Selasa, 19 November 2019 Registrasi NewsLetter
User ID:     Password:  
MENU
 
 
PEREMPUAN MANIS DI ANTARA OLI DAN MESIN? SIAPA TAKUT
 
26 Agustus 2019


(Jakarta – haltebus.com) Rambut panjang perempuan kelahiran Malang ini tak mengurangi aktifitasnya sehari-hari. Lebih sering diikat, terkadang digelung atau juga dibiarkan terurai. Seperti yang dilakukannya Kamis (22/8/19). Tanpa sungkan Apriliani D. Lestari, salah satu pewaris perusahaan bus terbesar di tahun 1990-an, di Jawa Timur, PO. AKAS (Ali Karman Amat Sekeluarga).

Dalam akun media sosialnya, perempuan yang akrab disapa Aprillia atau April ini memasang foto tengah berdiskusi dengan salah satu mekanik busnya. Tanpa sungkan dia berdiskusi sambil berjongkok di antara mekanik, oli dan komponen mesin bus. Sejak empat tahun terakhir, arsitek interior lulusan La Salle Collage ini bersama adiknya Nisrina Tria F, berdua memimpin PO. AKAS II yang bertransformasi menjadi AKAS Green.

“Saya terjun ke bisnis transportasi bus ini di latar belakangi oleh keluarga yang memang bergerak di bidang ini secara turun temurun. Jadi natural saja mengikuti kewajiban yang seharusnya diteruskan. Yang saya rasakan di awal terjun ke bisnis ini.... "Ya Surprise". Langkah awalnya? Ya saya harus terjun sendiri langsung ke lapangan sambil mempelajari lagi detailnya,” ujar Aprillia.

Menggeluti dunia usaha yang sangat kental dengan lingkungan lelaki ini tak membuatnya jengah. Bahkan, April mengaku, semakin mengenal dunia transportasi bus semakin tertantang. Dia memiliki semangat agar PO. AKAS Green di bawah bendera PT. Hartria Akas Green Sejahtera bisa berkembang. Alasannya cukup sederhana, “Dapat selalu menyejahterakan orang-orang yang ikut mendukung perusahaan kami.”

Berbagi tugas dengan adiknya, Aprillia memilih mengurusi operasional dan hal-hal yang terkait teknis lainnya. Sementara, Tria yang menjadi pewaris sekaligus pemilik PO. AKAS Green, mengurusi manajemen yang terkait dengan keuangan, pemasaran, serta hal-hal administrasi lainnya. Keduanya kompak dan menjalankan usaha warisan yang pernah menjadi kebanggaan warga Probolinggo dan Jawa Timur itu.

April memiliki kiat khusus menjalankan usaha, yang jauh dari latar belakang pendidikannya. Dia sadar, pekerjaan mengurusi operasional armada bus banyak menguras tenaga dan pikirannya. Namun, ada satu kunci agar setiap pekerjannya bisa diselesaikan.

“Kita wajib mencintai apa yang kita kerjakan. Karena jika tidak ada passion atas apa yang kita kerjakan dan geluti, nanti malah jadi banyak merasakan dukanya. Bekerja itu memang butuh kerja keras dan menguras otak atau pikiran. Akan tetapi jika kita bekerja juga dari hati, kita tidak akan mudah menyerah jika kita dihadapkan oleh hal-hal yang tidak sesuai keinginan kita,” ujarnya membagi pengalamannya.

Tidak mudah mengelola lebih dari 50 armada bus AKDP di Jawa Timur dan 10 armada bus pariwisata. Kompetisi saat ini cukup ketat, selain berkompetisi dengan perusahaan bus lain, perusahaan bus keluarga AKAS yang lain, juga berkejaran dengan waktu. Beberapa tahun ini, PO. AKAS Green juga tengah berupaya meremajakan armadanya. Ada armada bus pariwisata, ada juga bus trayek reguler.

Dalam hal teknis, persaingan ini membutuhkan waktu, tenaga dan biaya yang harus diperhatikan. Untungnya, selain kompak membangun kerja sama bersama adik tercinta, Aprillia juga membangun kekompakan seluruh tim. Dalam hal usaha, lini pemasaran, administrasi dan keuangan kerap mengadakan rapat untuk menjaga arah manajemen. Sementara, April sendiri sering mengecek armada bus, tiga kali seminggu keliling garasi dan melihat satu per satu bus yang tengah diperbaiki. Tak jarang, mekanik dan kru bus, sebagai lini terdepan di sisi operasional, juga dikumpulkan.

Sentuhan perempuan di antara dunia lelaki ini, sedikit demi sedikit diterapkan. Komunikasi dengan seluruh karyawan di berbagai tugasnya juga dijalin. Banyak mendengarkan, menurut April, menjadi salah satu cara dia bisa memetakan masalah. Dia mengakui, salah satu tantangan yang tidak mudah adalah bagaimana menjalin komunikasi dan pemahaman bersama orang-orang yang terlebih dahulu terjun dalam menangani PO. AKAS Green.

Beragam kiat juga ditempuh untuk menyatukan visi PO. AKAS Green agar misi mereka menjadi penyedia jasa transportasi terbaik di Jawa Timur dan Indonesia paa umumnya bisa terwujud. Salah satunya mengikutsertakan kru bus dam kompetisi agar ada kebanggaan yang tertanam di antara kru bus, juga PO. AKAS Green ketika prestasi bisa ditorehkan.

Peka terhadap lingkungan menjadi pegangan Aprillia menyelami bisnis transportasi bus yang keras dan unik. Tanpa ada kepekaan, lanjut dia, komunikasi tidak berjalan dengan baik. Dia juga mengaku harus banyak belajar menggali informasi apapun terkait dunia transportasi bus, terutama hal-hal baru yang mungkin bisa diterapkannya kelak.

Salah satunya ketika tim Allison Transmission datang membawa bus bertransmisi otomatis bertandang ke garasinya di Probolinggo akhir tahun lalu. Tanpa sungkan dia banyak bertanya dan menggali informasi. “Maaf ya pak saya banyak tanya, mungkin sekarang ini belum ada kebutuhan, tapi saya berterima kasih sudah bisa nambah wawasan baru,” katanya saat itu.

Duet Aprillia dan Tria mewakili generasi milenial di tengah usaha transportasi yang masih mengandalkan pola konvensional dan konservatif. Mereka berdua memilih terobosan-terobosan dari usaha khas milenial yang kreatif dan inovatif dengan semangat juang yang tinggi. Setidaknya, dalam empat tahun terakhir nuansa hijaunya terasa berbeda. Jika dulu warna hijau hanya ada pada tulisan AKAS, kini armada bus PO. AKAS Green bisa dikenali dari tulisan AG dan warna hijau yang cerah. Untuk bus pariwisata, bahkan dihiasi dengan gambar bunga dan kupu-kupu. (naskah : mai/foto : dok.pribadi/mai)
 
 

Home   |   Tentang Kami   |   Halte Berita    |   Profil    |   Sudut Halte    |   Halte Advertorial    |   Halte Manca    |   Halte Wisata    |   Hubungi Kami   |   Registrasi Newsletter
haltebus.com © Copyright 2011 - 2013