(Jakarta – haltebus.com) Perum DAMRI segera mengujicoba bus berbahan bakar gas. Lima unit bus dipamerkan dalam upacara peringatan HUT Perum DAMRI ke-68, di garasi Perum DAMRI Kemayoran, Selasa (25/11/14). Bus-bus itu akan melayani Angkutan Khusus Bandara Soekarno-Hatta. “Untuk sementara kami mau lihat keunggulan masing-masing. Ada yang pakai mesin Yuchai, ada yang pakai mesin Weichai,” kata Direktur Utama Perum DAMRI, Agus S. Subrata di sela-sela peringatan HUT Perum DAMRI ke-68.

Kelima bus baru yang dipamerkan itu menjadi salah satu daya tarik dalam upacara peringatan ulang tahun kali ini. Satu unit truk pengisi CNG, bahan bagar gas yang digunakan, juga dipamerkan. Dalam kesempatan itu ada dua unit Kinglong, dua unit Golden Dragon dan satu unit Yutong. Sementara, PT. Indo Dongfeng Motor yang mendatangkan bus-bus ini membawa serta satu unit bus kota 10 meter dan tractor head yang berbahan bakar gas.


Langkah effesiensi operasional diterapkan Perum DAMRI untuk memenuhi target keuntungan yang ditetapkan. Menurut Agus, jika dalam kajian hasil ujicoba bus BBG ini bisa menekan biaya operasional, pihaknya siap mengganti armada-armada Angkutan Khusus Bandara Soekarno-Hatta yang kini berbahan bakar solar menjadi gas. “Target kami selain effesien kan juga ramah lingkungan,” katanya.


Sayangnya Agus belum mau berkomentar tentang effesiensi yang ditargetkan. Hanya jika dilihat asumsi harga CNG yang digunakan bus BBG ini, Satu Liter setara Premium (LSP) Rp. 3.100. Sedangkan harga satu liter solar Rp. 7.500. Menurut Manager Pemasaran PT. Indo Dongfeng Motor, Erko Sudarso mengungkapkan, jika dihitung dari konsumsi bahan bakar, CNG yang dibutuhkan bus-bus yang ditawarkannya tak terpaut jauh dari bus bermesin diesel berbahan bakar solar. “Kalau kita hitung dari sisi perbandingan harga bahan bakar jelas CNG dua kali lebih murah dari solar. Meski 1 LSP dari hasil ujicoba kami hanya mencapai 2,3 km,” katanya.


Erko menambahkan, kampanye Go Green Perum DAMRI juga bisa direalisasikan dengan armada berbahan bakar gas yang ramah lingkungan. Dia berharap konsistensi pemerintah dalam penyediaan bahan bakar gas. Menurut Erko pihaknya siap mendatangkan bus-bus berbahan bakar gas dari Tiongkok. Karena itu dia secara khusus membawa serta satu unit bus kota BBG yang cukup unik, dengan tabung CNG di atas dan berlantai rendah.

Perum DAMRI sejak 2012 telah akrab dengan teknologi bus BBG. Sejak Desember 2012 perusahaan plat merah itu mengoperasikan Transjakarta Koridor 11 dan belakangan bertambah dengan beroperasinya Koridor 1 dan 8. Menurut Direktur Teknik Perum DAMRI, Bagus Wisanggeni, perawatan bus bermesin diesel BBG harus ekstra dibandingkan mesin solar. Karena itu, lanjut Bagus, pihaknya masih mengkaji perhitungan investasi yang ditanamkan untuk membeli bus BBG. “Ruang mesin harus dikontrol betul, tidak boleh kotor di bagian intercooler, daun-daun gak boleh nutupi radiator, dan suku cadangnya juga harus diperhatikan,” kata dia.

Dalam catatan haltebus.com ada PO. Arimbi dan Perum DAMRI yang mengujicobakan bus BBG di luar Transjakarta. Sejauh ini, PO. Arimbi mengoperasikan bus bermesin BBG di kala trip perjalanan sedang – rendah untuk jurusan Merak – Bandung, dengan alasan jauhnya letak SPBG dari garasinya. Meski harga BBG setara 1 liter jauh lebih murah dari BBM, operator bus yang berminat sangat sedikit karena alasan jarangnya SPBG yang bisa dijangkau armada mereka. Semoga langkah Perum DAMRI bisa menggugah pemerintah untuk lebih memperbanyak SPBG agar operator bus tertarik menggunakan BBG. (naskah : mai/foto : mai)

Banner Content