Claus menjelaskan, teknologi mesin yang ramah lingkungan saat ini disanding oleh mesin diesel. Di Eropa, kata dia, mesin diesel tak hanya digunakan untuk kendaraan niaga seperti bus dan truk, tetapi juga untuk mobil kelas premium. Menurut pria kelahiran Jerman ini, tak hanya dikenal effesien, mesin diesel dengan teknologi terbaru menggunakan bahan bakar yang tepat juga mengurangi emisi gas buang. Sayangnya, lanjut dia, saat ini pihaknya belum bisa mendatangkan teknologi mesin diesel yang ramah lingkungan ke Indonesia.
Isu ini juga pernah dilontarkan
CEO PT. Mercedes-Benz Indonesia sebelum Claus, Rudy Borgenheimer, tahun lalu. Saat ajang Indonesia International Motor Show (IIMS) digelar, Rudy bahkan mengungkapkan masalah gap teknologi dan dukungan infrastruktur di Indonesia secara lugas di hadapan Wakil Menteri Perindustrian Alex Retraubun.
Teknologi mesin diesel berstandar emisi
Euro III sudah diterapkan pada bus yang dipasarkan di Indonesia saat ini. Namun sayangnya, dalam operasional sehari-hari resiko sangat tinggi. Sebab bahan bakar yang ada di pasaran tak menunjang. Masalah ini kerap dikeluhkan oleh operator bus swasta. Salah satunya yang diungkapkan Ketua Ikatan Pengusaha Muda PO Bus Indonesia (IPOMI) Kurnia Lesani Adnan. “Mesin cepat rusak karena seringkali solar yang ada di pasaran bercampur oli, air, bahkan pasir,” katanya.Menurut Claus, perkembangan teknologi adalah suatu kenyataan yang harus dihadapi dan tidak bisa ditahan. Jika Indonesia tak mengimbangi dinamika teknologi, maka teknologi mesin kendaraan yang beredar di negara ini jauh tertinggal.
Karena itu, dalam kesempatan ini, Claus menegaskan, Mercedes-Benz belum meluncurkan produk terbaru untuk bus. Sejauh ini, kata dia, pihaknya masih mengandalkan
chassis OH-1521 Euro III dan OH-1526, dan OH-1626 dan OH-1830 untuk bus berfitur suspensi udara. Namun, Claus sempat berujar, “Kami sedang mendiskusikan model terbaru untuk bus, seperti apa nantinya…..kita lihat saja anda pasti akan kami beritahu.” (naskah : mai/ foto: dok./PT. MBI)









