(Jakarta – haltebus.com) Musim mudik lebaran setiap tahunnya selalu identik dengan berbagai kerepotan. Mulai kesibukan, kerepotan, belanja, pengeluaran lebih, pendapatan lebih dan lain-lain yang sifatnya ekstra. Tak terkecuali yang orang-orang yang bergelut di bidang jasa transportasi bus, penumpang yang berlimpah di banding hari biasa. Order meningkat dan berbagai macam kesibukan lainnya.

Sekilas dilihat, musim mudik lebaran pasti mendatangkan untung dari sisi pengusaha. Apa benar? Ada yang bilang musim mudik lebaran menentukan hidup matinya perusahaan dalam satu tahun ini karena bisa menutup operasional setahun. Ada juga yang menyatakan, uji kepercayaan atas pelayanan. Ada pula yang sedih.

Nah, dari sisi transportasi tentu musim mudik lebaran punya banyak arti. haltebus.com mencoba menanyakan arti musim mudik lebaran pada beberapa orang. Apa kata mereka?

Angga Vircansa Chairul
Pemilik
PO NPM

Lebaran berarti pertaruhan. Mati-hidup perusahaan untuk tahun itu ditentukan saat Lebaran. Sejak banyak pesawat LCC (Low Cost Carrier), untuk bus AKAP bisa dibilang hari-hari besar seperti: lebaran, liburan dan natal bisa meng-cover cost selama setahun dan dengan sedikit keuntungan.

Setiap tahun kami masih menghadapi masalah yang itu-itu juga: sarana jalan yang memprihatinkan, semakin banyak pungli, dan persaingan dengan moda transportasi lainnya: pesawat terbang, motor & mobil pribadi.

Itu juga menambah resiko kami di jalan karena banyaknya pemudik menggunakan motor. Saya mengharapkan pemerintah memperhatikan jalan dan kualitas BBM jaminan ketersediaan stok. Dari sisi safety juga jangan pengusaha saja yang disalahkan. Kejadian di aek latong jangan hanya PO tertentu saja yang disalahkan.

Andreas D Widjaya
Manager Operasional
PO Blue Star

Lebaran adalah momentum buat saya sebagai Perusahaan Otobus untuk menilai sejauh mana pelayanan yang kami berikan untuk pelanggan. Di musim lebaran indikasi penilaian dari masyarakat bisa dirasakan, mereka bias menilai tingkat pelayanan dari sebuah Perusahaan Otobus. Inti dari layanan jasa transportasi adalah tingkat penerimaan dari pelanggan kami, dimana kami harus bisa memberikan layanan mudik untuk masyarakat secara berkualitas.Pelayanan tidak hanya sekedar armada yang laik jalan, tetapi bagaimana kru bus sebagai ujung tombak yang berhubungan langsung dengan penumpang bisa memberikan yang terbaiknya.

Radinal Mufti
Deputy After-Sales Technic and Services
PT Mercedes-Benz Indonesia

Musim mudik Lebaran adalah musim bagi kami untuk memberikan pelayanan terbaik untuk costumer Mercedes-Benz. Tidak hanya passenger car, namun juga commercial vehicle baik bus maupun truk. Kami siapkan teknisi untuk menjamin kelancaran perjalanan pelanggan kami baik saat berangkat maupun ketika kembali ke rumah. Lebaran, artinya juga siaga bagi teknisi-teknisi kami. Mereka siap menjalankan tugas, rela meninggalkan keluarga untuk memberikan yang terbaik untuk masyarakat. Tahun lalu dari dua titik posko service kami di Kalianda dan Alas Roban, sedikitnya 133 unit bus kami layani.

Helmi Gunadi
Direktur Operasional
Karoseri Trijaya Union

Setiap tahun Lebaran identik dengan kesibukan, kejar target, lembur dan kerepotan demi melayani pelanggan kami. Hamper setiap tahun ada chassis bus yang masuk dan ditargetkan oleh pemiliknya untuk digunakan sebagai angkutan lebaran. Boleh dikata panen untuk setiap pengusaha yang terlibat untuk menyediakan angkutan lebaran. Kami pun begitu, permintaan meningkat. Kami harus bisa berhitung dengan cermat soal waktu, karena sedikit saja kami meleset, maka pemilik bus juga akan rugi armadanya tidak bisa digunakan untuk angkutan lebaran.

Yohan Wahyudi
Asisten Direktur
Karoseri Tentrem

Musim mudik lebaran seperti akhir tahun. Setelah kerja keras dan lembur yang cukup panjang, lalu libur. Seperti sebuah fase. Menjelang lebaran, semua unit yang masuk diminta diselesaikan sebelum masa mudik lebaran. Jadi masa puasa malah jadi waktu kerja yang paling melelahkan. Sudah puasa, masih harus kerja lembur semuanya itu untuk mengejar "jam tayang" yaitu angkutan mudik lebaran.

Setelah fase pengerjaan di karoseri selesai tidak lantas selesai semua urusan. Sewaktu angkutan lebaran berlangsung lebaran, ibarat seperti kertas ujian yang sudah dikumpulkan, tinggal dosen yang menilai hasil kerja keras kami. Dalam hal ini pemilik PO dan penumpang. Kami hanya menunggu info dan masukan-masukan baik kelebihan maupun kekurangan produk kami, agar bisa lebih maju dari karoseri lain.

Buntaran
Pengemudi
PO Subur Jaya

Bagi umat muslim, Idul Fitri artinya hari raya. Merayakan kemenangan setelah sebulan berpuasa berperang melawan hawa nafsu. Namun, bagi kami lebaran itu artinya bekerja ekstra. Disaat orang lain berlebaran di rumah. Kami sebagai pengemudi selalu dijalan karena tuntutan profesi. Saya selalu berusaha menjadi pengemudi profesional. Meninggalkan kepentingan pribadi untuk yang terbaik melayani penumpang.

Disaat orang berbahagia, kami pengemudi bus menjalankan tugas mengantar penumpang berbagai daerah. Apalagi jika mendengar takbir yang bergema di sepanjang jalan yang kami lalui, tak jarang hati ini menangis mengingat keluarga.

Dibalik kesedihan itu terselip rasa bangga karena saya bisa mengantarkan penumpang saya ke daerah masing-masing. Saya menjalani profesi ini sejak tahun 1996, sudah 15 tahun. Selama itu pula keluarga saya protes karena saya tidak ada di tengah-tengah mereka. Saya hanya bisa menjelaskan, ini sudah menjadi tuntuan profesi. Demi menjadi yang profesional. Selamat Hari Raya.

(mai/foto: dok. pribadi/mai/iswahyudi suseno-jakbus)

Banner Content