(Jakarta – haltebus.com) Konversi bahan bakar minyak yang berasal dari fosil telah dicanangkan pemerintah sejak tahun 2006. Saat itu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meluncurkan program Langit Biru, bersamaan dengan peresmian sebuah SPBG di Jakarta Timur yang mendukung operasional Transjakarta. Setahun kemudian, Hino Indonesia melalui PT. Hino Motors Manufacturing Indonesia (MMI) memproduksi chassis bus berbahan bakar gas.
Sayangnya produksi bus BBG itu harus terhenti karena minim permintaan. Tak patah semangat, kini PT. MMI mulai memproduksi bus BBG lagi. "Ini menjadi momentum penting. Kami berterima kasih atas langkah PT. Hino Motors Manufacturing Indonesia memproduksi bus berbahan bakar gas,
” kata Dirjen Industri Logam, Mesin, Transportasi dan Elektronika Kementrian Perindustrian, I Gusti Putu Suryawirawan saat melepas unit pertama bus Hino CNG di Fasilitas produksi PT. HMMI di Kawasan Industri Bukit Indah, Purwakarta, Jumat (27/11/15).Menurut Putu Suryawirawan, beberapa tahun terakhir Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral memiliki program pengalihan penggunaan energi yang berasal dari fosil ke energi terbarukan. Dia mengungkapkan, hingga 2025 pengurangan penggunaan energi fosil yang tak terbarukan bisa ditekan. Targetnya, lanjut dia, penggunaan bahan bakar gas untuk kendaraan 25 persen dan bahan bakar dari energi terbarukan 23 persen.


Salah satu upaya yang dilakukan sejak dua tahun terakhir adalah menyebarkan konverter gas. Seiring dengan itu, dia berharap instansi-instansi pemerintah bisa ikut memulai menekan konsumsi bahan bakar minyak dan beralih ke bahan bakar gas. Beberapa unit kendaraan milik instansi pemerintah memang sudah dipasang konverter gas, namun jumlahnya masih sedikit. Pertumbuhan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) juga masih lambat.
Optimisme Hino Indonesia terlihat saat pelepasan unit pertama bus Berbahan bakar Gas RK1JSNL-RHJ CNG atau RK CNG itu. Saat penyerahan simbolis bus CNG pertama yang diproduksi dari President Director PT. Hino Motors Manufacturing Indonesia, Kazushi Ehara ke President Director PT. Hino Motors Sales Indonesia, Hiroo Kayanoki. Penyerahan ini menandai awal penjualan Hino RK CNG oleh PT. HMSI di pasar bus Indonesia.
Komisaris PT. HMMI yang juga pemegang saham PT. Indomobil Sukses Internasional Tbk, yang mememiliki saham di kedua perusahaan itu, Soebronto Laras berucap,
“Tiga ribu unit ya Hiroo.” Langsung disambut Hiroo dengan seruan, “Tiga ribu unit.”

Sales & Promotion Director PT. HMSI, Santiko Wardoyo juga mengungkapkan keyakinannya. Menurut dia, ada 74 unit bus BBG yang telah dioperasikan Transjakarta sejak tahun 2007 yang tak mengalami kendala berarti. Dia mengungkapkan, Hino Indonesia menjadi pabrikan bus pertama yang membuat bus BBG di Indonesia dengan kandungan lokalnya yang tinggi. Kapasitas produksi terpasang PT. HMMI untuk perakitan kendaraan niaga mencapai 75 ribu unit per tahun. Sementara untuk produksi komponen dan mesin, angkanya juga sama 75 ribu unit per tahun.
Klaim keunggulan diproduksi di Indonesia, dibuktikan Hino dengan mengajak seluruh undangan yang hadir dalam peluncuran untuk melihat semua lini produksi. Mulai produksi komponen hingga perakitan chassis. Berbagai proses juga diperkenalkan dalam factory visit itu. “Kami yakin kami bisa memenuhi permintaan bus berbahan bakar gas. Tentunya harus didukung infrastruktur yang memadai, misalnya SPBG-nya juga harus diperbanyak,” begitu Santiko menjelaskan.


Beberapa operator bus yang sudah mengoperasikan bus berbahan bakar gas mengaku senang dengan adanya produksi bus berbahan bakar gas di Indonesia. Menurut Direktur Teknik Djawatan Angkoetan Motor Indonesia (DAMRI) Bagus Wisanggeni, pihaknya tertarik untuk mencoba. “Kalo disuruh memilih, daripada impor yang mending memilih yang diproduksi di sini. Sparepart-nya jelas lebih mudah,” kata Bagus.
Sementara Direktur Utama PT. Mayasari Bakti, Ade Ruhyana Mahpud mengungkapkan, tujuh tahun lebih anak perusahaannya, PT. Primajasa Perdanaraya telah mengoperasikan bus Hino CNG. Menurut dia, tak ada kendala berarti selama pengoperasian bus di beberapa Koridor Transjakarta. “Kalo Hino memproduksi lagi, kami lebih senang dan memilih bus CNG yang diproduksi di sini. Perawatan jadi lebih mudah, after sales-nya gampang,” ujarnya.


Tren pengurangan penggunaan energi yang berasal dari fosil seperti bahan bakar minyak memang tengah gencar dilakukan berbagai negara maju. Penggunaan bus bertenaga listrik, berbahan bakar gas mulai CNG, LPG, metana hingga biogas dikembangkan. Di India pabrikan Scania bekerja sama dengan pemerintah setempat mengembangkan bus berbahan bakar biogas. Tak hanya memproduksi bus, mereka juga membantu fasilitas produksi gas.
Putu Suryawirawan mengatakan, keinginan bersama untuk mengurangi polusi dengan memperbanyak bus di Indonesia, apalagi yang berbahan bakar gas haruslah didukung semua pihak. Indonesia yang kaya cadangan gas, kaya sumber energi terbarukan, serta memiliki potensi besar ikut berperan mengurangi pencemaran udara dengan pemanfaatan teknologi yang tepat. Seperti halnya India yang mulai mengembangkan biogas sebagai sumber energinya. (naskah : mai/ foto : mai)










