(Jakarta – haltebus.com) Selalu ada yang baru di ulang tahun Djawatan Angkutan Motor Republik Indonesia (DAMRI). Pada peringatan HUT-nya yang ke-69, Rabu (25/11/15) di Kemayoran, DAMRI memperkenalkan sistem teknologi informasi untuk pengelolaan armadanya, sekaligus penggunaan tiket berbasis internet. “Sejalan dengan strategi perusahaan tahun 2016 yaitu brand strengthen atau penguatan citra perusahaan, maka pada peringatan HUT ke-69 DAMRI ini telah ditetapkan tema, Kita bangun citra perusahaan dengan kerja, kerja dan kerja,” kata Direktur Utama DAMRI Agus Suherman Subrata, dengan tegas.

Agus menegaskan, penggunaan sistem teknologi informasi pada pengelolaan perusahaan menjadi bagian dari penguatan citra perusahaan. Ada tiga hal yang ditargetkan pengelolaan terkomputerisasi itu. Fleet Management System atau sistem manajemen armada, sistem informasi penumpang dan sistem informasi keuangan yang mengacu pada International Financial Reporting Standards (IFRS). Target lain yang dituju adalah sertifikasi untuk pengemudi dan mekanik.

Pada kesempatan itu, Divisi Teknologi Informasi DAMRI bekerja sama dengan rekanannya PT. Bina Putera Sejati mendemonstrasikan Fleet Management System. Apa saja yang dipasang dalam bus-bus milik DAMRI? Ada Global Positioning System (GPS), ada perekam jarak tempuh, perekam waktu operasional mesin, perekam karakter pengemudi dalam mengoperasikan bus serta perekam data bus saat bergerak dan berhenti dalam keadaan mesin dihidupkan. “Ada 18 unit bus yang beroperasi melayani penumpang Bandara Soekarno-Hatta yang sedang diuji coba,” kata Soni Santana Senior Manager Technology & Ops PT. Bina Putera Sejati kepada haltebus.com.

Yang menarik dari sistem yang ditawarkan adalah setiap pergerakan bus bisa diketahui, termasuk jika bus keluar dari jalur yang semestinya. Rekam kinerja mesin juga membantu Direktorat Teknik DAMRI dalam merawat bus. Soni mengklaim sistem yang dibangunnya bisa mendeteksi kapan bus ganti oli, perawatan rutin hingga seberapa lama mesin bus bekerja. Menurut dia, berdasarkan hasil rekam dalam sebulan terakhir diketahui rata-rata mesin bekerja saat posisi statis di atas 30 persen dari durasi operasional. Dia mencontohkan ada bus yang memiliki waktu statis 25 jam 30 menit dari total operasional 66 jam 55 menit dengan jarak tempuh sekitar 3.800 Km. Perekaman semacam ini memungkinkan penghitungan berapa banyak bahan bakar yang dikonsumsi dan seberapa keras mesin bekerja.

Soni menambahkan, sistem ini juga memungkinkan perusahaan bisa mengetahui perilaku pengemudi, meski yang bersangkutan berpindah-pindah mengemudikan bus. Ada catatan khusus yang dibuat berdasarkan basis data setiap pengemudi. “Ada skor-nya untuk perilaku pengemudi, meski dia gonta-ganti bus kami masih bisa menilai dan mengetahui karakternya lewat Fleet Management System ini,” ujar Soni lagi.

Direktur Jenderal Perhubungan Darat, Djoko Sasono, yang hadir dalam kesempatan itu terlihat tertarik dengan apa yang direncanakan DAMRI. Dia menyimak penjelasan teknis operasional manajemen pengelolaan armada yang tergolong baru di dunia transportasi bus di Indonesia. Menurut dia, sistem manajemen pengelolaan armada bus yang modern harus segera diterapkan perusahaan plat merah ini. “Sistem ini harusnya bisa menjamin DAMRI lebih efesien. Jangan sampai nanti saat menerapkan sistemnya DAMRI malah bangkrut. Harus terjamin betul lho,” kata dia mengingatkan.

Selain sistem pengelolaan armada, ada pula simulasi sistem tiket berbasis internet. Tiket yang digunakan sepenuhnya terkoneksi jaringan internet. Tak ada lagi tiket dengan tulisan tangan, hanya selembar kertas yang berisi barcode yang bisa dipindai saat penumpang masuk bus. tiket bisa dipesan dari mana pun penumpang berada. Ada aplikasi yang bisa diunduh para pengguna telepon pintar. Beberapa bus jurusan Bekasi – Bandara Soekarno-Hatta telah dipasangi sistem tiket berbasis internet.

Djoko menegaskan, DAMRI harus berbenah menghadapi sistem baru yang akan diterapkan Kementerian Perhubungan di seluruh terminal tipe A di Indonesia. Menurut Djoko, pada 2017 pihaknya menargetkan penerapan sistem tiket berbasis internet. Hanya penumpang yang bisa masuk ke areal keberangkatan terminal, seperti halnya yang telah diberlakukan di bandara dan stasiun kereta api. “Kami ingin menerapkan sistem tiket online, dimana semua penumpang dicatat operator, sehingga kami melalui pengelola terminal pun juga punya data penumpang,” ujarnya.

Penerapan sistem tiket online ini, menurut Djoko, akan mengadopsi sistem yang diberlakukan di angkutan udara. Ada satu terminal data yang dikelola pengelola terminal bus yang menjadi basis pengaturan keberangkatan dan kedatangan bus. Di sisi lain, data penumpang menjadi lebih jelas, serta operator bus bisa mempertanggungjawabkan data penumpang yang mereka serahkan ke pengelola terminal. Prinsipnya, lanjut Djoko, menjamin keselamatan dan keamanan penumpang bus, sehingga pelayanan transportasi bus bisa lebih baik.(naskah : mai/foto : mai)

Banner Content