Stevan mengungkapkan, uji konstruksi kursi yang dikenal dalam standar UN ECE sebagai standar UN ECE.R80 ini adalah bagian dari peningkatan kualitas produk mereka. Setelah pengujian konstruksi rangka bus tahun lalu yang dinilai memenuhi standar UN ECE, lanjut dia, Karoseri Laksana bersama pemangku kepentingan seperti Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dan Kementerian Perhubungan terus mengevaluasi standar kualitas bus. Kebetulan, kata dia, apa yang direncanakan oleh Karoseri Laksana, sejalan dengan program pemerintah memperbaiki kualitas transportasi umum.
Apa yang diujikan oleh Karoseri Laksana? Menurut Ketua KNKT, Soerjanto Tjahjono, awal pertama kali keprihatinan mereka saat terjadi kecelakaan yang merenggut nyawa belasan penumpang bus di jalan tol beberapa tahun lalu. Saat itu, lanjut dia, KNKT melihat ada yang perlu didalami terkait konstruksi bus yang aman bagi penumpang. Lalu, ketika KNKT bekerja sama dengan ITB berkunjung ke berbagai karoseri di Indonesia, Karoseri Laksana menyambut baik rencana standarisasi konstruksi bus yang aman untuk penumpang.

Atas dasar itu, kata Soerjanto, mereka berkomunikasi dengan Karoseri Laksana untuk membuat simulasi ketahanan beban konstruksi pada kursi bus. Dia berharap, ada hal yang bisa dijadikan acuan agar perjalanan masyarakat naik bus bisa lebih aman. Setidaknya struktur kursi sebagai bagian terpenting bus dalam mengangkut orang bisa diketahui standard keamanannya.

Ketika beban mulai dilepaskan atau kursi mulai ditarik di dua titiknya, perlahan-lahan tali baja dan alat uji hidrolik mulai menguat tarikannya. Tidak terjadi apapun pada struktur sandaran kursi. Bentuknya tidak berubah, tidak bengkok maupun patah hingga beban yang diproyeksikan tercapai. “Ada deviasi 12 cm dari bagian atas kursi ini, standar UN ECE.R80 minimal 100 cm, sedangkan di bagian bawah ada deviasi 8,5 cm dan standar UN ECE.R80 minial 50 cm. Kursi ini masih sangat aman,” kata Listiawan.



Apa rahasia kekuatan ini? Yogi Hadiwijaya staf Tim Engineering Karoseri Laksana menjelaskan, ada beberapa hal penting di struktur lantai. Pertama, aplikasi besi U sebagai lantai rel alumunium. Baut yang digunakan untuk menahan rel pada bagian lantai juga bukan baut ulir melainkan baut yang diperkuat dengan mur dan ring penahan. “Kami menempatkan besi U yang menjadi landasan untuk memperkuat rel dan dudukan kursi,” kata dia dalam penjelasannya.
Resep berikutnya, ada baut penahan berdiameter 10 mm dengan ketebalan besi penahan 6 mm yang mengikat rel dengan kaki kursi. Alas kaki kursi juga menggunakan baja dengan penampang 48 mm. Rel alumunium cor setebal 3 mm di bagian atas dan 6 mm di bagian dasarnya serta lebar penampang 48 mm. Penampang kaki kursi dibuat sama lebarnya dengan lebar rel agar posisi berdirinya lebih kokoh.


Dalam pengamatan haltebus.com, di luar penampang landasan dan konstruksi kaki kursi, masih ada titik keunggulan lain yang mampu menahan beban di sandaran kursi. Selain bahan baja untuk rangka kursi, ada pula penguat siku yang terbuat dari baja dengan ketebalan 8 mm yang terletak di sudut kursi bagian bawah sandaran.
Semua proses pembuatan kursi yang dikerjakan di Karoseri Laksana juga membuat nilai tambah karoseri itu untuk mendesain kursi yang sesuai dengan standard UN ECE.R80. Kursi yang dibuat oleh Karoseri Laksana itu memiliki berat 36 kg untuk konfigurasi 2-2. Rangkanya dibuat melibatkan dua lengan robot yang masing-masing bisa menyelesaikan kebutuhan rangka kursi untuk dua unit bus per hari.
Direktur Prasana Ditjen Perhubungan Darat, Kemenhub, Sigit menyampaikan rasa terima kasihnya atas kesediaan Karoseri Laksana mempelopori standar kendaraan bus yang baik. Menurut dia, uji kemampuan bus yang dilakukan oleh Karoseri Laksana bisa menjadi bahan evaluasi pemerintah untuk perbaikan angkutan bus di masa mendatang. “Jangan sampai Laksana yang bagus, (sementara) yang lain tidak bagus….Hasil ini akan kami sharing ke teman-teman karoseri lain agar setara untuk semua produk,” katanya. (naskah : mai/foto : mai)










