Senin, 17 Juni 2019 Registrasi NewsLetter
User ID:     Password:  
MENU
 
 
JALAN PANJANG TRANSMISI OTOMATIS MELANGKAH DI PASAR INDONESIA
 
31 Desember 2018


(Jakarta – haltebus.com) Peresmian Jalan Tol Trans Jawa membawa angin baru bagi pengusaha-pengusaha bus. Begitu juga yang dirasakan oleh pemegang lisensi Allison Transmission di Indonesia, PT. Dieselindo Utama Nusa. “Senang juga dengan antusiasme pengusaha bus yang ingin mengetahui tentang transmisi otomatis,” kata Sales Manager PT. Dieselindo Utama Nusa, Stevan Wangsa kepada haltebus.com di sela-sela Roadshow Allison Transmission di Jawa Timur 18-21 Desember lalu.

Stevan mengungkapkan, selama tiga tahun terakhir pihaknya mulai berkampanye ke beberapa perusahaan bus, untuk memperkenalkan transmisi otomatis. Pada tahun 2012, PT. Dieselindo Utama Nusa pernah mengadakan pertemuan dengan sejumlah pengusaha bus di Yogyakarta. Saat itu, mereka menguji dua unit bus yang sudah bertransmisi otomatis menuju Kaliurang dengan medan jalan mayoritas menanjak. Sayangnya, lanjut dia, respon pengusaha bus masih belum terasa. Masalah harga transmisi masih menjadi kendala.

Kendala lain pun muncul. Dua tahun lalu, ketika Dirjen Perhubungan Darat dijabat Pudji Hartanto Iskandar, masalah transmisi otomatis juga jadi sorotan. Penggantian transmisi otomatis dinilainya tidak memenuhi standard keselamatan dan melanggar aturan. Padahal, sejak 2006 hingga Pudji Hartanto melarang transmisi otomatis, Allison Transmission dan ZF sudah banyak digunakan di armada bus Transjakarta.



Mendapat hambatan seperti itu, Allison Transmission kemudian mengubah strateginya. Berdasarkan catatan haltebus.com, selangkah demi selangkah mereka mulai mengadakan pendekatan ke pabrikan. PT. Daimler Commercial Vehicles Indonesia yang memegang merek Mercedes-Benz menjadi yang pertama kali didekati. Dua tahun terakhir, sudah tersedia, bus Mercedes-Benz OH-1626 bertransmisi otomatis dari Allison Transmission.

Desember 2017, giliran Hino Indonesia mengeluarkan varian RN 285 AT yang dilengkapi Allison T325R. Awalnya bus varian baru yang sdah dilengkapi suspense udara ini diproyeksikan untuk memenuhi kebutuhan armada Transjakarta. Namun, pada ajang Gaikindo Indonesia International Auto Show 2018, Agustus lalu diluncurkan secara resmi untuk bus pariwisata dan bus antar kota. “Kami diminta pihak Hino untuk membantu menyiapkan bus bertransmisi otomatis. Kebetulan kami memiliki transmisi otomatis yang cocok untuk mesin mekanikal maupun elektrik,” kata Stevan menceritakan awal mula kerjasama dengan Hino Indonesia.









Bus bertransmisi otomatis ini ternyata kini diminati oleh sejumlah perusahaan bus di Jawa Timur. Stevan dan timnya tak menyangka antusiasme para pengusaha untuk mencoba, merasakan sekaligus menggali informasi terkait transmisi otomatis itu. PO. Gunung Harta misalnya, salah satu perusahaan yang mencoba menjalankan bus dengan jarak terjauh saat ditawari merasakan Hino RN 285 yang sudah dilengkapi transmisi otomatis.

Kepala Mekanik PO. Gunung Harta/PT. Gunung Harta Transport, Malang, Teddy Pribadi tanpa sungkan tak menyia-nyiakan kesempatan duduk dibalik kemudi. Sambil beradaptasi, perlahan-lahan dia mengemudikan bus keluar dari garasi. Dia memilih rute yang mengarah ke Lokasi Wisata Bromo. Sedikit menanjak namun jalan yang dilalui tak terlalu ramai. Sesekali dia menginjak gas agak dalam, memainkan retarder dan juga mencoba menyalip dalam jarak pendek untuk mencoba tenaga mesin. “Retardernya lumayan ini, tenaga mesinnya juga bagus. Sayang posisi retardernya agak jauh jangkauannya,” kata dia sambil memperhatikan jalan.


Teddy juga sempat merasakan putaran tenaga mesin, dengan menekan gas secara spontan dan menguji perpindahan gigi dari gigi tinggi ke gigi rendah yang spontan. Meski mengaku sudah lama tak menggunakan armada Hino, Teddy mengaku tidak lupa dengan karakter mesin Hino. Dia cukup terkesan dengan akselerasi yang dihasilkan dari transmisi otomatis Allison. “Tidak kehilangan momentum, saat tenaga dibutuhkan ternyata cukup terasa tenaganya,” kata dia lagi.

Tim Engineering Allison Transmission, Fadli Sahar yang mendampingi Teddy menjelaskan, di saat bus berjalan menanjak, posisi gigi bisa dikunci. Misalnya, jika pengemudi membutuhkan tenaga yang cukup untuk menanjak pada posisi maksimal gigi tiga maka, dengan menekan tombol hingga menunjukkan angka 3 di tombol transmisi sepanjang perjalanan menanjak, batas maksimal giginya adalah gigi tiga. “Kan sering kali saat menanjak, tiba-tiba gigi berpindah ke gigi yang lebih tinggi. Akibatnya tenaga mesinnya terganggu karena putaran mesinnya gak sesuai dengan tenaga yang dibutuhkan untuk menanjak,” ujarnya.

Lain Teddy lain pula tim di perusahaan bus 27Trans, Singosari. Manager Marketing 27Trans Ferry Adriansyah mencoba duduk dibalik kemudi. Karena jalan raya Lawang – Malang sedang macet, ujicoba di luar garasi diurungkan. Ferry mencoba bus Hino RN 285 AT maju dan mundur sejauh sekira 200-an meter. “Wah gak kalah dengan sedan. Enteng juga ya, lepas rem langsung jalan,” begitu dia berkomentar.

Pimpinan PO. AKAS Green, Aprilia D Lestari, yang juga ikut merasakan bus transmisi otomatis. Dia tak segan duduk dan terlihat menyimak penjelasan Fadli tentang transmisi otomatis. Sedikit penasaran, dia sempat pula memencet tombol-tombol transmisi. Salah satu pengemudi bus PO. AKAS Green lalu diminta Aprilia menjalankan busnya, walau tidak berjalan jauh. Aprilia mengaku tertarik ingin mengetahui cara kerja transmisi otomatis.

Generasi ketiga dari pendiri perusahaan bus AKAS ini tak sungkan mencoba walaupun dia mengaku belum punya rencana mengoperasikan bus bertransmisi otomatis. “Terima kasih kami diberi kesempatan untuk mencoba (transmisi otomatis). Sangat menarik. Memang saat ini kami belum ada niat, tapi dengan wawasan seperti ini, saat kami membutuhkan kami sudah dapat gambarannya,” ujar Aprilia.

Stevan mengatakan, dampak pengoperasian Jalan Tol Trans Jawa sangat terasa di kalangan pengusaha bus. Setidaknya itu yang dilihat Stevan. Pengusaha bus tidak malu-malu atau takut-takut lagi untuk mencoba bus bertransmisi otomatis. “Semakin ke sini pengusaha bus makin tertarik. Selama roadshow di Jawa Barat dan Jawa Tengah, tidak seperti sekarang ini (antusiasnya),” katanya.

Allison Transmission, menurut Stevan tidak menargetkan penjualan akan melonjak dalam waktu dekat. Namun, kata dia, setidaknya dengan roadshow, pihaknya bisa mengukur kesiapan jika terjadi permintaan. Sejauh ini, lanjut Stevan, pengusaha bus yang mereka datangi masih menghitung biaya investasi di awal, belum masuk pada biaya operasional.

Menurut Stevan, setidaknya kini pilihan varian bus bertransmisi otomatis sudah tersedia untuk Hino dan Mercedes-Benz. Dia berharap, dengan beroperasinya Jalan Tol Trans Jawa, Allison Transmission bisa ikut mendorong perkembangan kebutuhan mobilitas orang di Pulau Jawa. (naskah : mai/foto : mai)
 
 

Home   |   Tentang Kami   |   Halte Berita    |   Halte Manca    |   Sudut Halte    |   Profil    |   Halte Advertorial    |   Halte Wisata    |   Hubungi Kami   |   Registrasi Newsletter
haltebus.com © Copyright 2011 - 2013