Kehadiran Hino Poncho di GIIAS adalah bagian dari perkenalan teknologi yang dikembangkan Hino saat ini. Hino masih mengembangkan modul aplikasi yang bisa diterapkan untuk semua produknya di masa depan dan berorientasi ramah lingkungan. Menurut Kepala Divisi Enginering, untuk Teknologi Baru dan Perencanaan Modul, Hino Motors Ltd, Tomonori Kosaka, ada beberapa kategori untuk kendaraan niaga.
Menurut Tomonori, ada kendaraan dengan jarak pendek, menengah dan jarak jauh dengan varian yang berbeda. Untuk jarak pendek, Hino sudah memiliki teknologi Electric Vehicle (EV) dengan hadirnya bus Hino Poncho. Bus ini awalnya berbasis mesin diesel, kemudian dibuat dalam versi hybrid dan sekarang sudah ada versi sepenuhnya bertenaga listrik. Bus Poncho EV pertama kali dibuat pada tahun 2012, disebut dengan light duty bus.

Hino Poncho memiliki bentuk yang unik sejak pertama kali diperkenalkan pada tahun 2012 bus ini berevoluasi. Tahun 2016 sudah berkembang menjadi medium duty bus dengan daya angkut yang lebih besar. Bus ini cocok untuk kendaraan perkotaan dengan kapasitas relatif besar untuk ukuran bus dengan panjang 7 meter. Sekali angkut, 36 penumpang bisa masuk. Menurut Tomonori, salah satu keunggulan bus ini adalah kabin penumpang luas dan rata. Ada area khusus untuk dua penumpang berkursi roda.

“Kami telah mencapai target, yakni untuk zero emisi dan tingkat kebisingan. Tetapi kami masih memiliki masalah untuk waktu dan frekuensi pengisian batere serta harga yang cukup tinggi karena pemakaian batere Lithium yang berperforma tinggi. Kami terus melakukan pengembangan untuk mencari solusi,” kata Tomonori lagi.

Tahun lalu, Hino merilis video Hino Poncho versi Otonom. Dalam video itu tergambar bagaimana bus Hino Poncho itu beroperasi di pedesaan, tanpa halte, hanya ada satu tanda penunjuk lokasi naik-turun penumpang. Hino Poncho Otonom juga dipamerkan di Tokyo Motor Show, namun Hino Poncho yang teknologi yang lebih maju ini belum diproduksi secara massal. Tomonori menyebut, “Masa depan kendaraan akan dimulai dari perkembangan satu model aplikasi yang bisa diterapkan untuk semua kendaraan. Kami terus melakukan penelitian dan pengembangan menghadirkan produk otomotif Jepang untuk market global.”
Eksteriornya yang sederhana dengan tampilan wajah yang jenaka, cukup menarik dipandang. Ada LCD di depan dan belakang sebagai papan penunjuk rute. Dua pintu pneumatic yang lebar memudahkan penumpang masuk dan keluar bus. Dengan panjang 7 meter dan lantai rendah, sebenarnya Hino Poncho sangat cocok melayani perkotaan di Indonesia.

Menurut Direktur Penjualan dan Promosi PT. HMSI, Santiko Wardoyo, pihaknya sengaja mendatangkan bus listrik selama GIIAS berlangsung. Menurut dia, sesuai dengan tema dan semangat pemerintah mencari energi terbarukan yang ramah lingkungan. “Kami juga punya teknologi bus listrik, tinggal bagaimana di sini saja, apakah kira-kira bisa diterima? Kami juga ada Hino Poncho versi diesel,” kata Santiko menjelaskan.

Sayangnya, Hino Poncho hanya hadir selama pameran GIIAS berlangsung. Selama pameran juga tidak ada sesi mencoba bus berjalan di sekitar arena pameran. Hanya ada satu unit bus dan begitu pameran selesai, bus itu pun siap dikembalikan lagi ke Jepang. (naskah : mai/foto : mai)










