Jumat, 04 Desember 2020 Registrasi NewsLetter
User ID:     Password:  
MENU
 
 
AKHIRNYA, MESIN HINO CAPAI SATU JUTA KM TANPA TURUN MESIN
 
23 Februari 2020


(Jakarta – haltebus.com) PT. Hino Motors Sales Indonesia (HMSI) mengumumkan ketahanan mesin bus mereka yang bisa mencapai satu juta km tanpa overhaul/perawatan besar yang biasa disebut turun mesin. Menurut Sales & Promotion Director PT. HMSI, Santiko Wardoyo, ketahanan ini membuktikan mesin Hino bisa diandalkan. “Kini sudah terbukti Hino andal dan jagoan cari duit. Mau cari duit yang silahkan beli Hino,” katanya sambil berseloroh, Kamis (23/1/20).

Santiko mengungkapkan, capaian satu juta Km diraih Hino RN 285, armada bus milik PO. Sinar Jaya. Bahkan, selama beberapa tahun terakhir, ketika jalan tol di Jawa sudah terhubung, ketahanan mesin J08E-VT semakin teruji untuk jalan yang panjang. Dia sempat menyinggung keraguan terhadap produk Hino yang kerap disebut tidak tahan banting dan lemah untuk melewati jalan tol yang panjang.

Dia menambahkan, mesin J08E-VT adalah mesin commonrail yang mencapai satu juta km tanpa overhaul, yang dalam dua tahun ini mengkonsumsi bio-solar B20. Selain PO. Sinar Jaya, kata dia, ada PO. Harapan Jaya dan PO. Kramatdjati yang juga menggunakan bus Hino RN 285 manual yang beroperasi di Tol Trans Jawa tanpa masalah. “Nah tentang engine commonrail. Kami merupakan produsen pertama yang sejak tahun 1995 membuat commonrail. Kami menggunakan di Hino RN 285, ini sudah mencapai satu juta Km tanpa overhaul, sudah menggunakan bio-solar B20 selama dua tahun,” kata Santiko bersemangat.









Menurut Santiko, mesin Hino yang mencatatkan jarak tempuh satu juta Km tanpa overhaul adalah sebuah prestasi bagi mereka. Dia optimis, Hino akan tetap menjadi pemimpin pasar kendaraan niaga di kategori bus. Dia mengungkapkan, belakangan sejak sejumlah ruas tol terhubung di Pulau Jawa, sejumlah serangan dari mulut ke mulut mendera mereka. Karena itu, jajaran Hino Indonesia membuktikannya dengan catatan empiris yang bisa dipertanggungjawabkan.

Wajar Hino Indonesia berusaha mempertahankan penjualan, sebab sebagai pemimpin pasar di kategori bus, mencatat 1.013 unit. Walaupun ada penurunan volume penjualan dari 1.538 (2017) dan 1.358 unit (2018) namun ada kenaikan presentase penjualan tahun 2019, masih menguasai 74,5 persen pasar. Santiko yakin, kebutuhan bus masih didasari pada biaya perawatan yang efisien dan keandalan produk.

“Bus kami masih leading, market share tetap kami pegang. Walaupun kami mendapatkan serangan bertubi-tubi dari kompetitor A dan B dengan cc (baca : kapasitas mesin) yang besar, tetapi tetap sebagai kendaraan yang mencari duit tetap saja (pengusaha) pakai Hino karena biaya perawatan yang efisien, lebih murah dibandingkan rekan-rekan merek lainnya,” ujar Santiko.









Apa saja yang dibuktikan oleh Hino Indonesia? Menurut Santiko pihaknya mengikuti perkembangan operasional harian produk andalan mereka Hino RN 285 manual. Sejak ada jalan tol dan pengoperasian Tol Trans Jawa, dia mengungkapkan, melakukan serangkaian pemantauan yang ketat. Demi mematahkan anggapan mesin dengan kapasitas oli yang lebih kecil tidak tahan panas, tim PT. HMSI memantau temperature mesin dalam kondisi dioperasikan siang hari. Pada serangkaian pemantauan, rata-rata temperatur di dalam mesin ada di angka 106º Celcius, dengan angka tertinggi pada 119,º Celcius pada saat kecepatan bus dipacu di atas 100 km/jam. Padahal temperatur yang disebut pada ada pada angka 230 º Celcius.

Bagaimana dengan suhu mesin? “Suhu mesin kami paling tinggi hanya 97º C, masih di bawah standar. Dengan demikian kami yakin, RN 285 yang hanya dengan oli 12-13 liter mampu dan bisa dipakai untuk Tol Trans Jawa. Ini hasil tes kami, ini sudah dijalankan di siang hari,” begitu Santiko menjelaskan.

Tak hanya sampai di situ, Santiko juga membeberkan perbandingan angka biaya perawatan dengan kompetitornya. Dia mengklaim RN 285 manual perawatannya juga lebih murah. Menurut dia, perawatan per kilometer Hino RN 285 hanya Rp. 34 ribu, sementara merek lain biaya perawatannya Rp. 155 ribu. “You (anda) bisa bayangkan. Jadi memang cocok kalau mau cari duit (uang) ya Hino. Memang ada yang cari gengsi, ada yang cari duit. Nah ini yang paling banyak yang cari duit, karena itu market share-nya tinggi,” ujarnya membanggakan produknya.



Dalam kesempatan itu, tak hanya keunggulan produk yang diungkapkan Santiko, ada juga program yang bisa mendorong keselamatan berkendara. Ada program Driver Competition yang akan berlanjut di tahun 2020, juga ada program Training For Trainer. Selain mengingatkan kemampuan pengemudi melalui kompetisi, dia menyatakan, Hino Indonesia juga mendorong instruktur-instrukur yang bisa ikut menularkan kesadaran keselamatan di jalan raya. Dalam beberapa kesempatan dia selalu menyebut, Hino secara moral ikut bertanggungjawab atas keselamatan di jalan raya di Indonesia karena lebih dari 300 ribu unit produk Hino tersebar dari Sabang sampai Merauke. (naskah : mai/foto : mai)
 
 

Home   |   Tentang Kami   |   Halte Berita    |   Profil    |   Sudut Halte    |   Halte Advertorial    |   Halte Manca    |   Halte Wisata    |   Hubungi Kami   |   Registrasi Newsletter
haltebus.com © Copyright 2011 - 2013