(Jakarta – haltebus.com) PT. Mercedes-Benz Indonesia bertekad selalu menjaga kualitas produk-produk busnya. Namun, sayangnya untuk menjaga kualitas produknya, mereka tak bisa berjalan sendiri. Ada beragam pihak yang terkait, salah satunya adalah karoseri pembuat bus yang menjadi mitra Mercedes-Benz untuk memastikan pengguna bus merasakan nyamannya bus buatan pabrikan Jerman itu. “Kami mengajak mitra-mitra kami untuk bisa menjaga bus Mercedes-Benz sesuai dengan apa yang kami harapkan. Tentunya terjamin kualitasnya. Penumpang kan hanya mengerti merek bus yang mereka naiki, tidak mengerti prosesnya,” ujar Deputy Director of Sales of Commercial Vehicle Bus Operation Mercedes-Benz Indonesia, Adri Budiman kepada haltebus.com, Senin (21/12/15) di pusat Pelatihan Mercedes-Benz Indonesia di Ciputat, Banten.
Pelatihan kali ini hanya diikuti oleh karoseri pembuat bus dan sebagian perwakilan dealer yang terkait dengan perawatan armada bus. Ada sepuluh karoseri yang diundang antara lain : Karoseri Adiputro, Karoseri Laksana, Karoseri Morodadi, Karoseri New Armada, Karoseri Nusantara Gemilang, Karoseri Piala Mas, Karoseri Rahayu Santosa, Karoseri Restu Ibu, Karoseri Tentrem dan Karoseri Trisakti.
Selama dua hari, 21–22 Desember 2015, teknisi karoseri diberi penjelasan tentang apa saja yang boleh dilakukan dan dilarang selama pembuatan bus di atas chassis Mercedes-Benz. Body Builder Manager Mercedes-Benz Indonesia, Sujito Suradi menjelaskan secara detil hal-hal yag harus dihindari agar pembuatan bodi bus tidak mengganggu operasional bus. “Kami pernah menemukan kasus, karena ada prosedur yang tidak dipatuhi, bus mengalami gangguan di jalan. Akibatnya bisa fatal,” ujar dia.

Salah satu yang dicontohkan Sujito, ukuran lubang untuk masuknya udara ke saluran penghisap udara yang diperlukan mesin dalam proses pembakaran. Penempatan, bentuk dan ukuran lubang udara yang salah bisa berpengaruh pada kinerja mesin. “Ukuran yang ditetapkan Mercedes-Benz sudah diperhitungkan berapa volume udara yang bisa terhisap dan diperlukan oleh mesin,” kata dia lagi.
Mercedes-Benz Indonesia, menurut Adri Budiman, sangat memperhatikan kualitas pembuatan bodi bus di atas chassis Mercedes-Benz. Sejak beberapa tahun terakhir, seiring dengan pemberian sertifikat khusus untuk karoseri dari Mercedes-Benz Indonesia, karoseri pembuat bus mendapat pedoman pembuatan bus Mercedes-Benz. Ada situs untuk karoseri yang disebut sebagai body builder portal. Menurut Adri Budiman, pedoman itu diberikan secara cuma-cuma pada karoseri. Namun ada persyaratan yang harus dipenuhi.
Menurut Adri, karoseri mengajukan secara resmi permohonan untuk di-review oleh Mercedes-Benz. Permohonan itu akan ditindaklanjuti oleh Divisi Body Builder Mercedes-Benz Jerman di bawah bendera Evobus. Ada tim evaluasi dari Quality Management for Body Builder Evobus yang akan mendatangi karoseri yang mengajukan permohonan. Seluruh aspek yang ada di karoseri akan dievaluasi, mulai teknis pembuatan, peralatan, struktur organisasi, lay-out, akses dan kapasitas produksi hingga ke vendor-nya. Proses pada tahapan ini disebut Quality Gate D. “Semua prosesnya tanpa biaya apapun, sifatnya kemitraan semata, tanpa ada ikatan atau kontrak apapun,” katanya.
Setelah keluar hasil evaluasi, karoseri itu bisa diketahui di posisi dimana dalam kategori yang ada pada standar Mercedes-Benz. Jika sesuai dengan yang dipersyaratkan oleh Mercedes-Benz, maka karoseri yang bersangkutan bsia dinyatakan layak sebagai mitra Mercedes-Benz untuk membuat bodi bus di atas chassis Mercedes-Benz. Proses ini baru proses awal yang menjadi tiket karoseri untuk proses selanjutnya yang terkait produksi.
Tahapan berikutnya adalah evaluasi dokumentasi teknik pembuatan bodi/gambar konstruksi, yang disebut Quality Gate C. Seluruh jajaran manajemen Mercedes-Benz di berbagai belahan dunia yang terkait dengan pembuatan bus ikut mengevaluasi konstruksi, khususnya terkait interface antara bodi ke chassis. Lolos dalam tahap ini, dan gambar konstruksi dinilai sesuai dengan standar panduan yang ada body builder portal, karoseri bisa membangun bus sesuai dengan gambar konstruksi yang disetujui. Tahapan membangun bodi disebut dengan Quality Gate B.
Saat bus sudah jadi, masih ada satu tahapan evaluasi lagi. Bus dievaluasi seluruh fungsinya dalam kondisi siap operasi. Apakah semua yang terkait dengan fungsi dinyatakan sesuai dengan standar Body Builder Advisory, berat yang dipersaratkan sesuai masing-masing tipe sudah sesuai, akses yang tersedia untuk pengemudi juga sesuai dengan standar yang ditetapkan. Tak sampai disitu, untuk membuktikan berat bus sesuai dengan tipe chassis, bus juga harus ditimbang. Proses ini disebut Quality Gate A. “Perbaikan pada kesalahan dievaluasi pada tahap yang disebut Quality Gate F,” ujar Adri menjelaskan.

Panjangnya proses yang harus dilalui oleh karoseri pembuat bus di Indonesia ini ternyata tak menyurutkan niat mereka untuk mencapai kualitas yang diinginkan Mercedes-Benz. Menurut Manager R & D Karoseri Adiputro, Eko Widianto yang bertanggungjawab pada produk Adiputro, standar kualitas Mercedes-Benz sangat membantu mereka. Adanya pelatihan teknisi pembuat bus, lanjut dia, menambah wawasan mereka agar bisa menghasilkan produk bus yang berkualitas.
“Pelatihan ini sangat bermanfaat karena kami bisa mengenali apa saja yang harus dihindari. Produk Mercedes-Benz banyak diwarnai fungsi elektroniknya, kami harus berhati-hati dalam membuat bodi,” kata Eko.
Sebagai salah satu penerima sertifikat Body Builder Mercedes-Benz, menurut Eko, Karoseri Adiputro berupaya mempertahankan standar kualitas yang ditetapkan. Menurut Adri, pihaknya secara random akan mengevaluasi karoseri-karoseri yang menerima sertifikat. Jika ditemukan penurunan kualitas, terbuka peluang sertifikatnya ditarik.

Product Engineering Manager Karoseri Rahayu Santosa, Umar Dani menyatakan, standar yang ditetapkan Mercedes-Benz bisa menjadi acuan mereka dalam menjaga kualitas produk. Kesalahan produksi bisa dengan mudah dikenali dari pedoman manual yang mereka terima dari Mercedes-Benz Indonesia. “Kami terus membenahi kualitas produksi kami, masukan-masukan melalui pelatihan semacam ini sangat bermanfaat sekali,” ujarnya.
Pelatihan yang diadakan Mercedes-Benz Indonesia sudah tiga kali digelar. Sejak produk-produk mereka memperkenalkan chassis yang berbasis kontrol mesin secara elektrik. Pengenalan produk cukup gencar dilakukan, tak hanya pada pemilik armada, tetapi juga pada karoseri yan membuat bus. Adri mengapresiasi karoseri-karoseri yang mau berartisipasi, meski tidak ada kerja sama yang mengikat. Dia percaya, ajang berbagi informasi ini bisa menjadi sarana efektif membangun kerja sama dengan karoseri dalam meningkatkan kualitas bus yang dipasarkan di Indonesia. (naskah : mai/ foto : mai)










