Stevan mengungkapkan, selama tiga tahun terakhir pihaknya mulai berkampanye ke beberapa perusahaan bus, untuk memperkenalkan transmisi otomatis. Pada tahun 2012, PT. Dieselindo Utama Nusa pernah mengadakan pertemuan dengan sejumlah pengusaha bus di Yogyakarta. Saat itu, mereka menguji dua unit bus yang sudah bertransmisi otomatis menuju Kaliurang dengan medan jalan mayoritas menanjak. Sayangnya, lanjut dia, respon pengusaha bus masih belum terasa. Masalah harga transmisi masih menjadi kendala.
Kendala lain pun muncul. Dua tahun lalu, ketika Dirjen Perhubungan Darat dijabat Pudji Hartanto Iskandar, masalah transmisi otomatis juga jadi sorotan. Penggantian transmisi otomatis dinilainya tidak memenuhi standard keselamatan dan melanggar aturan. Padahal, sejak 2006 hingga Pudji Hartanto melarang transmisi otomatis, Allison Transmission dan ZF sudah banyak digunakan di armada bus Transjakarta.

Desember 2017, giliran Hino Indonesia mengeluarkan varian RN 285 AT yang dilengkapi Allison T325R. Awalnya bus varian baru yang sdah dilengkapi suspense udara ini diproyeksikan untuk memenuhi kebutuhan armada Transjakarta. Namun, pada ajang Gaikindo Indonesia International Auto Show 2018, Agustus lalu diluncurkan secara resmi untuk bus pariwisata dan bus antar kota. “Kami diminta pihak Hino untuk membantu menyiapkan bus bertransmisi otomatis. Kebetulan kami memiliki transmisi otomatis yang cocok untuk mesin mekanikal maupun elektrik,” kata Stevan menceritakan awal mula kerjasama dengan Hino Indonesia.



Kepala Mekanik PO. Gunung Harta/PT. Gunung Harta Transport, Malang, Teddy Pribadi tanpa sungkan tak menyia-nyiakan kesempatan duduk dibalik kemudi. Sambil beradaptasi, perlahan-lahan dia mengemudikan bus keluar dari garasi. Dia memilih rute yang mengarah ke Lokasi Wisata Bromo. Sedikit menanjak namun jalan yang dilalui tak terlalu ramai. Sesekali dia menginjak gas agak dalam, memainkan retarder dan juga mencoba menyalip dalam jarak pendek untuk mencoba tenaga mesin. “Retardernya lumayan ini, tenaga mesinnya juga bagus. Sayang posisi retardernya agak jauh jangkauannya,” kata dia sambil memperhatikan jalan.


Lain Teddy lain pula tim di perusahaan bus 27Trans, Singosari. Manager Marketing 27Trans Ferry Adriansyah mencoba duduk dibalik kemudi. Karena jalan raya Lawang – Malang sedang macet, ujicoba di luar garasi diurungkan. Ferry mencoba bus Hino RN 285 AT maju dan mundur sejauh sekira 200-an meter. “Wah gak kalah dengan sedan. Enteng juga ya, lepas rem langsung jalan,” begitu dia berkomentar.

Generasi ketiga dari pendiri perusahaan bus AKAS ini tak sungkan mencoba walaupun dia mengaku belum punya rencana mengoperasikan bus bertransmisi otomatis. “Terima kasih kami diberi kesempatan untuk mencoba (transmisi otomatis). Sangat menarik. Memang saat ini kami belum ada niat, tapi dengan wawasan seperti ini, saat kami membutuhkan kami sudah dapat gambarannya,” ujar Aprilia.

Allison Transmission, menurut Stevan tidak menargetkan penjualan akan melonjak dalam waktu dekat. Namun, kata dia, setidaknya dengan roadshow, pihaknya bisa mengukur kesiapan jika terjadi permintaan. Sejauh ini, lanjut Stevan, pengusaha bus yang mereka datangi masih menghitung biaya investasi di awal, belum masuk pada biaya operasional.
Menurut Stevan, setidaknya kini pilihan varian bus bertransmisi otomatis sudah tersedia untuk Hino dan Mercedes-Benz. Dia berharap, dengan beroperasinya Jalan Tol Trans Jawa, Allison Transmission bisa ikut mendorong perkembangan kebutuhan mobilitas orang di Pulau Jawa. (naskah : mai/foto : mai)










