Banner Top

(Jakarta – haltebus.com)  PT. Arion Indonesia Transport ikut berpartisipasi dalam program pemerintah untuk standarisasi keamanan kesehatan di sektor pariwisata. Perusahaan bus yang banyak bergerak di sektor pariwisata dan bus khusus karyawan ini sudah mengantongi sertifikasi CHSE (Cleanliness, Health, Safety & Enviromental Sustainability). “Kami mengikuti program ini sejak pemerintah menerapkan standar Kesehatan di sektor pariwisata dalam menghadapi Covid-19,” kata staf PT. Arion Indonesia Transport, Joko Prawiro, kepada haltebus.com, Kamis (10/6/21).

Sejak Desember 2020, pemerintah melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparkeraf) meluncurkan program sertifikasi CHSE untuk industri pariwisata. Dalam laman resminya, kementerian itu menyebut sertifikasi CHSE adalah proses pemberian sertifikat kepada Usaha Pariwisata, Destinasi Pariwisata, dan Produk Pariwisata lainnya. Tujuannya, untuk memberikan jaminan kepada wisatawan dalam kebersihan, kesehatan, keselamatan, dan kelestarian lingkungan.

Bagan Perlindungan Kesehatan/Kemenparkeraf

Lingkup Perlindungan Kesehatan CHSEKemenparkeraf menyatakan ada 5.863 usaha pariwisata tersertifikasi di 34 Provinsi yang ada di 372 Kabupaten dan Kota di seluruh Indonesia. Usaha yang disertifikasi antara lain Hotel, Restoran, Usaha Perjalanan Wisata, Pemandu, MICE, Bioskop, Seni Pertunjukan, Musiik, Seni Rupa, Fashion, Kuliner  dan lain-lain. Kementerian yang dipimpin Sandiaga S. Uno, ingin meningkatkan upaya pencegahan dan pengendalian COVID-19 bagi masyarakat di tempat dan fasilitas umum. Hal ini dilakukan dalam rangka mencegah terjadinya episenter baru selama masa pandemi.

Beruntung PT. AIT adalah bagian dari Arion Paramitra Group yang memiliki beberapa usaha yang mendukung dan terbiasa dengan standar prosedur operasi seperti yang disyaratkan oleh sertifikasi CHSE Kemenparkeraf. Arion Paramitra Group yang berkembang pesat setelah terjun di dunia transportasi bus, memiliki usaha perhotelan dan biro perjalanan, properti, jasa kebersihan, parkir dan keamanan, serta jasa keuangan.

Menurut Joko, pimpinan PT. AIT sangat menaruh perhatian terhadap keamanan kesehatan selama masa pandemic Covid-19. Selain karena pertimbangan internal, kebanyakan pelanggan mereka juga memperhatikan keamanan kesehatan. Dia mengungkapkan, sebelum pandemi melanda, armada bus Arion Transport melayani sejumlah maskapai penerbangan asing, di antaranya Korean Airlines, Japan Airlines, Qatair Air dan masih beberapa lagi. Sementara untuk angkutan karyawan, lajut dia, tidak sedikit perusahaan yang berkontrak dengan Arion Transport juga mengajukan standar agar karyawan mereka aman secara kesehatan.

Bagaimana proses Arion Transport mendapatkan sertifikat CHSE? “Ada tim dari lembaga survei yang datang lalu melihat keseluruhan proses yang kami lakukan di sini. Mereka mengecek fasilitas dan fisiknya juga, prosedur yang ada di perusahaan kami, mulai dari mereka saat masuk lingkungan kantor sampai keluar lagi,” kata Joko.

Kemenparkeraf menyerahkan pemeriksaan pada lembaga survei dan sertifikasi agar semua prosesnya bisa dinilai dengan standar baku. Dalam prosesnya, setiap perusahaan atau instansi terkait pariwisata diperiksa standar atau indikator, quality manual CHSE, lalu diverifikasi oleh verifikator atau auditor dan secara proses bisnisnya dinilai sebelum mendapat sertifikat. Joko mengungkapkan, para verifikator atau auditor yang datang, menanyakan beberapa hal detil. Bagaimana prosedur, bagaimana kebiasaan mereka di perusahaan sampai melihat lantai garasi apakah berish atau tidak. “Karena pimpinan kami terbiasa dengan kebersihan dan standar prosedur operasi, ya kami tidak mengalami banyak kesulitan saat diverifikasi. Yang dinilai dan dilihat tim verifikasi sudah menjadi kebiasaan kami di sini,” kata Joko menjelaskan.

Kebersihan di lingkungan garasi Arion Transport memang sangat terjaga. Dalam dua kesempatan di dua garasi berbeda, haltebus.com melihat langsung standar garasi yang tidak jauh berbeda. Ada atap pelindung armada bus, garasi diperkeras dan tidak ada bekas oli menebal yang tercecer, serta keluar masuk bus diperiksa. Armada bus juga bersih dan terawat dari sisi eksterior dan interior.

Menurut Joko, untuk standar minimal yang sudah terbiasa mereka lakukan selama pandemi adalah setiap karyawan diperiksa suhu tubuhnya saat masuk kerja. Setiap bus yang keluar dan masuk garasi dipasikan tidak membawa sampah dari luar. Posisi kursi harus tegak sesuai standar, saat keluar dari garasi. Kru bus wajib tes kesehatan sebelum bertugas keluar kota dan pulang dari luar kota wajib isolasi mandiri beberapa hari.

Namun, meski sudah mengantongi sertifikat CHSE dan punya standar yang tinggi untuk keamanan kesehatan, Joko mengakui, tidak serta-merta bus pariwisata mereka diminati pelanggan. Menurut dia, masih ada beberapa pelanggan yang tidak mau memahami standar yang mereka terapkan. Misalnya, dalam ketentuan Kementerian Perhubungan, kapasitas maksimal bus selama pandemi Covid-19 ini harusnya 70 persen, tapi pelanggan meminta agar bus diisi penuh.

Situasi seperti saat ini, menurut Joko, menjadi dilema untuk pelaku usaha transportasi khususnya di bidang pariwisata. Selain karena faktor pergerakan orang yang sepi, kebijakan di beberapa daerah wisata yang dinamis kerap membuat pelanggan yang ingin berwisata juga terkendala. Akibatnya, banyak yang menahan diri tidak bepergian. “Kami tetap komitmen menegakkan protokol kesehatan sesuai standar CHSE, ada pelanggan yang bisa memahami, ada pelanggan yang tidak mau memahami. Di sisi lain, perusahaan ini juga membutuhkan pemasukan. Bersyukur pimpinan kami bijak menyikapi kondisi sekarang dan tetap memegang teguh SOP yang selama ini sudah berjalan,” ujar Joko. (naskah : mai/foto : mai/dok. arion)

Banner Content

Related Article

No Related Article