Minggu, 21 April 2019 Registrasi NewsLetter
User ID:     Password:  
MENU
 
 
HINO RN 285 AT COCOK DI JALAN TOL YANG PANJANG?
 
19 Januari 2019


(Jakarta – haltebus.com) PT. Hino Motors Sales Indonesia secara resmi memperkenalkan bus bertransmisi otomatis, Hino RN 285 AT di Tahun 2018, pada Pameran Gaikindo Indonesia Auto Show 2018 Agustus lalu. Sebelumnya, di akhir Desember 2017, mereka memperkenalkan secara terbatas varian ini untuk kebutuhan armada bus Transjakarta. Menjelang akhir tahun 2018, haltebus.com mendapat kesempatan langka dari Allison Transmission untuk mencoba bus bertransmisi otomatis itu pada 18-21 Desember 2018 lalu.

Memulai perjalanan dari Malang, Allison Transmission mengulang perjalanan mempersiapkan bus bertransmisi otomatis pertama, yang menjadi bagian dari varian baru bus Hino di Indonesia. Allison Transmission bersama pemegang mereknya di Indonesia, PT. Dieselindo Utama Nusa, menggelar Roadshow di Jawa Timur. Mereka mengawali perjalanan di Malang. “Kami ingin memberikan kesempatan kepada perusahaan-perusahaan bus mencoba bus bertransmisi otomatis,” kata Sales Manager PT. Dieselindo Utama Nusa (DUN), Stevan Wangsa, Selasa (18/12/18).

Ujian pertama Hino RN 285 AT datang dari Teddy Kurniawan, Kepala Mekanik PO. Gunung Harta. Dia mencoba mengendarai bus milik PO. Harapan Jaya itu sejauh lebih dari 5 Km. Beragam variasi injakan kaki pada pedal gas dicobanya. Mulai akselerasi yang lembut sampai pemaksaan kinerja mesin untuk mendahului kendaraan lain dalam jarak yang pendek. Teddy sudah terbiasa merawat bus berkapasitas isi silinder besar, di atas 10 liter dengan tenaga di atas 300 HP. “Tadi saya tekan pedal gas, tendangan tenaganya untuk menyalip jarak pendek lumayan. Transmisinya halus lumayan untuk tenaga (285 PS) seperti ini,” kata dia.



Sejatinya Teddy ingin membandingkan akselerasi kinerja mesin jika bus dipasangi transmisi otomatis dari Allison Transmission. Menurut dia, beberapa transmisi pernah diperbaikinya. Dia menyebut sejumlah kendala pada beberapa merek, dan dia mengku tertarik mempelajari Allison Transmission. Teddy mengungkapkan, perjalanan jauh seperti adanya jalan Tol Trans Jawa ini membutuhkan perawatan mesin yang prima. Dia yakin, penggunaan transmisi otomatis bisa membantu kinerja mesin lebih terjaga.

Fadli Sahar dari Tim Engineering PT. DUN menjelaskan, transmisi otomatis ini memiliki kelebihan perawatan yang rendah. Perawatan rutin hanya untuk pergantian oli dan filter oli pada transmisi. “Ada pelanggan kami yang pernah mengalami kerusakan pada mesin, tetapi transmisi Allison yang dipasang pada mesinnya masih bagus. Komponen dalamnya bersih. Itu karena perawatannya cukup baik,” ujar Fadli.

 

Tak hanya Teddy, pemilik PO. Hafana, Surabaya, Mirna Nurul Afianti ditemani suaminya, Mochamad Taufan juga tertarik ikut merasakan bus Hino bertransmisi otomatis. Kepala mekanik PO. Hafana, Hani S, mencoba mengemudikan bus Hino RN 285 AT. Dibandingkan Teddy, Hani lebih kalem. Dia hanya mengemudikan secara normal, sambil merasakan dan membandingkannya dengan Hino RK8J-R260 yang dirawatnya beberapa tahun terakhir. “Tenaganya lebih enak ini. Lebih halus, tidak terasa perpindahannya,” begitu dia berkomentar singkat.

Sales Manager Allison Transmission Asia Tenggara, Mark Kwok, yang ikut dalam ujicoba itu mencoba menggali informasi dari Mochamad Taufan. Dia berdiskusi sedikit serius tentang perawatan dan biaya perawatan yang rutin dikeluarkan PO. Hafana. Taufan juga cukup antusias mempelajari dan merasakan transmisi otomatis yang terpasang di bus Hino. Maklumlah, PO. Hafana baru belakangan membeli beberapa bus Hino. “Lumayan juga kami nambah wawasan ini. Semoga nanti kami bisa mengoperasikan bus dengan transmisi otomatis,” katanya.

 

Acara roadshow Allison Transmission di Jawa Timur ini tak hanya berkeliling di Malang dan Surabaya. Bus juga singgah di PO. Pandawa 87, PO. Akas Green dan PO. AKAS-Mila Sejahtera. Pimpinan PO. AKAS-Mila Sjeahtera, Hardian Prayoga langsung mengambil tempat duduk di belakang pengemudi, saat mencoba merasakan Hino RN285AT. Dia memperhatikan putaran mesin, kecepatan serta pola pengemudi PO. Harapan Jaya, Santoso.

Menurut pria yang akrab disapa Yoga ini, saat mencoba Hino RN 285 AT, rasanya berbeda dengan Hino RN 285. Selain perpindahannya halus, putaran mesinnya juga masih lebih rendah. “Saya punya beberapa Hino RN 285, sepertinya berbeda ya. Memang lebih enak ini. Sekarang ini sudah ada tol mungkin kalau pakai transmisi otomatis lebih enak ya,” ujarnya.



Generasi ketiga pewaris PO. AKAS, salah satu perusahaan bus yang terbesar di Jawa Timur ini mengaku tengah memperbaharui armada busnya. Menurut dia, ada enam unit Hino AK yang baru dibuat di Karoseri Tentrem dan sudah selesai secara bertahap. Karena itu, dia cukup antusias dengan informasi baru terkait bus. Sayangnya Yoga hanya menikmati Hino RN 285 AT yang dilengkapi Allison Transmission T325R dengan berkeliling Kota Probolinggo.

Saat bus melaju ke Surabaya, performa Hino RN285AT cukup mengejutkan. Putaran mesin Hino J08E-WG lebih rendah dibandingkan mesin Hino J08E-VT2 yang tertanam di Hino RN 285. Meski sesama mesin seri J08E karakternya sedikit berbeda. Di jalan tol Pasuruan – Surabaya, Santoso menginjak gas dalam-dalam. Hasilnya, bus melaju pada kecepatan 120-130 Km/jam dan posisi putaran mesin tak lebih dari 2.500 RPM. Dia terlihat santai ketika mengemudikan bus dalam kecepatan tinggi. Asisten pengemudinya, Jangger, yang justru semangat berkomentar. “Busnya tidak goyang, kalau bus RK kecepatan seperti ini stir kemudinya bergetar,” kata Jangger berusaha meyakinkan.



Menurut Santoso, selama mengemudikan bus Hino, baru Hino RN 285 AT ini yang terasa lebih nyaman. Selain tak perlu menginjak pedal kopling, bus relatif stabil dan tenaga mesinnya cukup membuatnya mudah mengendalikan kendaraan besar itu. Penggunaan retarder juga sangat membantu mengurangi laju kendaraan. Santoso yang mengaku baru dua kali pulang-pergi dari Tulungagung ke Jabodetabek, terlihat sudah menguasai kendaraan. Tangannya juga tidak canggung menggunakan retarder.

Selama ujicoba, Santoso banyak ditanya soal konsumsi bahan bakar. “Kalau konsumsi bahan bakar memang ada selisih. Kalau yang biasa (transmisi manual) solarnya habis 400 liter, bus ini habis 430 liter,” begitu dia menjawab pertanyaan beberapa pemilik bus.

Tak mau pengusaha bus salah persepsi tentang transmisi otomatis, Stevan Wangsa selalu menjelaskan bahwa dengan transmisi otomatis karakter tenaga bisa disesuaikan. Menurut dia, ada mode ekonomi yang mengutamakan efesiensi bahan bakar. Ada pula mode performa, yang membuat mesin lebih bertenaga dan responsif saat melaju. “Konsekuensinya memilih mode performa ya agak sedikit boros. Transmisi otomatis ini bisa di-setting di mode ekonomi supaya bus lebih irit. Kami biasanya mengikuti keinginan dari perusahaan, yang berbeda-beda karakter yang diinginkan,” ujar Stevan menjelaskan.

Karakter mesin Hino J08E-WG ini tak jauh berbeda dengan mesin J08E-WK yang digunakan bus antar negara yang banyak dioperasikan perusahaan bus di Malaysia. Suara mesin lebih halus, pada kecepatan 120 Km/jam posisi jarum RPM ada di angka 2.000-2.400. Meski bus melaju pada kecepatan tinggi, tidak terasa bergetar dan suara mesin juga tidak meraung-raung. Perbedaan lain, Hino RN yg di Malaysia berkode model RN8JSPA itu menggunakan transmisi manual.

   

Pengemudi PO. Kalisari, Eko Kuspriantoro yang mencoba mengemudikan bus RN 284 AT sempat tak percaya dengan perbedaan mesin ini. Begitu juga Albert A. Lukito, pimpinan PO. Kalisari yang ikut merasakan bus terbaru dari Hino di ruas Jalan Tol Waru – Bandara Juanda. Mereka merasakan betul ada perbedaan, terutama dari halusnya suara dan akselerasi mesin. Namun saat ditawari melihat mesin yang terletak di belakang, Albert sempat berkomentar, “Ah masak beda, ini kan perbedaannya hanya di transmisi otomatisnya, mesinnya sama. Kan sama-sama Hino RN 285.”

Sejurus kemudian, saat Eko tengah mengobrol dengan Santoso di bagian belakang bus, kap mesin dibuka oleh. Tiba-tiba Eko mendekat dan memperhatikan mesin. Dia yang sehari-hari mengemudikan Hino RN 285 hafal betul dengan mesin bus yang dikemudikannya. “Kok beda ya. Kalau suara mesin bus yang saya biasa kemudikan itu agak nyaring. Sekilas mesinnya sama, kok suaranya lebih halus,” begitu Eko berkomentar.





Sejauh ini populasi Hino RN 285 AT masih bisa dihitung dengan jari. Sampai Desember 2018 hanya ada 2 saja. Bus belum sepenuhnya dilepas ke pasar, masih sebatas uji kondisi operasional reguler. Selain dioperasikan di PO. Harapan Jaya dan PO. Bin Ilyas, salah satu operator bus wisata. Informasi yang didapat haltebus.com, PT. Hino Motors Sales Indonesia juga masih mempersiapkan strategi pemasaran bus ini.

Jalan Tol Trans Jawa telah mengubah pemikiran banyak pelaku usaha bisnis transportasi. Ada peluang, ada tantangan dan juga hambatan yang menarik dicermati mengingat pola mobilitas masyarakat juga akan terdampak. Waktu tempuh yang lebih singkat, membuat perjalanan darat dengan jarak minimal 500 Km tidak melelahkan seperti halnya masa lalu. Perjalanan melalui jalan tol membuat jarak 500 km bisa ditempuh dalam waktu setidaknya 6 jam, separuh dari waktu tempuh sebelumnya. Kondisi ini bisa menjadi peluang Hino RN 285 AT mengisi pasar transportasi bus yang tengah memasuki babak baru di tahun 2019.(naskah : mai/ foto : mai)
 
 

Home   |   Tentang Kami   |   Halte Berita    |   Halte Manca    |   Sudut Halte    |   Profil    |   Halte Advertorial    |   Halte Wisata    |   Hubungi Kami   |   Registrasi Newsletter
haltebus.com © Copyright 2011 - 2013