(Jakarta – haltebus.com) Tren usaha jasa transportasi bus banyak diwarnai fenomena menarik. Meski periode 2014-2015 disebut kalangan pelaku bisnis transportasi bus sebagai tahun yang sulit, namun kompetisi antar operator bus tetap terjadi. Indikasinya, tidak sedikit operator-operator bus yang berlomba-lomba menampilkan bus terbaru di jajaran armada mereka. Tren ini yang mendasari Mercedes-Benz Indonesia optimis menghadirkan chassis terbaru di Tahun 2016.
Walau belum dirilis secara resmi, pabrikan asal Jerman itu sudah mempersiapkan kehadirannya. Mercedes-Benz Indonesia menggelar pelatihan untuk teknisi karoseri bus di negeri ini, pada 21-22 Desember 2015 lalu. “Kami masih dalam tahap persiapan. Nanti pada saatnya kami rilis secara resmi,” ujar Deputy Director of Sales of Commercial Vehicle Bus Operation Mercedes-Benz Indonesia, Adri Budiman kepada haltebus.com.
Pelatihan untuk karoseri semacam ini jamak dilakukan jika ada chassis baru yang akan dipasarkan Mercedes-Benz Indonesia. Menurut Product Engineering Manager Karoseri Rahayu Santosa, Umar Dani, pelatihan untuk pembuatan bus baru memberikan mereka kesempatan untuk mengenal karakter chassis yang kelak akan mereka buatkan bodinya kelak. “Kesempatan mempelajari bus 917 sangat berharga,” ujarnya.
Pengetahuan yang cukup untuk membangun bodi bus, diakui Manager R&D Karoseri Adiputro, Eko Widianto sangat diperlukan. Karakter chassis, standar pembuatan, serta pedoman pembuatannya membantu mengurangi resiko kesalahan saat karoseri memproduksi bus. Dalam kesempatan itu karoseri yang ikut dalam pelatihan pembuatan bodi bus antara lain : Karoseri Adiputro, Karoseri Laksana, Karoseri Morodadi, Karoseri New Armada, Karoseri Nusantara Gemilang, Karoseri Piala Mas, Karoseri Rahayu Santosa, Karoseri Restu Ibu, Karoseri Tentrem dan Karoseri Trisakti.
Kebetulan hampir semua peserta yang ikut sudah terbiasa membuat bus medium. Mereka memiliki model-model khusus untuk bus medium yang mereka produksi. Berdasarkan informasi yang dihimpun haltebus.com, tipe yang akan dirilis adalah OF-917. Jika benar maka bus itu akan mengisi pasar bus medium dalam kategori 9-10 Ton. Ditilik tipenya, bus itu bermesin depan dan siap meramaikan pasar bus kelas medium-large dengan tenaga 170HP yang menjadi andalannya.
Sayangnya, meski tipe chassis telah disebut peserta pelatihan pembuatan bus, Adri tetap menolak menjawab, “Belum saatnya, kami masih melakukan improvement produknya.”

Kehati-hatian Adri mencerminkan Mercedes-Benz Indonesia mempersiapkan betul kehadiran bus terbaru mereka. Bus ini diprediksi banyak kalangan, bisa memperketat persaingan pasar di kelas medium-large. Sebelumnya ada Hino FC 190 dan Isuzu yang tengah menguji coba Giga FRR. Kebutuhan segmen bus dengan kapasitas 35-40 penumpang mulai dirasakan operator. Segmen ini menutup rentang bus medium (25-30 penumpang) dan bus besar (40-57 penumpang).
Apakah pasar untuk segmen bus medium-large memiliki peluang? Menurut Vincentius H. Lukito dari PO. Kalisari, ada permintaan pelanggan yang menginginkan bus berkapasitas 40 penumpang dengan harga sewa yang murah. Dia yakin, pasar di segmen ini belum tergarap baik oleh operator maupun pabrikan dengan baik. “Mereka ada yg berpikir bus besar itu 60 seats, jadi 40 seats itu dianggap bus medium,” ujarnya.
Vincent mengaku masih menunggu bus-bus di kelas medium-large yang cocok dengan kebutuhannya. Meski memiliki trayek reguler Malang-Surabaya, PO. Kalisari banyak melayani pelanggan untuk kebutuhan angkutan pariwisata. Operasional bus pariwisata tak seperti bus bertrayek reguler yang memiliki rute tetap. Bus pariwisata bersifat penjelajah, melalui jalan dengan berbagai kontur, entah menanjak, menurun maupun berliku. “Kita lihat saja berapa tenaga yang dihasilkan dari mesin bus yang berkapasitas 40 penumpang,” kata Vincent.


Sementara itu, salah satu operator bus wisata di Jakarta, PO. Blue Star masih belum melihat permintaan pelanggannya untuk bus medium berkapasitas 40 penumpang. Manager Operasional PO. Blue Star. Andreas Dian Wijaya mengungkapkan, pelanggannya masih memilih bus-bus besar untuk kebutuhan di atas 35 penumpang. “Kami punya Mercedes-Benz OF 8000, konfigurasi seat-nya untuk 32 penumpang, kalo dibuat untuk 35 seat bisa tetapi tidak nyaman. Untuk 40 seat pelanggan kami memilih bus besar,” kata dia.
Lain Jakarta dan Surabaya, lain pula di Bali. Sikap menunggu ditunjukkan Manager Operasional PT. MTrans Rozi Yulianto. Menurut dia pihaknya masih berhitung antara investasi yang diperlukan dengan permintaan dan lokasi wisata yang bisa dijangkau. Dia mengatakan, ada daerah yang hanya bisa dijangkau oleh medium bus, ada yang bisa dijangkau beragam jenis bus. “Kami cenderung menghitung apakah harga chassis yang dipasarkan untuk kelas ini bisa sepadan dengan cost operasional dan pendapatan yang bisa dihasilkan,” katanya.
Ragam karakter kebutuhan transportasi di Indonesia memberikan keunikan tersendiri terhadap peluang pasar di segmen jasa transportasi bus. Setahun terakhir pabrikan bus yang ada di Indonesia mencoba memanfaatkan peluang ini. Sejumlah pabrikan pun optimis dengan kompetisi di kelas medium-large yang akan ramai di tahun 2016. (naskah : mai/ foto : mai/istimewa)










