(Bandung – haltebus.com)
Sosoknya kalem, meski rambut gondrong menghiasi penampilannya. Tutur katanya terjaga, terutama saat lawan bicaranya belum dikenal sebelumnya. Demikian sekilas yang bisa kita lihat dari Amung Mulyadi, yang biasa akrab disapa Amung. Pria kelahiran Cianjur 41 tahun yang lalu ini memulai karirnya sebagai pengemudi bus pada tahun 1990. Seperti lazimnya karir pengemudi di Indonesia, Amung menapaki satu per satu anak ‘tangga’ dunia bus. “Pertama kali bawa bus, saya bawa bus karyawan pabrik tekstil di Cimindi. Empat tahun saya bawa bus LP 911 (Tipe Mercedes-Benz),” ujarnya kepada haltebus.com Senin (30/05/11). Namun, perjalanan hidup karirnya tidaklah mudah. Amung dinilai nyleneh oleh keluarganya. Cita-citanya Amung SD menjadi pengemudi, membawanya nekat bertualang hingga Surabaya saat kelas satu SMU. Kesempatan itu terbuka, karena keluarga Amung pindah ke Bandung saat dirinya berumur 2 tahun. Selama dua tahun pelariannya itu, Amung tinggal dimanapun dia bisa berteduh. “Pulangnya ke Bandung saya numpang truk. Dan pengemudi truk inilah yang mengajarkan saya pertama kali mengemudi, mulai truk hingga bus,” kata Amung mengenang.
Bertemu dengan berbagai macam karakter orang, mulai dari rakyat kecil, artis hingga pejabat tinggi, itu artinya kesempatan berbagi wawasan. Kemampuannya untuk bisa berkomunikasi dengan orang banyak dengan berbagai karakter diperolehnya juga dari melayani pelanggannya. Berhadapan dengan berbagai karakter penumpang, membuatnya belajar bagaimana melayani pelanggan. Bakatnya sebagai pengemudi berkembang lebih luas, tak sekedar mengemudi. Kemauannya untuk belajar dari lingkungan pekerjaan membuat Amung sampai di titik: melayani penumpang haruslah membuka diri dan hati. Sampai akhirnya, Amung pun memiliki motto : Busku adalah Istanaku. Motto yang merupakan modifikasi dari pepatah Rumahku Istanaku ini menjadi pegangan Amung dalam melayani pelanggannya. “Bagaimanapun pelanggan harus saya layani dengan baik. Bus harus dirawat, kita harus menciptakan suasana layaknya pelanggan berada di istana saat mereka ada di bus kita,” katanya berfilosofi. Motto ini masih dipegangnya hingga saat ini. Hampir sebelas tahun terakhir Amung melayani penumpang wisata. Mottonya menjadi modal memberikan pelayanan terbaik untuk pelanggannya. Maklum, untuk bus wisata, kru bus harus jeli dan peka saat melayani penumpang karena tidak jarang perjalanan bisa memakan waktu dua tiga hari, bahkan lebih bersama pelanggan. Amung mengaku bangga menjadi pengemudi bus. Di akun jejaring sosialnya, pose-pose Amung bersama bus kesayangannya dapat dengan mudah kita lihat. “Saya memang mencintai pekerjaan ini. Dari pekerjan ini wawasan saya bertambah, saya belajar bagaimana melayani pelanggan dengan baik. Yang lebih utama saya senang bisa mendapat teman dari berbagai kalangan,” kata pria yang gemar motocross ini.(mai)










