(Jakarta – haltebus.com) Apa jadinya jika dua perusahaan yang sama-sama berinisal RS melakukan kerja sama? Hasilnya terwujud dalam Ecoline. Ini adalah model terbaru Karoseri Rahayu Santosa yang digunakan pertama kali oleh PO. Rasa Sayang. “Kami membuat perubahan besar pada produk terbaru ini,” kata Direktur Teknik Karoseri Rahayu Santosa, Soeyono kepada haltebus.com, Minggu (1/1/15).

Tahun 2015 ini, menurut Soeyono akan dijadikan tahun pembaharuan pada divisi produksi Karoseri Rahayu Santosa (RS). Sebelumnya mereka telah menata jalur produksi selama dua-tiga tahun terakhir, di saat model bus New Celcius, Euroliner dan Skyliner lahir. Soeyono menyatakan, pada Ecoline perubahan semakin signifikan.

Jika dilihat eksetrior yang ada pada Ecoline, perlahan-lahan garis bodi yang melekat sejak Millenium, Celcius dan Concerto mulai berubah. Begitu juga dengan garis-garis yang bisa kita lihat pada Skyliner sudah mulai bergeser pada Ecoline ini. Satu-satunya yang bisa menandai jejak Skyliner hanya pada bagian ‘kepala’. Mulai pintu depan hingga ujung bumper. Bentuk lebih pipihnya dan bagian bawa sedikit lebih maju dari bagian atas terasa kental.

Lampu yang kini sedang menjadi tren juga mempermanis tampilan depan. Begitu juga dengan foglamp yang menempel pada bumper, mengingatkan kita pada Skyliner. Jangan sampai terkecoh, sekilas pada bumper ada lubang hitam mirip kisi-kisi angin pada kebanyakan mobil kecil seperti sedan. Kisi-kisi palsu ini dibuat sebagai aksen pendukung tampilan. Garis pemisah antara bodi atas dan bumper dibuat dengan halus mengikuti garis lampu utama karena bumper dibuat menyatu dengan bodi atas.

Di sisi samping aksen di kaca pertama setelah pintu depan dibuat lain dari model-model Karoseri RS sebelumnya. Mirip dengan desain bus pembuat bus yang memiliki pusat perakitan di Brasil. Di sudut bagian belakang bus, jejak Euroliner bisa kita lihat. Ciri khas Karoseri RS dengan kaca samping yang tinggi/lebar juga dipertahankan.

Evolusi Karoseri RS terlihat jelas pada bagian belakang. Cowl belakang lebih tipis dari model-model sebelumnya. Garis tegas dan sudut agak tajam menggantikan ciri khas lama yang selalu menghadirkan sudut halus dan cenderung lengkung yang membuat bagian ini terlihat besar dan menggembung. “Desain menarik yang bisa diterima pasar, umur bodi yang panjang, biaya perawatan dan operasional yang rendah menjadi tujuan kami untuk kepuasan pelanggan,” ujar Soeyono menjelaskan alasan dibalik perubahan-perubahan itu.

Di sisi kabin penumpang, interior terlihat sederhana. Tetapi yang menarik adalah tak terlihat pegangan yang biasanya terlihat seperti sekat-sekat di bagasi atas. “Tidak ada ‘pegangan’ di bagasi atas karena konstruksi baru kami memungkinkan untuk itu,” Soeyono menambahkan.

Dari sisi kabin inilah kita bisa melihat kelas yang ingin disasar Ecoline, yakni kelas bus untuk segala kebutuhan, seperti halnya New Celcius yang berada di kelas Silver dalam jajaran produk bus besar karya Karoseri RS.

Dimana letak kerja sama Karoseri RS dengan PO. Rasa Sayang? Sejak membuka jalur Bima – Jakarta di tahun 1992, PO Rasa Sayang tak pernah berganti pilihan karoseri untuk bus-busnya. Meski di awal masa berdirinya perusahaan ini sempat menggunakan beragam model dari berbagai karoseri, pilihan akhir operator bus antar pulau itu kembali pada Karoseri RS. “Dulu kami pernah coba macam-macam model, tetapi pak Arief Wijaya, pimpinan kami cocok dengan Karoseri RS,” kata Rudi Kumbara Putra, Penanggungjawab Operasional PO. Rasa Sayang di Jakarta saat ditemui haltebus.com.

Menurut Rudy, kerja sama yang sudah terjalin lama antara dua RS ini membuat pihaknya mendapat kesempatan pertama mencoba Ecoline. Secara kebetulan, kata dia, ada kebutuhan PO. Rasa Sayang untuk mengoperasikan Ecoline yang berlantai konvesional alias tidak tinggi seperti kebanyakan bus saat ini. “Kami butuh bus yang tidak tinggi agar bisa masuk ke dalam kapal, kami harus menyeberang tiga selat, kapalnya pun tak sama ukurannya. Hanya bisa kami dapatkan pada model ini,” kata Rudy lagi.

Bus yang baru keluar karoseri itu juga memiliki kelebihan lain. Jufrin Juman, salah seorang pengemudi yang ikut mengambil dua unit bus Ecoline yang dipesan PO. Rasa Sayang punya penilaian lain. “Busnya stabil dibawa di jalan berbelok, lubang, terasa sekali bedanya dari yang sebelumnya,” kata pengemudi yang sebelumnya mengemudikan bus Euroliner ini.

Menurut Rudy, perusahaannya tak muluk-muluk dalam memandang bodi bus yang mereka operasikan. Cukup sederhana, mudah perawatan, tahan lama, bisa masuk kapal dan memuat barang bawaan atau paket pelanggan mereka. Terbukti dengan bus-bus PO. Rasa Sayang masih bisa beroperasi hingga kini untuk memenuhi kebutuhan pelanggan setianya dari Bima ke Jakarta juga sebaliknya selama lebih dari 22 tahun.

Untuk ukuran bus yang beroperasi antar pulau, bodi yang dimiliki PO. Rasa Sayang cukup awet. Rudy mengaku, ada siklus pergantian bodi bus yang berlaku di perusahaannya. Umur chassis bus kini dibatasi tak lebih dari 15 tahun, setiap chassis hanya berganti bodi dua kali sebelum akhirnya dijual. Itu artinya umur rata-rata bodi yang dioperasikan adalah 7,5 tahun.

Hubungan yang terjalin antara dua RS tak sekedar hubungan mitra kerja. Ada unsur kepercayaan diantara keduanya. Selama 20 tahun keduanya hadir untuk memberikan yang terbaik pada masyarakat Bima yang ingin ke Jakarta. “Yang dibutuhkan pelanggan adalah bus yang membuat mereka nyaman selama perjalanan tiga hari dua malam,” kata Rudy sambil tersenyum.(naskah : mai/foto : mai)

Banner Content