Sabtu, 23 Maret 2019 Registrasi NewsLetter
User ID:     Password:  
MENU
 
 
GIIAS UBAH STRATEGI, PILIH PAMER TEKNOLOGI BUKAN TARGET PENJUALAN
 
07 Maret 2019


(Jakarta – haltebus.com) Pameran Gaikindo Indonesia International Motor Show (GIIAS) 2019 mulai mengukuhkan konsep baru berpameran. Setelah lebih dari 26 tahun berpameran, Gaikindo menetapkan ajang pameran mereka akan lebih menonjolkan teknologi terbaru di industri otomotif Indonesia. “Target pameran ini adalah bagaimana kita bisa menjelaskan tentang transfer teknologi, kita mengkomunikasikan teknologi ke masyarakat secara lebih luas,” kata Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Yohannes Nangoi, di Jakarta, Selasa (26/2/19).

Menurut Nangoi, perkembangan industri otomotif dunia, sangat cepat beberapa tahun terakhir. Dia mencontohkan, teknologi alat komunikasi sejak tahun 1950 sampai tahun 1990-an cenderung lambat, dan memasuki era tahun 2000, perubahan telepon begitu cepat. Hal ini juga terjadi di dunia otomotif. Beragam teknologi dan aplikasinya, kata dia, dibahas dalam pertemuan Organisasi Otomotif Internasional (Organisation Internationale des Constructeurs d’Automobiles-OICA).

Nangoi menjelaskan, isu-isu yang dibahass dalam pertemuan OICA cukup menarik. Menurut dia, di Perancis sendiri, sebagai negara tempat lahirnya OICA, paradigma kendaraan mulai berubah. Setidaknya ada beberapa definisi kendaraan yang saat ini dirumuskan di Perancis. Pertama, kendaraan bermotor harus bisa mengurangi waktu tempuh. Kedua, kendaraan harus bisa zero accident (tanpa kecelakaan). Ketiga kendaraan bisa berjalan tanpa pengemudi. Keempat, kepemilikan mobil juga berubah. “Orang sudah tidak perlu lagi memiliki mobil di garasi, cukup tinggal pesan lewat aplikasi dia bisa pergi dari satu titik ke titik yang lain. Ini sudah terjadi sekarang,” kata Nangoi.

Karena konsep tentang kendaraan bergerak dengan begitu dinamis, lanjut Nangoi, Gaikindo ingin membawa perubahan dunia otomotif untuk ditampilkan di GIIAS 2019. Setiap pabrikan diharapkan menampilkan teknologi terbaru mereka, dan menjadi atraksi menarik pengunjung di GIIAS yang rencananya akan digelar pada 18 – 28 Juli 2019. Pameran Gaikindo ke-27 ini akan mengambil tema Future in Motion.

Menurut Ketua Penyelenggara GIIAS 2019 dari Gaikindo, Rizwan Alamsjah, GIIAS 2019 akan diikuti 25 merek, 19 merek mobil, enam kendaraan komersial dan tujuh sepeda motor. Rizwan menjelaskan, mulai tahun ini mereka sengaja tidak menampilkan anka transaksi. Menurut dia, pada pameran-pameran OICA tidak ada transaksi di dalam pameran, namun karena Indonesia ini unik, maka Gaikindo tidak akan memaksa anggotanya untuk tidak bertransaksi. “Kami sering ditanya di pertemuan OICA, kok ada transaksinya sih? Nah tahun ini kami ingin mengedepankan Future in Motion yang menjadi tema besar,” katanya.

Rizwan menambahkan, tahun ini GIIAS akan secara resmi berlangsung di empat kota besar di Indonesia selain di Tangerang Selatan, dan tahun ini diperkenalkan nama GIIAS Series. Ada di Surabaya, Makassar dan Medan. Menurut Rizwan, Surabaya dipilih sebagai pembuka GIIAS Sereis karena kota ini menjadi salah satu kota terbesar untuk penjualan otomotif. Dia berharap, pembukaan di Surabaya yang akan diikuti 13 merek kendaraan bisa berjalan dengan baik.

Dalam kesempatan yang sama, Project Director Seven Agus Riyadi menjelaskan konsep pameran GIIAS dalam Future in Motion. Sebagai pelaksana GIIAS 2019, kata dia, Seven mengajak peserta pameran untuk menampilkan teknologi terbaru mereka dalam area Beyond Mobility yang mereka siapkan. “Tahun lalu mungkin waktunya agak mepet, banyak peserta yang tidak bisa memanfatkan secara maksimal. Untuk tahun ini, sudah ada beberapa merek yang siap menampilkan teknologi terbaru mereka,” ujarnya.

Agus menjelaskan, sejauh ini GIIAS sudah mencapai beberapa hasil yang menggembirakan. Selain diikuti Diikuti 300 merek dunia, lanjut dia, sejak 2015 pameran ini menjadi ajang meluncurkan produk terbaru pabrikan otomotif. Ada 100 kendaraan yang sudah diluncurkan, enam di antaranya diluncurkan untuk pertama kalinya di dunia. Ada pula empat kendaraan konsep yang dipamerkan.

Yohannes Nangoi berharap, pameran teknologi otomotif ini bisa menjadi ajang kreasi industri otomotif Indonesia menunjukkan kreasinya di tengah perubahan yang cepat. Dalam kesempatan itu dia mengajak semua pihak untuk memberikan kesempatan ahli-ahli otomotif di Indonesia bekerja menciptakan teknologi terbaik.

Menurut dia, ada banyak teknologi yang berbasis lingkungan yang mungkin cocok diterapkan di Indonesia. Dia meminta pemerintah juga membuka wawasan teknologi untuk dunia otomotif. Tidak semua negara di dunia menerapkan kendaraan listrik. Ada banyak hal yang terkait aplikasi kendaraan listrik yang juga dipikirkan negara-negara di dunia. “Di Brasil sekarang ini kendaraannya sudah tidak pakai bensin, pakai Ethanol. Indonesia punya bahan bakar sejenis, ini bahan bakar baru dan terbaru kan. Pemerintah akan mengarah ke sana. Di saat mobil listrik bisa tumbuh, (teknologi) green fuel (bahan bakar nabati) juga ada,” katanya. (naskah : mai/foto : mai/GIIAS)
 
 

Home   |   Tentang Kami   |   Halte Berita    |   Halte Manca    |   Sudut Halte    |   Profil    |   Halte Advertorial    |   Halte Wisata    |   Hubungi Kami   |   Registrasi Newsletter
haltebus.com © Copyright 2011 - 2013