Senin, 27 Mei 2019 Registrasi NewsLetter
User ID:     Password:  
MENU
 
 
TRANSAKSI NON-TUNAI UNTUK BUS, SIAP DIAPLIKASIKAN DI JAWA TIMUR
 
22 April 2019


(Jakarta – haltebus.com) Dinas Perhubungan Jawa Timur siap mengoperasikan aplikasi non-tunai untuk bus-bus Antar Kota Dalam Provinsi di wilayahnya. Tahap pertama penerapan akan diberlakukan di bus-bus Patas AC jurusan Surabaya – Malang. “Ini sebagai pilot project kita terapkan terlebih dahulu pada trayek Surabaya-Malang-Surabaya. Trayek ini kita pilih karena jaraknya dekat," kata Sekretaris Dinas Perhubungan Jawa Timur, Arifin Imanadji, Senin (15/4/2019) seperti dikutip dari suryamalang.com.

Adalah PT. Transportasi Teknologi Semesta (TTS) yang menjadi mitra Dinas Perhubungan Jawa Timur dalam menyiapkan infrastruktur transaksi non-tunai ini. Aplikasi yang dibangun itu dinamakan TransTek, yang diharapkan bisa mewadahi transkasi non-tunai sehingga transportasi bus bisa mudah diakses masyarakat. TransTek sendiri merupakan kerjasama PT. TTS dengan PT.  DigiAsia Bios (KasPro) dan PT. Jivan Jaya Telecom (JJ Telecom). Menurut Arifin, penerapan transaksi non-tunai adalah terobosan baru di bidang transportasi umum, khususnya bus karena memang digitalisasi di berbagai bidang kehidupan tak terhindari.

Arifin menambahkan, program penerapan aplikasi digital untuk transaksi non-tunai di atas bus adalah salah satu program yang ingin didorong Pemerinta Provinsi Jawa Timur. Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa memiliki program CETTAR yang merupakan singkatan dari Cepat, Efektif, Tanggap, Transparansi, dan Responsif.

Menurut Direktur PT. Transportasi Teknologi Semesta, Adi H Soewandibio, melalui aplikasi yang dibuat pihaknya, transaksi pembayaran tiket bus bisa menggunakan uang non-tunai. Semantara ini, uang non-tunai dalam bentuk kartu non-tunai yang bisa digunakan baru yang diterbitkan oleh BNI.

Dia menjelaskan, ke depan mereka akan bekerja sama dengan beberapa bank sehingga kartu-kartu non tunai yang ada di masyarakat bisa digunakan. “Program yang dirancang khusus dan dipersiapkan secara matang selama satu tahun ini akan dijalankan menjelang bulan Ramadhan dan dapat diterima dengan baik serta masif oleh masyarakat Jatim,” ujar Adi seperti dikutip dari detik.com.

Pengenalan aplikasi TransTek oleh Dinas Perhubungan Jawa Timur itu dilakukan dalam rapat koordinasi dengan pengusaha bus di Jawa Timur. Ada sembilan perusahaan bus yang memiliki layanan Patas AC di rute Surabaya – Malang. Ada PO. Kalisari, PO. Menggala, PO. Hafana dan PO. HAZ dari Surabaya. Dari Malang ada PO. Medali Mas, PO. Restu, PO. Laksana Anda, PO. Dhana Dhasih,PO. Pelita Mas dan PO. Tentrem.

Pimpinan PO. Kalisari, Vincentius H. Lukito menyambut baik adanya aplikasi ini. Menurut dia, secara transaksi perusahaan bus cukup terbantu. Uang penjualan tiket bisa langsung masuk ke rekening perusahaan, dan tugas kru bus lebih ringan tidak menghitung setoran. “Aplikasinya seperti mesin pembayaran yang ada di outlet atau toko. Penumpang naik, nanti kartunya di tap langsung keluar tiket,” ujarnya menjelaskan.

Namun, Vincent mengingatkan, ada yang perlu diperhatikan saat mesin dan aplikasi pembayaran ini diberlakukan. Harus ada jalan keluar yang tidak merugikan perusahaan bus mana kala penumpang belum memiliki kartu non-tunai. Sebab untuk jurusan Surabaya – Malang ada bus non-Patas yang juga beroperasi di jalur yang sama.

Dia khawatir, jika tidak ada solusi, maka penumpang bus Patas AC bisa berkurang. “Pihak Dinas Perhubungan maunya non-tunai semua, tetapi kalau ada penumpang yang mau naik bus kami, lalu tidak punya kartu bagaimana? Apakah harus kami tolak? Kan pendapatan kami bisa berkurang. Ini kan bus, bukan seperti jalan tol yang memaksa orang mau tidak mau menggunakan kartu. Harusnya ada kebijakan untuk masalah ini,” kata Vincent lagi.

Kebijakan untuk menerapkan transaksi non-tunai sudah disampaikan Kementerian Perhubungan sejak masih dipimpin oleh Menteri Ignasius Jonan. Namun, sampai saat ini belum sepenuhnya transaksi non-tunai dan melalui jaringan internet itu bisa diterapkan. Vincent juga menyebutkan, ketika bus Surabaya – Malang diminta untuk bertransaksi non-tunai, masih ada transaksi di terminal yang masih menggunakan uang tunai. Misalnya pembayaran retribusi setiap bus masuk terminal.

Sementara itu, Pimpinan PO. Menggala, Surabaya, Feby Andrian mendukung gagasan untuk mengurangi penggunaan uang tunai dalam pelayanan transportasi bus. Feby bahkan sangat mendukung kebijakan ini karena perusahaan sangat terbantu dengan sistem non-tunai. “Dengan tidak adanya uang beredar, akan mempersempit peluang kecurangan (di lapangan). Sedangkan dari sisi penumpang akan lebih praktis. Memang harus diadakan sosialisasi dulu supaya penumpang terbiasa dan siap,” katanya.

Senada dengan Vincent, Feby juga berharap, saat transaksi diterapkan ke perusahaan bus, khususnya di dalam bus, maka transaksi tunai di terminal juga diubah menjadi non-tunai. Dia mengatakan, transaksi non-tunai ini membuat pembayaran retribusi menjadi lebih jelas. Dia yakin, mengurangi uang yang beredar sama dengan mengurangi kebocoran keuangan.

Feby mengatakan, pihaknya harus bersiap dengan dampak awal pemberlakukan transaksi non-tunai. Di masa awal penerapan, dia memprediksi banyak penumpang yang tidak siap. Karena itu, dia berharap jajaran Dinas Perhubungan dan TransTek gencar melakukan sosialisasi. Dia juga berharap, di awal penerapan transaksi non-tunai, tidak berpengaruh pada okupansi penumpang. (naskah : mai/foto : TransTek/kompas.id/liputan6.com/malang-post.com/surabaya.tribunnews.com)
 
 

Home   |   Tentang Kami   |   Halte Berita    |   Halte Manca    |   Sudut Halte    |   Profil    |   Halte Advertorial    |   Halte Wisata    |   Hubungi Kami   |   Registrasi Newsletter
haltebus.com © Copyright 2011 - 2013