Sabtu, 08 Agustus 2020 Registrasi NewsLetter
User ID:     Password:  
MENU
 
 
MERAWAT PELANGGAN ALA PO RAYA
 
23 Agustus 2011


(Jakarta – haltebus.com) Banyaknya Perusahaan Otobus (PO) Swasta membuat persaingan dalam meraih simpati penumpang juga begitu ketat. Apalagi krisis ekonomi tahun 1997 – 1998 masih dirasakan pengusaha bus. Berbagai upaya dilakukan PO agar roda busnya terus berputar. Dan PO RAYA yang berbasis di Solo memilih cara untuk merawat pelanggannya. “Ada berbagai macam tawaran dari berbagai PO, namun penumpanglah yang menentukan. Karena kami menjual jasa, maka kami harus merawat pelanggan kami,” kata Brata Laksana, Pemilik PO RAYA kepada haltebus.com di kantor perwakilan Pulogadung, Senin (22/08/11).

Mungkin terdengar sedikit janggal: merawat pelanggan. Brata menyatakan, apa yang dilakukan manajemen PO RAYA tidak hanya sekedar melayani. Ada hubungan yang kuat antara pelanggan dan PO RAYA sehingga pelanggan tidak sekedar merasa dilayani, namun juga merasa memiliki dengan kompensasi kenyamanan yang ditawarkan. “Naik PO ini gak cuma nyaman, bus gak menaikkan penumpang sembarangan, berapapun jumlah penumpang berangkat tepat waktu,” ujar seorang penumpang yang enggan disebut namanya.

Tawaran kenyamanan dalam pelayanan PO RAYA ini tidak hanya sekedar slogan. Ada beberapa kelas yang tidak mudah ditemukan di PO-PO lain yang sejurusan. PO RAYA menawarkan tiga kelas, yakni Non AC, Eksekutif dan Super Top.

Setiap kelas memiliki kelebihan masing-masing. Di kelas Non AC, jarak antar kursi cukup lapang di kelasnya dengan jumlah kursi 32 buah dan sandaran kursi juga bisa diatur kemiringannya (reclining seat). Yang lebih penting, ada toilet. Jika dibandingkan, perbedaannya hanya terletak pada penyejuk ruangan (AC) pada kelas VIP untuk PO-PO lain.

Untuk kelas Eksekutif, jumlah kursi hanya 24 buah dilengkapi sandaran kaki. Perjalanan menjadi nyaman karena ruang kaki yang lapang dan kursi dengan busa cukup tebal. Di kelas ini televisi yang biasanya menghiasi kabin kelas eksekutif, dihilangkan oleh manajemen PO RAYA atas permintaan pelanggan.

Sementara, kelas Super Top atau sering dikenal dengan Super Eksekutif menawarkan kursi yang tak hanya lapang untuk kaki penumpang melainkan juga cukup lebar untuk tiap penumpangnya. Jumlah kursi juga hanya 18 unit.

Di masa arus lebaran, bus-bus pariwisata PO RAYA juga dikerahkan. Lagi-lagi dengan mempertimbangkan kenyamanan, bus hanya diisi 32 penumpang. Bedanya dengan bus reguler, pada bus pariwisata tersedia satu unit perangkat televisi.

Ada ciri khas tersendiri yang mudah kita temui di semua unit bus PO RAYA, yakni menggunakan kursi eks pesawat, dengan modifikasi busa yang empuk pada setiap kursinya. Meski bus-bus yang beroperasi tergolong lawas, untuk kenyamanan tak kalah dengan bus-bus lain. “Kami membatasi kecepatan setiap bus agar penumpang merasa nyaman diperjalanan dan mesin bus pun lebih awet. Tidak jarang pelanggan kami komplain jika ada pengemudi kami yang mengemudikan bus tak sesuai kebiasaan yang ada di PO RAYA,” ujar Brata.

Soal perawatan ini, PO RAYA terkenal cukup apik merawat armadanya. Maret 2011 lalu, satu unit bus PO RAYA dipinjam sebuah dealer penyejuk ruang khusus bus untuk ikut Pameran Bus dan Truk Indonesia (IIBT). Penyebabnya adalah, penyejuk ruang yang terpasang pada bus itu diproduksi tahun 1982 dan masih digunakan hingga saat ini.

Merawat pelanggan untuk PO RAYA tak sekedar melayani, namun juga terkait dengan perawatan armada. Tak ketinggalan pula membina hubungan kekeluargaan dengan seluruh karyawan.“Kru bus kami memegang peranan penting dalam berhubungan dengan pelanggan. Tidak sedikit dari kru yang mengenal pelanggan kami. Mereka menjadi ujung tombak kami dalam berinteraksi dengan penumpang. Hubungan kekeluargaan menjadi modal kami,” kata Brata.

Untuk urusan yang satu ini, seorang pengemudi yang tak mau disebutkan namanya berbagi cerita pada haltebus.com. Menurut dia, manajemen PO RAYA memang mengeluarkan aturan yang ketat dalam hal melayani pelanggan. Jika ada pelanggaran berat seperti menaikkan penumpang di jalan atau di luar agen langsung dipecat. “Tapi kesejahteraan kami juga diperhatikan. Jika ada yang sakit semua ditanggung kantor. Pernah ada teman masuk rumah sakit sampai menghabiskan biaya Rp. 7 juta, semuanya ditanggung kantor,” katanya.(mai/foto : mai)

 
 

Home   |   Tentang Kami   |   Halte Berita    |   Profil    |   Sudut Halte    |   Halte Advertorial    |   Halte Manca    |   Halte Wisata    |   Hubungi Kami   |   Registrasi Newsletter
haltebus.com © Copyright 2011 - 2013