navya membuka pintu sebentar lalu menutupnya lagi. Kemudian Navya jalan lagi beberapa meter, berhenti kembali, membuka pintu, menutupnya lalu kembali berjalan.

Di titik berbelok, Navya berhenti sebentar sebelum berjalan berbelok tanpa hambatan. Selama Navya berjalan, ada dua petugas yang disiapkan untuk mengikuti pergerakannya. Tidak jarak mereka menghalau orang yang mendekat karena penasaran. Di sepanjang rute yang dilalui, tidak sedikit orang yang mencari tahu kendaraan apa sesungguhnya Navya itu dengan mendekatinya.



Sistem pengawas yang bekerja mengontrol kendaraan. Sistem ini sensitif terhadap obyek yang mendekat, jika ada yang mendekat, Navya tidak akan bergerak. Ada dua kamera 360° di atas depan dan belakang kendaraan. Ada dua kamera di depan bagian bawah di depan dan belakang, dengan 180° pemantauan. “Kami harus menjaga agar areal ujicoba ini tetap bersih dari orang yang lalu-lalang supaya kendaraannya bisa tetap berjalan,” kata salah satu petugas.

Penggerak roda Navya Arma juga dilengkapi dengan sensor penggerak untuk pengendalian kendaraan. Ada sistem odometry yang dilengkapi dengan Wheels Encoder dan Inertial Unit. Selain itu masih ada pula Real Time Kinematic yang juga terhubung dengan satelit. Sumber tenaga listrik pada Navya Arma disimpan dalam Battery Pack LiFeP04 berkapasitas 33 kWh yang mampu bertahan selama 9 jam. Waktu pengisian batere masih cukup lama, yakni bisa mencapai 8 jam sampai batere penuh dan Navya Arma siap dioperasikan kembali.

Kompleksitas kerja kendaraan otonom ini, disoroti oleh sumber haltebus.com yang banyak mendalami masalah perkembangan dunia transportasi massal. “Untuk saat ini akan sulit mengoperasikan kendaraan otonom seperti Navya, tetapi ada peluang bisa beroperasi di masa depan,” katanya tanpa mau disebutkan namanya.

Kerumitan ini diakui salah satu petugas pengawas pergerakan Navya selama dim omen Asian Games di Senayan. Menurut dia, di hari pertama saat persiapan, titik kesulitan adalah pemograman. Dimana titik berhenti, dimana titik belok, juga dimana titik akhir. Semuanya harus tepat. Gerakan berbelok misalnya, jika posisi berbelok tidak pas, maka akan menyentuh trotoar. “Awalnya memang sulit, tetapi setelah berjalan, aman-aman saja,” kata dia.

Bussiness Development Navya, Alexandre Chardon mengungkapkan, kendaraan otonom ini memiliki kecepatan tak jauh berbeda dengan kendaraan normal. Kecepatan maksimum kendaraan masa depan seukuran angkutan kota ini, sangat cocok digunakaan di wilayah perkotaan. Di Jakarta, sangat cocok di wilayah perumahan modern dengan tata kota yang sudah terkoneksi dengan beragam moda angkutan massal. “Ini kecepatannya bisa sampai 50 km per jam, cuma untuk di sini dibatasi 25 km per jam,” kata Chardon.

Ujicoba Navya Arma selama Asian Games membawa pengalaman baru bagi masyarakat. Tinggal kesiapan pemerintah untuk membangun infrastruktur modern yang bisa membawa masyarakat ke level gaya hidup perkotaan yang modern dan terkoneksi dengan angkutan massal. (naskah : mai/foto : mai/dok. Kemen Kominfo)
 
 

Home   |   Tentang Kami   |   Halte Berita    |   Halte Manca    |   Sudut Halte    |   Profil    |   Halte Advertorial    |   Halte Wisata    |   Hubungi Kami   |   Registrasi Newsletter
haltebus.com © Copyright 2011 - 2013