(Magelang – haltebus.com) Sepintas dari luar pagar yang terlihat hanya tiga – empat bus terparkir di sebuah halaman di pinggir Jalan Raya Magelang – Purworejo. Saat haltebus.com melongok ke dalam pagar, ternyata, hanya ada dua bus lengkap dengan chassis, sisanya hanya bodi bus yang terparkir. Suasana di halaman itu layaknya bengkel ‘ketok magic’ yang dengan mudah bisa kita temui di banyak tempat.

Adalah Winarno Ahmad, pria kelahiran Kediri 33 tahun lalu, yang membangun bengkel reparasi bus Satrio Motor itu sejak tahun 2004 silam. “Ya mungkin bisa dibilang nekat. Saya membangun bengkel reparasi ini dari nol,” ujarnya membuka pembicaraan.

Perawakannya kecil, kurus dan berambut pendek. Namun siapa sangka pria yang selalu ramah terhadap orang yang dikenalnya ini, memilih spesialisasi untuk bongkar pasang chasis bus. Mulai memotong dan mengelas chasis, hingga membuat chassis baru spaceframe adalah keahliannya.

Berawal dari pekerjaannya sebagai pengelas tanki di tahun 1999, Winarno mulai ‘berkelana’. Terpacu untuk menambah wawasan, belajar di berbagai PO bus di Jawa Tengah sebagai juru las, dan reparasi bodi bus.

Bidang pertama yang dikuasainya adalah mereparasi bodi bus. Namun, seiring berjalannya waktu dan bertambahnya wawasan, dia tertarik untuk mendalami pengelasan chassis. “Saya belajar dari PO-PO menangani berbagai kasus bodi rusak, hingga chassis bengkok karena kecelakaan. Dari kondisi rusak, kemudian diperbaiki, sampai kembali seperti bus baru,” kata dia

Winarno mengaku tidak memiliki latar belakang pendidikan khusus, untuk bongkar pasang chassis ini. Dia mengaku,ilmu mereparasi chasiss diperolehnya dari pengalaman dan pembelajaran. Kemauannya belajar yang kuat mendorongnya untuk selalu ingin mempelajari hal-hal baru terkait perbaikan bus. Tidak terkecuali masukan-masukan dari pelanggannya, yang menjadi salah satu sarana menambah pengetahuan.
 
Dalam kurun waktu tujuh tahun, Winarno tergolong sukses mengembangkan usahanya. Kini, dengan pekerja tak lebih dari 35 orang, dalam setahun sedikitnya 100 unit bus ditangani Satrio Motor. Bus-bus yang direparasi di bengkel berkapasitas 10-11 unit bus ini, tak hanya datang dari PO-PO seputar Jawa Tengah, melainkan juga PO di Sumatera. Untuk mereparasi bus dibutuhkan waktu 1,5 hingga 3 bulan, tergantung pekerjaan perbaikan. Tak jarang pula untuk pekerjaan tertentu, Winarno mengerjakannya sendiri mulai mengelas hingga mengecat bodi bus.


Meski mengaku memiliki spesialisasi perbaikan konstruksi chassis, ayah dua putri ini juga mengembangkan keahliannya. Modifikasi lampu depan dan lampu belakang bus adalah pekerjaan yang paling sering diminta pelanggannya. Belakangan, untuk urusan interior, Winarno juga mulai belajar. “Saya selalu ingin mempelajari sesuatu dari bus,” katanya.

Reparasi bus yang dikerjakan Winarno ini penuh ketelitan dan kecermatan. Alhasil, siapapun yang melihat hasil pekerjaannya pasti mengira bus-bus itu baru keluar dari karoseri.

Direktur Utama PO Siliwangi Antar Nusa, bus yang berbasis di Bengkulu, Kurnia Lesani Adnan mengakui keahlian Winarno ini. Menurut dia, hasil garapan Satrio Motor dari sisi eksterior cukup halus, tak ada bedanya dengan hasil karoseri. “Yang mengagumkan dari mas Win ini, dia bisa memotong dan menyambung chassis dengan presisi. Tidak banyak orang yang bisa melakukannya,” katanya.(mai/foto-foto mai – satrio motor)

Banner Content