Banner Top

(Tangerang – haltebus.com) Pameran GAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2021 resmi dibuka oleh Menko Perekonomian Airlangga Hartarto di ICE (Indonesia Convention Exhibition) BSD, Tangerang, Kamis (11/11/21) 2021. Pameran yang diinisiasi industri otomotif Indonesia, menjadi awal pijakan pertumbuhan di masa pandemi Covid-19.

“Saya melihat bahwa ada launching beberapa kendaraan baru di arena GIIAS ini dan juga kendaraan bermotor listrik atau Electric battery vehicle yang diharapkan bisa menciptakan ekosistem supply chain eletric vehichle,” demikian Airlangga dalam sambutannya.

Airlangga menungkapkan, produksi industri otomotif tahun ini melonjak tajam dibanding tahun 2020. Hal itu tidak terlepas dari membaiknya penanganan Covid-19 oleh pemerintah. Pada 2021, produksi otomotif Indonesia mencapai 850 ribu unit, sedangkan pada 2020 hanya 530 ribu unit. Sementara total ekspornya naik dari 220 ribu unit pada tahun lalu menjadi 300 ribu unit di tahun ini.

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto didampingi Menteri Perindustrian Agus Gumiwang K, mengunjungi peserta GIIAS 2021

GIIAS 2021, momen kebangkitan industri otomotif Indonesia

Meningkatnya produksi otomotif juga tidak terlepas dari kebijakan pemerintah yang memberikan keringanan Pajak Penjualan Barang Mewah Ditanggung Pemerintah (PPnBM DTP) hingga 100 persen. Pajak ini ditanggung oleh pemerintah dan negara mengeluarkan dana hingga Rp 3 triliun untuk insentif tersebut. “Pemerintah ikut chip-in (bantu modal) di industri otomotif,” katanya sambal tersenyum.

Namun, keringanan dari pemerintah ini bukan tanpa alasan. Airlangga berharap, kemudahan yang diberikan pemerintah harus diikuti oleh pengembangan teknologi otomotif. Dia menyebut, industri otomotif harus membantu pemerintah  mengurangi emisi dalam program perubahan iklim atau climate change.

Dia menambahkan, pemerintah sudah menerbitkan PP 74 Tahun 2011 tentang Tata Cara Pelaksanan Hak dan Pemenuhan Kewajiban Perpajakan yang berbasis pada tingkat emisi. “Terkait climate change dari sektor otomotif, kita perlu memperbaiki emisi. Di sisi otomotif kita sudah menjalankan B30. Dengan menjalankan ini, maka kepala sawit juga masuk dalam super cycle, sehingga harga kelapa sawit sudah tembus 1200. Harga yang tinggi membuat nilai tukar para petani sawit di meningkat,” ujarnya.

Hal lain yang disorot Airlangga adalah pengembangan teknologi otomotif yang mendukung kemandirian. Terkait kendaraan listrik, dia berharap, Indonesia bisa memegang peranan membangun industri sendiri. Apalagi Indonesia memiliki sumber daya alam memadai untuk pengembangan industri otomotif elektrik ini.

Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto berharap industri otomotif Indonesia mengembangkan teknologi

“Kita akan mendorong industri katoda, industri baterai sel, sampai industri otomotif. Jadi kita punya kemampuan dengan adanya domestic market untuk membuat industri itu lengkap, sehingga industrinya ini seluruhnya swasembada di dalam negeri dan produknya diekspor ke berbagai negara,” paparnya.

Mantan Perindustrian ini juga menyoroti pergeseran teknologi kendaraan bermotor. Dia yakin, kendaraan bermotor ramah lingkungan tak hanya berbasis listrik. Teknologi mesin yang ramah lingkungan juga berkembang di Eropa. Dia berharap research and development industri otomotif Indonesia juga bisa mengikuti perkembangan. Dia yakin, Teknologi ICE atau Internal Combustion Engine (mesin bakar) belum akan berakhir.

Ada teknologi otomotif lain, kata Airlangga, yang ramah lingkungan. Berbasis hidrogen. Menurut dia, Indonesia memiliki sumber daya berlimpah. Di Kalimantan Utara, ada industri hydrogen power plant yang bisa menghasilkan 12 Giga Watt. Masih terkait Hidrogen, ada pula teknologi fuel cell (sel bahan bakar). Dalam jangka pendek, menurut Airlangga bisa disuplai industri berbasis amonia

Tak sampai disitu, Airlangga juga memberi contoh lain pengembangan industri otomotif mesin diesel yang menggunakan catalyct converter yang bisa mengurangi emisi gas buang. Lagi-lagi dia mengungkapkan teknologi itu dikembangkan di Eropa. Teknologinya, lanjut dia, juga sederhana, menggunakan urea. Indonesia juga penghasil urea yang cukup besar.

Pemerintah mendorong R&D industri dalam negeri melalui Super Tax Deduction

“Kita yang pabrik pupuknya over supply dan ekspor. Tentu dari segi teknologi sudah  memiliki kemampuan. Pemerintah sudah memberikan super tax deduction untuk inovasi dan R & D yang besarannya hingga hingga 300 persen. Jadi pemerintah sebetulnya sudah siap untuk shifft ini dalam perkembangan R & D,” katanya bersemangat.

Sementara itu, Ketua Umum GAIKINDO, Yohannes Nangoi mengungkapkan, Indonesia siap memproduksi kendaraan sendiri. Saat ini, kata dia, Indonesia sudah swasembada kendaraan.  “Kami menginisiasi kehadiran GIIAS, satu-satunya pameran otomotif yang dapat dukungan penuh rangkaian pameran otomotif dunia. Wheel to Move, ini menjadi pernyataan industri otomotif bergerak maju,” kata Yohannes.

Yohannes berterima kasih atas kebijakan pemerintah terkait PPNBM kendaraan bermotor. Menurut dia, kebijakan ini menggerakan industri otomotif dengan sangat signifikan. Dia menambahkan, GAIKINDO siap dengan produksi kendaraan bermotor. Dia menegaskan, kendaraan yang diproduksi saat ini adalah kendaraan yang diproduksi di Indonesia dengan local purchase hingga 60 persen. Angka penjualan juga meningkat hingga 68 persen di tengah pandemi Covid-19.

Yohannes menyatakan, pada GIIAS 2021 kali ini sejumlah pabrikan juga menunjukkan komitmen untuk kemajuan teknologi otomotif di Indonesia. Peserta pameran menampilkan kendaraan-kendaraan listrik, juga sekaligus meluncurkan produk baru kendaraan listrik untuk Indonesia.(naskah : alx/mai/ foto : mai)

Banner Content