Sayangnya tidak banyak orang yang mengetahui bahwa ada Metromini yang kesehariannya jauh dari citra jelek yang dibayangkan orang selama ini. “Di era seperti sekarang ini kami sadar, kami harus mengutamakan pelayanan pada penumpang. Tanpa pelayanan kami pun bisa tersingkir,” ujar Dani Febrianto Damanik kepada haltebus.com, Selasa (14/6/16).
Dani bersama ayahnya mengoperasikan 20 unit bus Metromini berukuran besar. Mereka memiliki dua trayek, Jakarta – Cileungsi dan Jakarta – Cibinong. Pemberangakatan dari Jakarta ada dua terminal, yakni Terminal Melayu untuk Jakarta – Cibinong dan Terminal Senen untuk Jakarta – Cileungsi. Jangan bayangkan busnya tak ber-AC apalagi tak terawat. Sekali kita naik untuk pertama kalinya, pasti terheran-heran. Tak ada bau keringat khas bus tak ber-AC yang selalu dipenuhi penumpang, yang ada aroma pengharum ruang yang terasa segar di hidung.
Dua puluh unit bus yang dioperasikan Dani semuanya ber-AC, bersih dan diberi pengharum ruangan, seperti yang banyak kita temukan di bus-bus eksekutif Antar Kota Antar Provinsi. “Standar kami seperti ini, semua bus harus bersih. Kru yang mengoperasikan bus kami pilih betul, gak sembarangan karena sekali kru bus tak melayani penumpang dengan baik, kami dikomplain,” ujarnya saat mengajak haltebus.com melihat busnya yang tengah terparkir di garasi.
Untuk ukuran bus komuter, fasilitas yang menjadi standar pelayanan Metromini masih di atas bus-bus kebanyakan. Cukup membayar ongkos Rp. 14 ribu penumpang akan mendapat air mineral. Bus selalu bersih dan pendingin ruang kabin penumpang terasa nyaman. Ada dua bus yang dicat berbeda, warnanya sama sekali tak identik dengan warna Metromini yang dikenal dengan warna merah dan birunya. Dua bus itu disebut kelas Eksekutif Special Class.

Menurut Dani, banyak penumpang loyal di masing-masing jurusan. Khusus di Cileungsi, hubungan kru dan penumpang langanan bisa terjalin akrab, seperti keluarga sendiri. Dia mengungkapkan, kru bus kerap dibawakan sarapan oleh penumpang, pertemuan di luar rutinitas sehari-hari juga tak jarang dilakukan. Hubungan yang seperti ini, lanjut dia, bisa terjalin ketika mereka konsisten menerapkan standar pelayanan. “Ada sih perusahaan lain yang memiliki jurusan yang bersinggungan dengan jalur bus kami. Tetapi untuk penumpang, banyak yang tetap memilih Metromini,” ujarnya.

Hasil yang didapat Metromini yang dikelola Dani dan ayahnya bukan tanpa hambatan. Di satu titik, ujar Dani, mereka pernah hampir ditinggalkan penumpang. Penyebabnya, sejak awal beroperasi di tahun 1997, ada beberapa busnya yang sudah termakan usia. Bus kerap bocor, tidak nyaman dan sering dikomplain pelanggan. Kondisi seperti itu sempat dibiarkan tanpa respon, sampai akhirnya saat pelanggan mulai berkurang akhirnya mereka sadar. Tahun 2008 dimulailah peremajaan. Walau sebatas peremajaan bodi, Metromini mampu bangkit kembali. Diversifikasi kelas layanan, membuat mereka bisa bertahan hingga saat ini.
Komitmen pelayanan terhadap penumpang disadari Dani menjadi titik balik Metromini khusus jalur Cibinong dan Cileungsi berkembang lebih maju. Mereka berharap bisa ikut dilibatkan dalam jaring transportasi kota Jakarta. Enam unit bus Transjakarta yang mereka operasikan di Trans Batavia dikandangkan sejak beberapa bulan lalu seiring dengan bubarnya Trans Batavia. “Kami siap saja dilibatkan, komitmen kami pelayanan, pelayanan dan pelayanan pelanggan haruslah diutamakan. Hanya saja kemelut di Metromini ini yang membuat kami tak bisa berbuat banyak,” kata dia. (naskah : mai/foto : mai)










