Jumat, 06 Desember 2019 Registrasi NewsLetter
User ID:     Password:  
MENU
 
 
TOL TRANS SUMATERA BERTAMBAH, PERJALANAN MENJADI RINGKAS
 
29 November 2019


(Jakarta – haltebus.com) Presiden Joko Widodo meresmikan Tol Trans Sumatera di ruas Terbanggi Besar – Pematang Panggang – Kayu Agung, Jumat, (15/11/19). Peresmian ini menandai beroperasinya ruas sepanjang sekitar 330 Km dari Bakauheni hingga Kayu Agung.

“Tol dari ruas Pematang Panggang sampai Kayu Agung ini sepanjang totalnya 189 kilometer. Ini adalah jalan tol terpanjang yang pernah saya resmikan. Kita harapkan nanti akan disambung lagi dari Kayu Agung ke Palembang dan Palembang ke Betung di Banyuasin,” kata Presiden dalam sambutannya di di gerbang tol KM 240, Kabupaten Mesuji.

Hingga tahun 2024, Pemerintah menargetkan pembangunan 2.700 Km jalan tol di seluruh Pulau Sumatera, mulai Banda Aceh hingga Bakauheni. Joko Widodo yakin, pembangunan jalan tol ini akan membawa perubahan baru di masyarakat Sumatera. Salah satu contoh, adalah waktu tempuh yang semakin singkat. Jarak Bakauheni – Palembang yang awalnya ditempuh dalam waktu 10-11 jam, kini diperkirakan bisa ditempuh hanya 3-5 jam saja.



“Kita ini ingin kecepatan dalam jaringan logistik kita. Dulu dari Lampung ke Palembang berapa jam? Bisa 10 jam, 9 jam, ada yang ngomong 11 jam. Sekarang 3 jam. Itu yang namanya kecepatan dan efisiensi,” jelasnya.

Joko Widodo mengungkapkan, pembangunan jalan tol memiliki banyak arti dan manfaat untuk masyarakat. Dia menyatakan titik-titik pertumbuhan ekonomi baru bisa tercipta. Ada perbaikan jaringan logistik. Kepala Daerah, lanjut Presiden, seharusnya bisa memanfaatkan perkembangan ini.

“Saya tadi sampaikan ke Gubernur, Bupati, dan Walikota. Menyambungkan ke kawasan-kawasan wisata, ke sentra-sentra produksi perikanan, perkebunan, pertanian sehingga muncul titik-titik pertumbuhan ekonomi baru. Termasuk juga ke zona-zona industri, semuanya. Ini tugasnya gubernur, bupati, wali kota ke sana. Kalau gak mampu, ya (nanti) pusat lagi,” ujarnya.

Jika pemerintah daerah serius, maka jalan-jalan Provinsi, jalan Kabupaten/Kota akan menyesuaikan mobilitas orang dan barang. Menurut Joko Widodo, bahkan jalan pemukiman atau perkampungan bisa berkembang menjadi jalan Kabupaten/Kota, jalan Kabupaten/Kota bisa menjadi jalan Provinsi dan jalan Provinsi bisa menjadi jalan Nasional. Artinya, peningkatan jalan akan mengikuti perkembangan pola mobilitas yang tercipta dengan keberadaan jalan Tol Trans Sumatera.









Kecepatan mobilitas orang dan barang, menurut Presiden, menimbulkan efesiensi biaya produksi. Memangkas biaya logistik sekaligus meningkatkan daya saing produk masyarakat. Pertumbuhan ekonomi di daerah baru, lanjut dia, akan membuka lapangan kerja baru pula.

“Ya diteruskan. Artinya diteruskan sampai ke Aceh karena di Aceh pembebasan tanah sudah 52 persen. Di sana pun juga sudah mulai nanti sambungnya di tengah enggak tahu di mana sehingga mobilitas barang, mobilitas orang, jaringan logistik kita semakin baik, stok infrastruktur kita akan semakin meningkat sehingga competitiveness index kita juga akan sangat baik,” Joko Widodo optimistis.

Keberadaan jalan Tol Trans Sumatera menjadi tantangan baru untuk pengusaha bus di sana. Seperti halnya di Jawa dengan Tol Trans Jawa yang sedang berkembang, perusahaan bus tengah berlomba mengisi rute-rute yang mulai menarik minat masyarakat naik bus. Ada rute Jakarta – Solo, Jakarta – Surabaya – Malang maupun Jakarta – Madura yang mulai meningkat. “Alhamdulillah, sekarang setiap akhir pekan bus kami ramai. Bahkan ada jam keberangkatan tambahan jam 18.00 dari Pulogebang menuju Surabaya,” kata Yudi, staf penjualan tiket PO. Pahala Kencana di Terminal Pulogebang kepada haltebus.com.

Meski baru 300-an Km Tol Trans Sumatera yang beroperasi, sejumlah perusahaan bus pun sudah mulai melirik rute-rute jauh. Seperti PO. Sempati Star yang mulai mengoperasikan armada bus Medan – Jakarta. “Ada bus kami yang double-decker ke Jakarta juga. (okupansi) Penumpangnya cukup bagus. Jika ada peluang mungkin kami akan mengarahkan pengembangan usaha untuk jarak jauh. Selama ini kan baru Medan – Banda Aceh,” kata Aven Rosch beberapa waktu lalu.

PO. Siliwangi Antar Nusa (SAN) sudah lebih dahulu mengisi rute Pekanbaru – Blitar dengan bus 3-axle yang memiliki panjang 13,5 meter. Lima unit bus yang mereka operasikan, memiliki okupansi rata-rata di atas 70 persen. Dalam dua minggu pertama sejak dioperasikan, satu dari lima unit bus itu mencatat keterisian 50 penumpang dari kapasita total 52 kursi. “Akhir tahun ini kami mengoperasikan lima armada baru Mercedes-Benz OC 500 RF-2542 untuk Bengkulu – Pekanbaru,” kata Direktur Utama PO. SAN, Kurnia Lesani Adnan.

Dua perusahaan bus dari Sumatera itu, PO. Sempati Star dan PO. SAN, tercatat memiliki armada bus bertenaga besar, dia atas 300 HP, yang saat ini tengah naik daun. Kapasitas mesin yang besar, yakni di atas 9 liter, diyakini mampu melaju di jalan tol yang panjang dengan putaran mesin yang rendah, namun tenaga melimpah. Karakter yang dibutuhkan saat perusahaan bus mengandalkan armada yang memiliki ketahanan operasional yang panjang.

Coba kita hitung bersama. Jarak Banda Aceh – Bakauheni sepanjang 2.340 Km, jika mengacu pada peta digital, bisa ditempuh dalam 2 hari 7 jam (55 jam). Jika jalan tol terwujud, dengan asumsi kecepatan kendaraan 100 km/jam, perjalanan di atas kertas bisa ditempuh dengan waktu antara 24 – 30 jam saja. Nyaris separuh dari asumsi awal. Di saat itu pula, pola mobilitas orang maupun barang akan berubah, seperti yang disampaikan Presiden Joko Widodo. (naskah : mai/foto : mai/Biro Pers Setpres)
 
 

Home   |   Tentang Kami   |   Halte Berita    |   Profil    |   Sudut Halte    |   Halte Advertorial    |   Halte Manca    |   Halte Wisata    |   Hubungi Kami   |   Registrasi Newsletter
haltebus.com © Copyright 2011 - 2013