Minggu, 12 Juli 2020 Registrasi NewsLetter
User ID:     Password:  
MENU
 
 
TAHUN 2020, SIAPKAN STRATEGI UNTUK PENINGKATAN VOLUME PELANGGAN
 
06 Januari 2020


(Jakarta – haltebus.com) PT. Transjakarta bergerak menuju transportasi modern yang mandiri dan menjadi pilihan masyarakat Jakarta dan sekitarnya. Mulai tahun 2020, perusahaan transportasi milik Pemprov DKI Jakarta itu menggiatkan gerakan naik transportasi mandiri untuk terus memperbanyak masyarakat Jakarta dan sekitarnya menaiki transportasi publik, khususnya yang mereka kelola.

“Jumlah pelanggan tertinggi per 16 Desember 2019, hari Senin terakhir sebelum liburan adalah 998.658 pelanggan, kurang sedikit lagi sejuta. Ini pencapaian yang Alhamdulillah sekali, menunjukkan bahwa mental masyarakat kita bisa diubah, mulai naik transportasi publik,” kata Direktur Utama PT. Transjakarta, Agung Wicaksono, Senin (30/12/19).

Agung menjelaskan tahun 2019 adalah tahun pondasi integrasi, yang dimulai saat Kereta Mass Rapid Transit (Moda Raya Terpadu-MRT) beroperasi. Dia mengungkapkan, PT. Transjakarta mengintegrasikan sejumlah titik yang bersinggungan baik dengan MRT maupun Lintas Rel Terpadu (Light Rail Transit-LRT). Sepanjang 2019 ini jaringan Transjakarta sudah terhubung antar halte dan stasiun LRT di Halte Pemuda Rawamangun, Halte Tosari dan Halte Bundaran HI terintegrasi dengan stasiun MRT.

Selain itu di sisi lain, sebagai BUMD Pemprov DKI Jakarta, lanjut dia, PT. Transjakarta juga memperluas cakupan layanan melalui Program JakLinkO yang sudah menjangkau perumahan. Data tahun 2019, jaringan yang dikelola PT. Transjakarta sudah menjangkau 8-10 warga. “Artinya dalam areal 500 meter jalur Mikro Trans yang sudah melayani perumahan, ada 8-10 warga yang menggunakan layanan JakLinko Transjakarta, seperti yang menjadi program pak Gubernur Anies Baswedan,” ujar Agung.

Menurut Agung, capaian jumlah pelanggan di tahun 2019 juga tercatat yang tertinggi sejak Transjakarta diluncurkan tahun 2004. Naik tiga kali lipat. Tercatat 262 juta pelanggan per 29 Desember 2019. “Sekarang ini baru 25 persen pergerakan masyarakat menggunakan angkutan umum di Jakarta. Sementara tahun 2030 ditargetkan 60 persen pergerakan masyarakat naik angkutan umum,” katanya menjelaskan.

Dia menambahkan, target pergerakan masyarakat menggunakan angkutan umum tidak dapat dicapai tanpa adanya integrasi antar angkutan umum. Karena itu, Transjakarta menerapkan beberapa strategi untuk menghadapi sekaligus meningkatkan volume pengguna layanannya. Menurut Direktur Pelayanan dan Pengembangan PT. Transjakarta, Achmad Izzul Waro, ada 20 operator dengan total armada, termasuk milik PT. Transjakarta, sebanyak 3.888 unit bus yang melayani 262 rute di Jakarta dan sekitarnya.









Dia mengungkapkan, PT. Transjakarta berbagi peran dengan operator dalam melayani masyarakat Jakarta, karena armada swakelola mereka hanya 40 persen dari total armada yang bergabung dalam Transjakarta maupun JakLinko. “Kami intens berkomunikasi dengan pemilik bus, baik bus besar, bus sedang (Mini Trans) maupun bus kecil (Mikro Trans). Kami sosialisasikan skema kerja sama dalam layanan,” ujar Izzul.

Dalam kesempatan itu, Agung juga menambahkan, mulai tahun 2020, petugas layanan di atas bus (PLB) secara bertahap dikurangi. Masyarakat diharapkan secara mandiri bisa mencari informasi yang sudah disediakan PT. Transjakarta melalui petunjuk yang ditempatkan di halte-halte. Petugas layanan di atas bus akan digeser ke halte-halte untuk membantu pelanggan yang membutuhkan informasi. “Ada 4.000 (orang) lebih PLB, akan bergeser dari PLB on board (di dalam bus) ke PLB off board (di luar bus). Tidak ada jumlah yang berubah komposisi karyawan di Transjakarta,” begitu Agung menegaskan.









Kemandirian ini bagian dari upaya PT. Transjakarta menyejajarkan diri dengan layanan transportasi yang berlaku standar di seluruh dunia. Perubahan masyarakat Jakarta dan sekitarnya yang mulai memilih Transjakarta itu, diganjar dengan Revolusi Mental Award yang diraih PT. Transjakarta. Kementerian Pembangunan Manusia dan Kebudayaan menganugerahkan penghargaan itu pada 22 Desember 2019 lalu.

Strategi PT. Transjakarta lainnya untuk meningkatkan volume pelanggan adalah dengan penambahan titik integrasi antar moda. Menurut Direktur Teknik PT. Transjakarta, Yoga Adiwinarto. Dia mengungkapkan ada beberapa titik integrasi yang bisa direaliasikan. Saat ini, kata dia, sedang dibangun titik integrasi dengan LRT di Halte Dukuh Atas 2. “Sementara sedang dalam proses desain untuk halte CSW, di titik ini kami mencoba mengintegrasikan layanan Transjakarta Koridor 13 dengan MRT yang sama-sama di atas. Kami menyebutnya dengan Cakra Selaras Wahana,” katanya.

Sementara itu, lanjut dia, ada beberapa titik lain yang sedang dikaji untuk proses integrasi stasiun LRT, baik di Koridor Bekasi - Jakarta maupun Cibubur - Jakarta. Selain di titik Dukuh Atas, lanjut Yoga, ada titik integrasi di Cawang yang masih dalam proses, dan beberapa titik lainnya yang masih belum dibicarakan.

Dalam kesempatan itu, Yoga juga mengungkapkan, harapan PT. Transjakarta untuk bisa segera mengoperasikan bus listrik di Tahun 2020. Dia menjelaskan, proses untuk menjalankan bus listrik ini membutuhkan waktu dan prosedur yang panjang. Ditargetkan Tahun 2020 bisa direaliasikan. Satu lagi inovasi tim teknik PT. Transjakarta yakni menghidupkan kembali bus yang bisa membawa sepeda yang dinaiki pelanggan. “Sementara ini baru diujicoba dan tersedia di bus Royal Trans. Adanya layanan ini diharapkan pelanggan dari rumah bisa naik sepeda sampai ditujuan, turun dari bus bisa melanjutkan perjalanan ke kantornya naik sepeda,” demikian Yoga menjelaskan. (naskah : mai/foto : mai/dok. Transjakarta)
 
 

Home   |   Tentang Kami   |   Halte Berita    |   Profil    |   Sudut Halte    |   Halte Advertorial    |   Halte Manca    |   Halte Wisata    |   Hubungi Kami   |   Registrasi Newsletter
haltebus.com © Copyright 2011 - 2013