Kamis, 22 Agustus 2019 Registrasi NewsLetter
User ID:     Password:  
MENU
 
 
EUROLINER, KEMBALINYA ROH RAHAYU SANTOSA
 
30 Desember 2011


(Bogor – haltebus.com)
Ketatnya persaingan antar karoseri mulai terasa. Kurun empat tahun terakhir pasar bus besar di Indonesia sudah dijejali lebih dari 10 model yang muncul dari berbagai karoseri. Tak ingin ketinggalan, karoseri yang berbasis di Bogor, Rahayu Santosa juga membuat gebrakan. “Biasanya kami mengeluarkan model baru empat-lima tahun sekali,” kata Marketing & Product Manager Karoseri Rahayu Santosa, Gunadi Abdullah,


Di penghujung tahun ini, karoseri yang dikenal dengan singkatan RS ini ‘menerbitkan’ edisi baru Euroliner. Nama Euroliner mungkin tak asing bagi anda. Memang Euroliner pernah menjadi model kebanggaan RS di dekade 1990-an. Selain dinilai sukses, model itu menjadi model bus pertama dengan asesori menyilang di kaca pertama disisi kiri dan kanan. Asesori menyilang ini kerap disebut selendang oleh kalangan yang berkecimpung di dunia bus Indonesia.

Lalu bagaimana sosok Euroliner yang baru dirilis minggu lalu? Haltebus.com berkesempatan melihat dari dekat sosoknya, Selasa (20/12/11). Secara garis besar, jika dilihat sepintas model Eoruliner edisi baru ini terlihat sama sekali baru. Gaya baru, desain body bus RS sangat terasa di lambungnya yang lebih sempit dari desain-desain model. Otomatis, kaca pun lebih lebar. “Di tahun 1990-an Euroliner yang kami buat saat itu menjadi tonggak model konstruksi bus baru untuk RS. Karena itu, Euroliner yang sekarang juga adalah konstruksi model baru yang kami perkenalkan,” kata Gunadi.

Kaca samping yang lebih lebar mengharuskan perubahan konstruksi di sisi lambung dan penyangga atap. Meski bentuknya tak terlalu banyak berubah, namun konstruksi sebelumnya diperkokoh agar mampu menyangga lebar kaca yang mencapai 100cm. Begitu pula dengan kaca depan yang lebih tinggi, yang baru pertama kali diaplikasikan pada desain bus RS.

Menurut Gunadi, desain yang dibuat RS sejak 2008 sudah memperhatikan perimbangan titik pusat gravitasi badan bus dan perimbangan berat badan bus dengan chassis. Karena itu, desain yang mereka buat tak hanya mempertmbangkan estetika, tetapi juga keamanan dan keselamatan. “Titik gravitasi dan titik berat karoseri yang membuat bus terasa limbung atau tidak saat dikemudikan,” katanya.

Dengan desain baru, saat pertama melihat, kita pasti menilai tampilan Euoliner berkesan besar, gagah dan kokoh. Kesan ini ditimbulkan dari desain lampu depan yang besar dan lampu belakang yang panjang dan lebar, didukung bagian belakang yang sedikit menggembung. Tak jauh berbeda dengan bus-bus negeri tetangga yang berkesan lebar dan besar. “Lampu depan dan belakang kami pesan khusus,” ujar Gunadi.

Nah, jika dicermati desain ini sesungguhnya tak ubahnya dengan desain bus yang sudah beredar sebelumnya. Ciri khas model RS yang sempat hilang karena kemunculan RS dikembalikan oleh Euroliner. Perlu kecermatan untuk melihat ciri khas RS secara utuh. Pertama, yang paling mudah dilihat adalah lampu depan Euroliner sekilas mirip lampu depan dengan seri terakhir Evo-C. Garis lengkung ‘wajah’ Euroliner juga khas RS.

Kedua, di bagian belakang desain bagian belakang sangat kental rasa RS-nya. Coba perhatikan dan bandingkan lengkung kaca belakang bagian atas dan bawah sama persis dengan Evo-C. Jika dilihat secara frontal, garis lengkung atas pada kaca belakang ini menjadi salah satu ciri khas RS di bagian belakang. Ujung-ujung ‘wajah’ belakang yang membulat sama dengan desain-desain sebelumnya. Di lihat dari samping, perubahan bagian ini hanya dengan membuatnya sedikit lebih menggembung.

Ketiga, di bagian samping, ciri khas RS hanya menyisakan sedikit di kaca terakhir di buritan. Meski bagian ujung atasnya lebih tipis, lengkung bawahnya tak jauh berbeda dari Evo. Sayangnya di sisi samping ini, desainer RS sepertinya belum menemukan asesori yang pas untuk memadukan kaca samping dengan pintu depan seperti halnya Euroliner di era 1990-an.”Konsep kami desain klasik, futuristik dan tampilan baru. Asesori di seputar pintu depan bagian dari futuristik,” kata Gunadi

Mengapa model Evolution yang belakangan disingkat Evo bisa dijadikan tolok ukur ciri khas RS? Mengapa bukan New Celsius? Pada model ini ciri khas RS hanya terasa di dinding samping dan seputar kaca belakang. Gunadi pun mengakui, banyak pelanggan setia yang menyayangkan hilangnya ciri khas RS yang memberikan kesan gagah.

Perubahan kaca samping yang lebih lebar dari edisi sebelumnya, memberi kesan lapang di dalam kabin. Pandangan penumpang menjadi leluasa. tinggi sebelumnya. Nuansa baru juga terasa di kabin. Di bagian plafon tak jauh berbeda dari produk sebelumnya, simpel dan terlihat bersih. Bagasi atas juga tidak banyak berubah. Yang terlihat berbeda adalah pada lampu baca dan louver AC yang simpel namun elegan.

Gunadi menjelaskan, Euroliner sengaja diluncurkan dua minggu menjelang tutup tahun. Hanya ada tiga operator yang mendapat kesempatan pertama menggunakan model terbaru ini. Dua unit untuk operator bus yang beroperasi di Sumatera, satu unit untuk operator bus di Jawa dan satu unit lainnya untuk operator bus di Bali. Ketiganya digunakan untuk bus wisata, seperti karakter kegunaan Euroliner  : Luxury  Bus Coach. Ini menjadi bagian strategi memperkenalkan Euroliner pada masyarakat luas. “Sekalian kami masih mencari masukan, karena masukan menjadi sangat berharga untuk perbaikan produk kami,” kata dia.

Soal harga bagaimana ya? Sambil tersenyum, Gunadi hanya menjawab, “Kompetitif-lah kalo soal harga dibanding yang lain.” Dia hanya menjelaskan, kehadiran Eruoliner menjadi pelengkap model sesuai kebutuhan pelanggan RS. Ada kelas Silver yang diisi seri Evo, ada kelas Gold yang diisi New Celsius dan kelas Platinum yang diisi Euroliner. Posisi Euroliner di kelas Platinum ini bisa memberi sedikit gambaran kisaran harga yang tak mau dibeberkan oleh Gunadi.(naskah: mai/foto-foto: istimewa)
 
 

Home   |   Tentang Kami   |   Halte Berita    |   Profil    |   Sudut Halte    |   Halte Advertorial    |   Halte Manca    |   Halte Wisata    |   Hubungi Kami   |   Registrasi Newsletter
haltebus.com © Copyright 2011 - 2013