Rabu, 17 Oktober 2018 Registrasi NewsLetter
User ID:     Password:  
MENU
 
 
HADIRKAN BUS PONCHO, HINO PAMERKAN TEKNOLOGI
 
26 September 2018


(Jakarta – haltebus.com) Empat tahun belakangan ini kendaraan listrik mulai menjadi topik yang menghangat di industri otomotif dunia. Bermarkas di salah satu pusat otomotif dunia, yakni Jepang, Hino Motors Ltd tak ketinggalan mengikuti tren itu. setelah tahun 2012 memamerkan bus Selega Hybrid, PT. Hino Motors Sales Indonesia (HMSI) memamerkan bus Hino Poncho Electric. “Hino bus Poncho EV merupakan bus ramah lingkungan yang bebas emisi dan CO2. Bus mungil ini juga memiliki suara yang lembut sehingga membuat nyaman penumpang yang berada di dalamnya,” ujar Presiden Direktur PT. HMSI, Hiroo Kayanoki dalam sambutannya di sela-sela Pameran Gaikindo Indonesia International Auto Show, awal Agustus lalu.

Kehadiran Hino Poncho di GIIAS adalah bagian dari perkenalan teknologi yang dikembangkan Hino saat ini. Hino masih mengembangkan modul aplikasi yang bisa diterapkan untuk semua produknya di masa depan dan berorientasi ramah lingkungan. Menurut Kepala Divisi Enginering, untuk Teknologi Baru dan Perencanaan Modul, Hino Motors Ltd, Tomonori Kosaka, ada beberapa kategori untuk kendaraan niaga.

Menurut Tomonori, ada kendaraan dengan jarak pendek, menengah dan jarak jauh dengan varian yang berbeda. Untuk jarak pendek, Hino sudah memiliki teknologi Electric Vehicle (EV) dengan hadirnya bus Hino Poncho. Bus ini awalnya berbasis mesin diesel, kemudian dibuat dalam versi hybrid dan sekarang sudah ada versi sepenuhnya bertenaga listrik. Bus Poncho EV pertama kali dibuat pada tahun 2012, disebut dengan light duty bus.



“Kendaraan dengan jarak tempuh dekat akan berubah menjadi model EV. Bertambahnya jarak tempuh maka akan berkembang model , Plug Hybrid Vehicle (PHV) dan Fuel Cell Vehicle (FCV) untuk jangkauan yang lebih jauh lagi. Lalu untuk model PHV dan FCV juga akan terus berkembang,” kata Tomonori saat menjelaskan perkembangan teknologi yang sedang dilakukan Hino.

Hino Poncho memiliki bentuk yang unik sejak pertama kali diperkenalkan pada tahun 2012 bus ini berevoluasi. Tahun 2016 sudah berkembang menjadi medium duty bus dengan daya angkut yang lebih besar. Bus ini cocok untuk kendaraan perkotaan dengan kapasitas relatif besar untuk ukuran bus dengan panjang 7 meter. Sekali angkut, 36 penumpang bisa masuk. Menurut Tomonori, salah satu keunggulan bus ini adalah kabin penumpang luas dan rata. Ada area khusus untuk dua penumpang berkursi roda.



Lebar bus Poncho ini sebetulnya tak jauh berbeda dengan bus di Indonesia, 2,1 meter, tingginya mencapai 3,1 meter dengan gross vehicle wight (GVW) 7,7 Ton. Kecepatan maksimum yang dihasilkan motor listriknya adalah 60 km/jam. Kinerja motor listrik bertenaga 200kW/300V yang mendorong di bagian belakang bus, didukung oleh batere Lithium-ion 30 kWh/200V selama bus beroperasi. .

“Kami telah mencapai target, yakni untuk zero emisi dan tingkat kebisingan. Tetapi kami masih memiliki masalah untuk waktu dan frekuensi pengisian batere serta harga yang cukup tinggi karena pemakaian batere Lithium yang berperforma tinggi. Kami terus melakukan pengembangan untuk mencari solusi,” kata Tomonori lagi.

Tahun lalu, Hino merilis video Hino Poncho versi Otonom. Dalam video itu tergambar bagaimana bus Hino Poncho itu beroperasi di pedesaan, tanpa halte, hanya ada satu tanda penunjuk lokasi naik-turun penumpang. Hino Poncho Otonom juga dipamerkan di Tokyo Motor Show, namun Hino Poncho yang teknologi yang lebih maju ini belum diproduksi secara massal. Tomonori menyebut, “Masa depan kendaraan akan dimulai dari perkembangan satu model aplikasi yang bisa diterapkan untuk semua kendaraan. Kami terus melakukan penelitian dan pengembangan menghadirkan produk otomotif Jepang untuk market global.”

Eksteriornya yang sederhana dengan tampilan wajah yang jenaka, cukup menarik dipandang. Ada LCD di depan dan belakang sebagai papan penunjuk rute. Dua pintu pneumatic yang lebar memudahkan penumpang masuk dan keluar bus. Dengan panjang 7 meter dan lantai rendah, sebenarnya Hino Poncho sangat cocok melayani perkotaan di Indonesia.



Beberapa kota yang sudah terasa padat kendaraan, seperti Bogor, Bandung dan Yogyakarta bisa mengaplikasikan kendaraan semacam ini. Selain itu, kota-kota mandiri di seputar Jakarta yang belakangan ikut berbenah menghadirkan angkutan umum di lingkungan perumahannya juga bisa memanfaatkan keunggulan Hino Poncho.

Menurut Direktur Penjualan dan Promosi PT. HMSI, Santiko Wardoyo, pihaknya sengaja mendatangkan bus listrik selama GIIAS berlangsung. Menurut dia, sesuai dengan tema dan semangat pemerintah mencari energi terbarukan yang ramah lingkungan. “Kami juga punya teknologi bus listrik, tinggal bagaimana di sini saja, apakah kira-kira bisa diterima? Kami juga ada Hino Poncho versi diesel,” kata Santiko menjelaskan.



Seperti kebanyakan bus-bus kota yang dibuat di Jepang, kesan lapang dalam kabin penumpang sangat terasa. Meskipun Hino Poncho tidak panjang, seperti kebanyakan bus medium di Indonesia yang berpanjang 9 meter, namun ketinggian plafon menciptakan ruang yang lega. Kursi yang berhadapan di sisi dinding kiri dan kanan bus ikut menambah kesan lega. Fitur suspensi udara juga membuat ketinggian bus dari tangah bisa diatur, dengan selisih sekitar 6 cm.

Sayangnya, Hino Poncho hanya hadir selama pameran GIIAS berlangsung. Selama pameran juga tidak ada sesi mencoba bus berjalan di sekitar arena pameran. Hanya ada satu unit bus dan begitu pameran selesai, bus itu pun siap dikembalikan lagi ke Jepang. (naskah : mai/foto : mai)
 
 

Home   |   Tentang Kami   |   Halte Berita    |   Halte Manca    |   Sudut Halte    |   Profil    |   Halte Advertorial    |   Halte Wisata    |   Hubungi Kami   |   Registrasi Newsletter
haltebus.com © Copyright 2011 - 2013