(Solo – haltebus.com) Chasis bus Volvo asal Swedia, sudah terkenal di dunia. Namun pelaku usaha transportasi bus mahfum bahwa harga chasis ini cukup lumayan mahal, belum lagi biaya perawatan yang memerlukan dana tak sedikit. Bagi PO-PO yang memiliki chasis Volvo tentu ada trik-trik khusus agar bisa mengendalikan biaya operasionalnya.

Nah, diantara sekian banyak Perusahaan Otobus yang mengoperasikan chasis Volvo ini, PO Siliwangi Antar Nusa (SAN) yang tergolong nekat. Wajar dibilang nekat. Delapan bus berchasis Volvo B7R seharga Rp. 1,1 miliar pada saat dibeli tahun 2003, milik PO ini sehari-harinya melayani rute Pekanbaru – Solo.

Jarak tempuhnya tak kurang dari 2.100 km sekali jalan dan pulang-pergi 4.200 Km. Belum lagi kondisi jalan di lintas Sumatera yang buruk dan tidak bisa diprediksi, mulai banyak lubang menganga, kemacetan parah, hingga jembatan putus. “Bus-bus ini melayani penumpang kelas Executive, karena kami ingin memberikan layanan terbaik untuk pelanggan kami,” ujar Direktur Utama PO SAN, Kurnia Lesani Adnan.

Kurnia menyebut, pemilihan chasis ini harus diakui karena kualitasnya. Produk Volvo masih bisa mengikuti kontur jalan dengan tenaga melimpah yang memang dibutuhkan di medan Sumatera. Dengan mesin enam silinder segaris dengan kapasitas mesin 7.410cc, Volvo B7R menghasilkan tenaga 290 Hp. Menurut dia, tenaga mesin juga ditopang kenyamanan fitur suspensi udara sehingga meski melalui jalan yang buruk, penumpang tidak terbanting-banting di perjalanan.

Menurut Kurnia, untuk bisa beradaptasi dengan medan Sumatera ada sedikit modifikasi pada sistem tekanan udara di suspensi udara. Frekuensi pengisian udara pada suspensi udara dibuat lebih tinggi dibandingkan dengan penggunaan di jalan mulus. Ini dilakukan agar suplay tekanan udara bisa lebih responsif pada sistem suspensi udara di medan berat Sumatera yang nyaris tak ada bedanya dengan track offroad. Fungsi peredam kejut suspensi udara sangat tergantung pada tekanan udara pada balon udaranya.

Dengan kondisi jalan yang buruk di Sumatera, bus Volvo yang dimilki PO SAN tergolong sangat terawat. Bus-bus ini dibeli secara bertahap. Tahun 2003 dibeli tiga unit, tahun 2004 bertambah tiga unit dan sisanya dua unit datang pada 2005. Artinya, umur bus-bus itu termuda adalah enam tahun. “Awalnya kami mencoba, terus kok bagus ya…hingga kami punya delapan unit. Itu kemampuan kami merawat bus ini. Lama-lama akhirnya sayang juga sampai kami ganti bodi busnya dengan Legacy SR-1,” kata Sani.

Apa yang dilakukan PO SAN tergolong unik. Manajemen PO ini menyayangi bus tak ubahnya seperti kendaraan pribadi mereka di rumah. Tidak hanya cukup merawat bus berkategori mewah di masanya, tetapi juga mengganti bodinya dengan karoseri terbaru. “Maklumlah kami hidup ya dari bus-bus kami, jika tak dirawat mana bisa kami bertahan. Ada ratusan karyawan kami pula yang bergantung pada bus-bus kami,” ujar Sani merendah.(mai/foto: iswahyudi suseno/jakbus)

Sumber :jakbus.com (foto)

Banner Content