Kamis, 14 November 2019 Registrasi NewsLetter
User ID:     Password:  
MENU
 
 
SEJARAH BARU JALAN TOL YANG MEMBUAT TERGAGAP
 
15 Januari 2019


(Jakarta – haltebus.com) Peresmian Jalan Tol Trans Jawa, Kamis (20/12/18) lalu membawa perubahan besar dalam perjalanan masyarakat Indonesia di Pulau Jawa. Sejak pertama diresmikan hingga berakhirnya liburan akhir tahun, pekan lalu, di lini masa media sosial bertebaran informasi yang menunjukkan keterkejutan pemilik akun dengan waktu tempuh yang mereka jalani selama liburan di Pulau Jawa.

Dalam perjalanan ke Jakarta setelah berlibur merayakan Natal di Solo, Sabtu (29/12/18), Riris Marpaung menuliskan, “True story!!! Tengah malam start dari Solo dan sekarang udah sampe Subang ajaaaa... Tinggal puluhan kilometer lagi dah bisa ketemu kasur di rumah yang adalah heaven on earth…”

Status di lini masa akun Riris itu ditulis pukul 05.29. Ini artinya, perjalanan hanya memakan waktu kurang dari enam atau tujuh jam saja. Pengalaman yang belum pernah dirasakan oleh Riris yang rajin berlibur, saat Natal atau Tahun baru tiba, ke kampung halaman suaminya di Solo.

Ketika berangkat dari Jakarta, Sabtu (22/12/18) juga tengah malam, Riris bersama Didiet Haryadi, suaminya, harus merasakan kemacetan panjang di Jalan Tol Jakarta-Cikampek yang masih dibangun. Mereka menghabiskan waktu delapan jam dari Ciledug, Tangerang, sampai Cirebon. Selepas itu, bahagia mewarnai perjalanan keduanya. Jam 10.48 melewati jembatan Kalikuto di Kendal dan perjalanan mereka berakhir di Solo pukul 13.56. “Huwahhhh akhirnya ada flyover di Solo!!!! Saking gak percayanya sampe lupa ambil kamera hahahaha...,” begitu dia meluapkan kegembiraan perjalanannya.

Pengalaman lain juga dibagikan Roy E. Wicaksono. Netizen yang kerap mengunggah perjalanannya naik bus selama beraktivitas di Jakarta ini menuliskan waktu tempuh perjalanan di lini masa akun media sosialnya. “Brunch. 3 jam dari Jakarta. salah satu sate kambing paling enak se NKRI harga mati,” begitu dia menulis di lini masanya pada Selasa (1/1/19) pukul 10.01 saat makan sate kambing di Kota Tegal.

Masih dalam perjalanan yang sama, pada pukul 12.44 dia kembali mengabarkan, posisi terakhirnya di tempat perisirahatan Ungaran. Dari tempat dia beristirahat makan di kota Tegal, hanya menghabiskan waktu tak lebih dari dua jam. Pada pukul 14.46, Roy mengunggah foto di Pabrik Gula Colomadu.

Usai berlibur di seputar Solo dan Yogyakarta, Roy secara rinci menuangkan apa yang dirasakannya saat mengendarai mobilnya melalui jalan tol yang baru diresmikan Presiden Joko Widodo menjelang libur akhir tahun yang lalu. Ada delapan poin yang dicatatnya. Sebagian besar yang ditulisnya sangat berkaitan erat dengan situasi dan perilaku pengendara di jalan tol.

Pertama, dia menilai situasi yang cenderung monoton dan menjemukan sehingga perlu pengendalian diri lebih ketat. Kedua, (mungkin) akibat jenuh situasi yg monoton dan juga belum paham aturan main berkendara di jalan tol akan membuat pengendara lain menjadi kesal. Ketiga, gunakan lajur kiri dan lajur kanan hanya untuk mendahului. Karena menurut dia, aturan di negeri ini adalah melaju di sisi kiri, bukan di kanan.

“Mosok yang sudah berada di lajur kiri dengan kecepatan 80 kpj masih ditembak lampu dan diklaksonin gegara ada yang manteng 70 kpj di lajur kanan,” ujarnya.

Secara berseloroh, dia menyebut soal mahalnya tarif jalan tol. Namun, kata dia, menikmati mahalnya tarif tol itu bukan dengan berjalan berlama-lama dengan kecepatan 70 Km/jam di lajur kanan. Roy dalam lini masa yang sama menyarankan untuk pengendara yang sudah merasa jenuh dan letih lebih baik beristirahat dari pada berjalan lambat di lajur kanan. Jika tempat beristirahat kurang nyaman, dia juga menyebut, banyak tempat yang bisa disinggahi di kota-kota di sepanjang Jalan Tol Trans Jawa.

Di akhir catatannya, Roy juga menuliskan kekaguman perjalanan dari rumahnya di kawasan Pasar Minggu hingga Pabrik Gula Colomadu yang hanya enam jam. Perjalanan dari Colomadu ke Bandung pun hanya memakan waktu tujuh jam saja. “Kawan saya yang jalan malam kaget karena Jakarta - Solo cuma lima jam (21:00-02:00). Sehingga mesti ngaso (istirahat) dinihari di parkiran basement hotel berlantai 30 di Solo,” begitu dia menutup catatannya.



Saat meresmikan Jalan Tol Trans Jawa, Presiden Joko Widodo menyebutkan, kehadiran jalan tol akan menjadi sejarah baru transportasi di Indonesia. Arus penumpang maupun barang lebih mudah, murah dan waktu tempuh bisa terpangkas. Dia mengatakan, masyarakat akan memiliki banyak opsi untuk bepergian, bisa melalui jalan tol, jalan arteri maupun kombinasi keduanya. Dia berharap kemacetan di jalan nasional seperti yang selama ini terjadi bisa dikurangi.

Bahkan, seperti halnya yang disampaikan Roy, Joko Widodo juga sempat menyicipi kuliner di dua titik tempat peristirahatan. Semangatnya dengan adanya jalan tol ini membuat Joko Widodo membuat video-blog terkait makanan yang dicicipi. “Ini sejarah baru transportasi Indonesia, sudah tersambung dari Merak ke Grati di Pasuruan, Jakarta ke Surabaya. Jadi saya berharap sudah tersambungnya ini, akan berdampak kepada ekonomi yang baik,” kata dia.

Bagaimana tanggapan pemilik bus? Firman Fathul Rohman dari Scorpion Holidays berbagi pengalamannya. Dia termasuk yang terkaget-kaget dengan perjalanannya menuju Jember. Walaupun sering berada di jalan raya mengemudikan bus, saat mengantarkan pelanggan yang berwisata ke Jawa Timur, dia beserta awak bus tak menyangka hanya memakan waktu 14 jam untuk perjalanan dari Bekasi ke Jember. Berangkat dari Bekasi jam 20.30, mereka tiba di Jember tak lebih dari jam 11.00.

“Istirahat dua kali, belum pernah dalam sejarah bisa solat subuh di Rumah Makan Kurnia Jatim (Ngawi) dengan posisi berangkat malam dari Bekasi. Kalau tak diimbangi dengan hiburan, tol yang panjang membuat jenuh pengemudi,” katanya yang mengaku ikut mengemudikan bus juga.

Keberadaan jalan tol ini juga memicu semangat pengusaha bus untuk melakukan inovasi. Di Jawa Timur, misalnya, mereka sangat antusias manakala Allison Transmission mengadakan roadshow bus bertransmisi otomatis. Tak hanya perusahaan bus berskala besar, beberapa pengusaha yang memiliki armada di bawah 10 unit pun tak kalah bersemangat menggali informasi tentang bus bertransmisi otomatis.



Herry Kurniawan dari CV Wahana Wisata Transindo Surabaya terlihat serius menyimak penjelasan tentang transmisi otomatis. Saat Tim Engineering PT. Dieselindo Utama Nusa (distributor utama Allison Transmission di Indonesia), Fadli Sahar menjelaskan, dia tampak merekam semua penjelasan. Dia pun mencoba menjalankan bus maju dan mundur, untuk merasakan teknologi bus bertransmisi otomatis. “Kok persis seperti sedan ya. Mungkin bisa terpakai ini sekarang, karena sudah tersambung jalan tolnya,” ujar pria yang memberi label VTransindo pada busnya itu.

Rachmawati dari PO. Jaya Utama mengungkapkan, untuk bus rute reguler yang mereka layani, transmisi otomatis masih harus ditunggu efektifitasnya. Namun, untuk bus wisata yang kerap melalui jalan tol, mungkin bisa dipertimbangkan. “Kami untuk rute seperti Semarang-Surabaya kami masih mau lihat dulu perkembangannya. Untuk jalan tol mungkin cocok,” katanya.

Jalan tol Trans Jawa mengubah pola perjalanan tak hanya dengan kendaraan pribadi tetapi juga bus dengan trayek reguler maupun wisata. Jarak tempuh Jakarta-Semarang kini rerata memakan waktu 4-6 jam dari sebelumnya paling cepat 7-8 jam. Jakarta-Surabaya bisa ditempuh dalam kurun waktu 10-11 jam. Pola perjalanan ini perlu diantisipasi pemerintah dan pengusaha bus, agar keberlangsungan transportasi bus di masyarakat tetap terjaga dan meningkat pelayanannya. (naskah : mai/foto : mai/Biro Pers Sekretariat Presiden)
 
 

Home   |   Tentang Kami   |   Halte Berita    |   Profil    |   Sudut Halte    |   Halte Advertorial    |   Halte Manca    |   Halte Wisata    |   Hubungi Kami   |   Registrasi Newsletter
haltebus.com © Copyright 2011 - 2013