Minggu, 24 Januari 2021 Registrasi NewsLetter
User ID:     Password:  
MENU
 
 
STANDAR KESELAMATAN BUS ITU PENTING, TAPIā€¦
 
20 Juli 2019


(Ungaran – haltebus.com) Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan terus mengupayakan untuk menghadirkan bus yang aman dan nyaman. Menurut Direktur Sarana Transportasi Jalan, Ditjen Perhubungan Darat, Kemenhub, Sigit Irfansyah, saat ini pihaknya masih berkonsentrasi untuk menyelesaikan permasalahan Over Load and Over Dimension (ODOL) pada angkutan barang.

“Jangan dikira angkutan bus tidak ada ODOL juga… Kami tahu kok ada juga, hanya untuk sementara kami simpan dulu,” ujarnya di sela-sela kunjungan ke Karoseri Laksana di Ungaran, Kabupaten Semarang, Jateng, Kamis (11/7/19).

Sigit mengungkapkan, secara bertahap pihaknya sudah mengumpulkan informasi dan data-data terkait standar keselamatan dan keamanan untuk angkutan bus. Salah satunya terhadap dua kali pengujian yang dilakukan oleh Karoseri Laksana untuk standar keselamatan. Dia mengatakan, banyak informasi dan temuan di lapangan terkait dengan berat bus. Menurut dia, JBI (Jumlah Berat Isi) bus ada yang mulai overload, meskipun dalam kondisi belum diisi penumpang.

Budaya masyarakat, menurut Sigit, ikut berpengaruh menciptakan situasi seperti saat ini. Menurut dia, banyak orang yang inginnya harga yang murah saja. Material untuk membuat bus yang kuat, ringan tapi mahal sebetulnya banyak. Tetapi, lanjut dia, sayangnya yang dipilih di Indonesia adalah material yang murah dan berat. Akibatnya bus menjadi lebih berat. “Busnya sudah berat, bagasinya juga besar. Katanya bisa mengangkut tiga ton. Saya sampaikan ke penguji, nanti dulu kita fokus ke masalah ODOL. Sementara ini, terus terang kami belum menyentuh itu,” ujar Sigit.

Belum lagi masalah tampilan bus yang terkadang menipu masyarakat. Menurut Sigit, banyak ditemukan bus baru terlibat kecelakaan. Setelah diteliti lebih jauh ternyata hanya bodi bus yang baru, sementara chassisnya tidak sama dengan tahun pembuatan bodi bus.

“Sekali-sekali koroseri menolak kalu umur (chassis) sudah lebih dari 10 tahun. Akhirnya kami melakukan kampanye ke sekolah-sekolah karena banyak sekolah-sekolah menggunakan bus pariwisata. Kami sampaikan kalau mau menyewa bus harus cek perusahaannya, cek data kendaraannya, cek umur kendaraannya. Ceknya kemana? Kami sampaikan pula cara mengeceknya. Kalau tidak sesuai, jangan disewa pasti tidak ada ijinnya,” kata Sigit.

Terkait standarisasi keselamatan, menurut Sigit, bukan hal yang sulit bagi Kementerian Perhubungan. Hanya, lanjut dia, penerapan di lapangan dipastikan tidak akan berjalan seperti yang diharapkan. Mengapa? Dia mengungkapkan, harus ada kesepatakan awal standarisasi keselamatan dan keamanan bus dari seluruh karoseri pembuat bus. Investasi industrinya, kata dia, bisa sangat mahal sementara investasi alat uji mungkin murah. Karena itu, harus dilakukan secara bertahap.

Kementerian Perhubungan, lanjut Sigit, akan duduk bersama dengan para pemangku kepentingan untuk angkutan bus, dalam mengupayakan standarisasi keselamatan. Harus ada kesepatakan bersama terkait dengan keselamatan ini agar standar keselamatan bisa diterapkan dan ditaati bersama.

Direktur Teknik Karoseri Laksana, Stevan Arman, menyambut positif rencana pemerintah untuk menghadirkan bus di Indonesia yang memiliki standard keselamatan dan keamanan. Dia menyatakan, Karoseri Laksana bersedia dan sudah menjalin komunikasi dengan berbagi pemangku kepentingan untuk menjadi salah satu “laboratorium” pengujian standar ini.

“Tahun lalu kami melakukan uji UN ECE-R66 atau uji guling. Sejak dilakukan pengujian roll over (guling) itu kami melakukan perbaikan kualitas terhadap hasil pengujian. Minggu lalu kami berdiskusi dengan Balai Pengujian Kendaraan (Kemenhub) untuk membuat fasilitas uji guling di Cibitung,” ujar Stevan menjelaskan.

Stevan juga menambahkan, Karoseri Laksana juga sedang mempersiapkan diagram untuk penempatan kabel terkait sistem kelistrikan pada bus. Belajar dari kasus di PT. Transjakarta, lanjut dia, pihaknya sedang mengupayakan setiap bus memiliki standard penempatan kabel. Setiap bus juga akan dilengkapi dengan diagram penempatan kabel serta penjelasannya sehingga akan mempermudah perawatan.



Di tempat yang sama Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Soerjanto Tjahjono mengapresiasi inisiatif swasta membuat standar untuk keselamatan bus. Dia berharap, suatu saat bus-bus Indonesia bisa beredar di berbagai Negara. “Setidaknya, kita bisa percaya diri. Seperti di Arab Saudi, banyak bus-bus bagus di sana. Banyak juga Warga Negara Indonesia di sana. Tidak ada salahnya jika suatu saat nanti orang Indonesia naik bus buatan Indonesia di Arab Saudi,” katanya. (naskah : mai/foto : mai)
 
 

Home   |   Tentang Kami   |   Halte Berita    |   Profil    |   Sudut Halte    |   Halte Advertorial    |   Halte Manca    |   Halte Wisata    |   Hubungi Kami   |   Registrasi Newsletter
haltebus.com © Copyright 2011 - 2013