Tatok hanya mengangguk-anggukkan kepala mana kala Cak Lontong mengulang pernyataan yang sama. Penonton juga tak banyak bereaksi. Mungkin Cak Lontong terkagum-kagum, sebab ruang workshop tempat Karoseri Laksana memproduksi bus berubah bak ballroom hotel berbintang lima. Deretan meja bundar dikelilingi kursi yang biasa ditemui dalam sebuah ruang besar acara Gala Dinner tertata rapi. Ratusan meter kain hitam dan tata cahaya mengubah wajah workshop 180 derajat.

PO. PHB dengan Mercedes-Benz O500R-1836, PO. SAN dengan Scania K360IB/4×2 Opticruise dan PO. Putra Pelangi Perkasa dengan Scania K410IB/6×2*4. “Orang pasti berpikir bus ini adalah bus baru, padahal bus kami sudah setahun lebih beroperasi dari Sumatera ke Jawa. Pak Iwan meminta saya untuk menghadirkan (bus) ini supaya orang paham kualitas Karoseri Laksana,” kata Hasanuddin Adnan pendiri PO. SAN.

Stefan mengungkapkan, acara perayaan ke-40 tahun Karoseri Laksana menjadi momen bagi mereka untuk menunjukkan kepada pelanggan teknologi terbaru yang mereka miliki, yang bisa menghasilkan produk yang baik. Sejauh ini sudah lebih dari 4.200 unit bus besar model Legacy dan bus sedang model Tourista mereka produksi. Sebagai bentuk apresiasi kepada pelanggan mereka memberikan penghargaan kepada pelanggan dengan berbagai kategori.

Selain penghargaan atas jumlah pembelian bus, ada juga penghargaan karena perhatiannya terhadap produk-produk Karoseri Laksana. Tiga orang yang kerap menyampaikan kritik dan masukan mendapatkan gelar pelanggan paling kritis dan sportif. Mereka adalah Adnan Hassanudin dari PO. SAN, Bengkulu, Setyaki Sasongko dari PO. Sumber Kencono, Jawa Timur dan Wibisono dari PO. Karya Jasa, Yogyakarta.

Dalam perencanaan pengembangan Karoseri Laksana, Stefan menargetkan efisiensi yang bisa meningkatkan produktifitas perakitan bodi bus. Kapasitas produksi Karoseri Laksana, menurut Stefan yang juga Direktur Teknik yang membawahi produksi, mencapai 1.200 unit per tahunnya. Karena itu, otomatisasi menjadi target berikutnya dari pengembangan mereka. Dia mengungkapkan mereka mendirikan pusat pelatihan peralatan kerja sendiri untuk meningkatkan kualitas pekerja. “Kami sadar kami harus mengasah kemampuan karyawan kami, untuk itu kami sudah menyiapkan ruang pelatihan khusus untuk meningkatkan kemampuan karyawan,” ujarnya. (naskah : mai/foto : mai)










