Sabtu, 08 Agustus 2020 Registrasi NewsLetter
User ID:     Password:  
MENU
 
 
JALAN TOL PERTAMA DI KALIMANTAN DIRESMIKAN
 
19 Desember 2019


(Jakarta – haltebus.com) Presiden Joko Widodo meresmikan jalan tol Balikpapan-Samarinda (Balsam) seksi II, III, dan IV. Peresmian dipusatkan di Gerbang Tol Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Selasa, (17/12/19). Tiga seksi ruas tol itu mengawali beroperasinya jalan tol dengan total panjang yang yang seharusnya mencapai hampir 100 Km ini. “Jadi kurang dua seksi lagi, yaitu seksi I dan seksi V. Tapi tadi saya menanyakan kepada Dirut Jasa Marga ini akan diselesaikan nanti Insya Allah paling lambat April 2020,” ujar Presiden yang akrab disapa Jokowi itu.

Tiga seksi ruas jalan tol yang diresmikan sepanjang 58,7 Km. Secara keseluruhan lima seksi pembangunan jalan tol itu memiliki panjang total 99,3 Km. Dua seksi yang belum diresmikan 31,6 Km, lebih dari separuh panjang jalan tol yang sudah diresmikan. Jarak antara Balikpapan ke Samarinda adalah 116 Km. Sebelum ada jalan tol bisa ditempuh tiga sampai empat jam, tergantung situasi arus lalu-lintas.

Jalan tol Balikpapan-Samarinda ini merupakan jalan tol pertama di Pulau Kalimantan. Mobilitas masyarakat di Kalimatan Timur yang cukup tinggi ada di antara Balikpapan dan Samarinda. Balikpapan menjadi akses masuk ke Kalimantan Timur, sementara Samarinda adalah ibukota Provinsi Kalimantan Timur. Dengan dibangunnya jalan tol tersebut, Jokowi berharap jalan tol itu bisa mendorong perkembangan wilayah. Kecepatan dan efisiensi mobilitas orang maupun barang yang didapat, bisa menambah daya saing daerah.

“Yang biasanya dari Balikpapan-Samarinda, Samarinda-Balikpapan itu memakan waktu kurang lebih 3 jam, 6 jam PP (pergi-pulang), bila menggunakan jalan tol yang ada sekarang ini paling 1 jam atau 1 jam seperempat. Sehingga, sekali lagi, kecepatan, efisiensi itu betul-betul bisa kita dapatkan,” katanya.

Jokowi menjelaskan, jalan tol ini akan memperlancar konektivitas antara dua pusat pertumbuhan di Kalimantan Timur. yaitu Samarinda sebagai pusat pemerintahan dan Balikpapan, yang merupakan kota yang menjadi pusat kegiatan ekonomi bisnis. Jalan tol Balsam menjadi penghubung yang menurut Jokowi, bisa saling melengkapi untuk pengembangan wilayah Kalimantan Timur.

Dia menjelaskan, kini terbuka peluang pengembangan kawasan-kawasan produksi, seperti industri di sektor kelapa sawit, komoditas batu bara, minyak, gas, dan komoditas pertanian. Jalan tol menjadi akses utama kawasan produksi dengan kawasan distribusi.

Hal yang penting lain yang tidak dibisa diabaikan, kata Jokowi, jalan tol Balsam akan menjadi akses masuk ke kawasan inti ibukota negara yang baru. Dalam sambutannya, dia mengungkapkan harapannya, agar pada tahun 2020 akses jalan menuju kawasan ibukota negara yang baru mulai disiapkan dan terkoneksi dengan jalan tol itu. “Kita harapkan menjadi nilai plus karena dengan adanya jalan tol ini tersambung dua bandara, yang berada di Samarinda, Airport Pranoto, dan Bandara Sepinggan di Balikpapan,” ujarnya menegaskan.

Dampak jalan tol Balsam ini terhadap kelangsungan bisnis transportasi bus masih harus diuji. Apalagi jika Presiden Jokowi menyebut bisa mempersingkat waktu tempuh. Sepanjang tahun 2019, pemberitaan di media Kalimantan Timur menyebutkan, bisnis transportasi bus melesu, tingkat keterisian bus juga menurun. Kepala Seksi Operasional Dinas Perhubungan Kaltim, Abdul Rahman mengungkapkan, dari 19 perusahaan, ada 100 unit armada bus yang terdaftar melayani rute Balikpapan-Samarinda. Namun, hanya 60-70 unit bus saja yang aktif beroperasi.

“Armada tidak senyaman yang diharapkan penumpang. Pelayanan masih sangat rendah sementara penumpang menuntut kenyamanan dalam pelayanan angkutan. Pengguna pelayanan angkutan bus menurun akhir-akhir ini karena sarana dan prasarana yang kurang memadai,” kata Abdul Rahman seperti dikutip dari kaltim.idntimes.com, Kamis (23/5/19).

Suryani dari PO. Trans Kaltim menjelaskan, perusahaan bus telah berusaha meningkatkan kenyamanan penumpang. ”Bus sudah disiapkan fasilitas bagus tapi memang penumpangnya yang kurang. Gak seperti tahun-tahun lalu, sih. Jauh sekali penurunannya (jumlah penumpang). Hari ini saja 6 bus tidak masuk karena tidak ada penumpang. Sepi sekali,” katanya menjelang musim libur Idul Fitri yang lalu.

Dia menjelaskan, setiap harinya bus-bus yang beroperasi haru memenuhi jumlah penumpang minimal dalam satu bus. Setidaknya, ada 13 penumpang, bus bisa diberangkatkan. Bahkan, tidak jarang armada bus tertahan hingga lebih dari satu hari di terminal karena penumpang tidak mencukupi target minimal. (naskah : mai/foto : Biro Pers Setpres/kaltim.idntimes.com)
 
 

Home   |   Tentang Kami   |   Halte Berita    |   Profil    |   Sudut Halte    |   Halte Advertorial    |   Halte Manca    |   Halte Wisata    |   Hubungi Kami   |   Registrasi Newsletter
haltebus.com © Copyright 2011 - 2013