(Jakarta – haltebus.com) PT. Pertamina dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) meluncurkan dua Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum di Jakarta, Kamis (5/8/21). Peluncuran ini adalah kerja sama dalam pengembangan stasiun pengisian listrik untuk umum agar percepatan implementasi kendaraan listrik bisa segera terjadi.
“Transisi energi secara global adalah suatu keniscayaan, ini yang melatarbelakangi pertamina untuk mendukung program-program pemerintah, dimana kita sama-sama ketahui target pemerintah untuk zero emission sebelum 2050,” kata Direktur Utama PT. Pertamina Nicke Widyawati di sela-sela peluncuran.
Menurut Nicke, PT. Pertamina sebagai Badan Usaha Milik Negara yang bergerak dalam bisnis bahan bakar fosil mendukung upaya transisi energi yang ditetapkan pemerintah. Jika pemerintah sudah menargetkan penurunan emisi karbon 29 persen di 2030, lanjut dia, PT. Pertamina menargetkan 30 persen di 2030. Dia mengungkapkan, pada periode 2010-2020, pengurangan energi fosil yang dilakukan PT. Pertamina sudah mengurangi emisi karbon hingga 30 persen.

SPKLU MT Haryono dan Lenteng Agung

Infrastruktur listrik BPPT-Pertamina
Kerja sama dengan BPPT, lanjut dia, adalah bagian dari upaya menurunkan lebih banyak emisi lagi, yang sebagian besar disumbang oleh sektor transportasi. Nicke menyebut, target penurunan emisi di sektor transportasi ini sebagai pekerjaan rumah besar bersama. Karena itu, pihaknya membuka peluang kerja sama dengan berbagai pihak dalam mengupayakan peralihan energi ini.
Beberapa tahun terakhir, lanjut Nicke, PT. Pertamina, juga terlibat dalam membangun ekosistem di kendaraan listrik. Baik melalui aplikasi terkait SPKLU maupun kerja sama dari hulu ke hilir. Dia mengungkapkan pihaknya terlibat dalam Indonesia Battery Corporation, yang mengelola baterai dari hulu ke hilir, termasuk penukaran baterai.

Sistem pengisian daya listrik

Stakeholder kendaraan listrik
Selain bekerja sama, secara perlahan, menurut Nicke, PT. Pertamina juga telah mengubah penggunaan energi listrik yang lebih ramah lingkungan di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Penempatan solar panel, untuk sumber tenaga listrik yang terbarukan sudah dilakukan di 100 SPBU.
“Dalam waktu dekat kami juga akan meluncurkan green energy station. Hari ini ada 100 SPBU yang sudah menggunakan solar PV, listriknya digunakan untuk SPKLU juga, sudah green energy. Target kami ada 250-300 juga menerapkan listrik yang ramah lingkungan,” katanya
Sementara itu, Kepala BPPT Hammam Riza menyambut baik kerja sama dengan PT. Pertamina, untuk penerapan program transisi energi ini. Menurut dia, pihaknya menyiapkan kajian penerapan dari hulu hingga hilir, yang bisa menjadi acuan seluruh pemangku kepentingan. Ada kajian regulasi, kajian teknis infratruktur, hingga kajian model bisnisnya.

Perjanjian Paris

Rasio impor BBM
“BPPT mendukung kajian teknologi, kajian regulasi dan kajian lainnya untuk standar SPKLU untuk seluruh stakeholder. Potensi bisnisnya juga kami sampaikan, termasuk Stasiun Penukaran Baterai Kendaraan Listrik Umum (SPBKLU),” kata Hammam.
Hammam mengungkapkan, electromobility dalam perkembangannya tidak bisa dihindari. Menurut dia, mobilitas berbasis kendaraan listrik ini bergerak lebih cepat, seiring pemimpin-pemimpin dunia sepakat mengurangi dampak perubahan iklim dengan pengurangan emisi karbon. Indonesia termasuk negara yang ikut meratifikasi Perjanjian Paris yang berisikan kesepakatan dunia untuk mengurangi perubahan iklim (climate change).

Dia menambahkan, sebagai dampaknya, diperkirakan ada sedikitnya 145 juta unit kendaraan listrik pada 2030 secara global. Data ini diungkap oleh Badan Energi Internasional pada Maret 2021. “Implementasi Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB) akan menurunkan impor BBM terutama bensin sebesar satu juta barel pada 2020 dan 303 juta barel hingga 2050. Dengan asumsi Rp. 15.000 per USD $1, ada penghematan USD $5,86 miliar atau setera Rp. 87,86 triliun,” katanya.
Dalam kerja sama dengan PT. Pertamina, Hammam menyebut, BPPT menyiapkan SPKLU secara lengkap. Ada pengisi daya listrik untuk kendaraan roda dua dan roda empat yang mereka sebut dengan SONIK. Ada SONIK R2 untuk kendaraan roda dua, ada SONIK AC (22 kW) dan SONIK DC (50 kW) yang sudah dilengkapi CSMS berbasis website untuk operator SPKLU dan CSMS berbasis aplikasi telepon pintar untuk pengguna.

Perkiraan pertumbuhan kendaraan listrik

Produk PT. Optima Integra Tehnika
Besarnya peluang usaha di bidang listrik transportasi, diakui oleh Direktur Operasional PT. Optima Integra Tehnika, Jazaly Firdaus. Secara terpisah, dia mengungkapkan, pemerintah membuka pengembangan bisnis infrastruktur pengisian daya listrik untuk kendaraan. Dia mengatakan, PT. OIT, salah satu perusahaan swasta yang sudah mengantongi ijin usaha SPKLU dari Kementerian Energi Sumber Daya Mineral.
“Kami sudah siap dengan pengisi daya listrik, mulai untuk kendaraan roda dua, roda empat, hingga bus. Khusus untuk bus, detilnya kami perlu berdiskusi dengan pabrikan pembuat bus karena secara teknis apa yang perlu kami siapkan supaya bisa compatible dan efektif untuk pengisian daya listriknya,” kata pria yang akrab disapa Yosi ini.

Instalasi di Area Parkir

Instalasi Optima Integra
Yosi menjelaskan, saat ini pihaknya sudah memulai instalasi di lima kota di Indonesia. Ada di dua provinsi, DKI Jakarta di Sudirman Park dan Bali bekerja sama dengan Jasa Marga Bali. Dia juga mengungkapkan, pihaknya juga menjajaki kerja sama dengan ITDC Nusa Dua, Agung Podomoro Group, Perusda Jabar dan PT LEN. Targetnya, hingga akhir tahun 2021, lanjut dia, PT.OIT bisa menempatkan infrastruktur pengisian daya listrik di 200 titik.
Dalam portofolionya, PT. OIT menargetkan penempatan SPKLU di pusat perbelanjaan, area parkir umum, area parkir perkantoran, area parkir tempat wisata, area peristirahatan jalan tol, hotel dan juga perumahan/apartemen/lokasi hunian. Yosi menambahkan, pemerintah akan menginformasikan dareah-daerah yang memerlukan SPKLU secara berkala. Peluang untuk menambah SPKLU bisa terus bertambah seiring kebutuhan masyarakat.
Bahkan, PT. OIT juga sudah menyiapkan rencana untuk stasiun pengisian listrik untuk bus. Bukan hanya yang dibutuhkan saat bus bermalam di pool, tetapi juga di titik-titik rute berupa sistem pengisian melalui pantograf. Sistem ini diklaim aman dan efisien. Daya pengisian mencapai 5 kW per 20 detik. Insfrastruktur khusus bus itu bisa juga ditempatkan di terminal atau titik berkumpulnya bus dalam rentang waktu tunggu relatif lama di sela-sela jam operasional.

Statistik SPKLU BPPT

Software SPKLU BPPT
Selama beroperasi, SPKLU yang dikelola BPPT sudah digunakan 968 kali dengan konsumsi energi 16,9 MWh. Lokasi SPKLU di Lenteng Agung dan MT. Haryono menjadi titik yang paling banyak digunakan. Selain karena aksesnya mudah, juga beroperasi selama 24 jam. Dalam catatan BPPT, kendaraan taksi paling banyak menggunakan SPKLU mereka, dari transaksi yang tercatat 2019 hingga 2021, ada 3.023 transaksi dengan total pemakaian 71,89 MWh. (naskah : mai/foto : mai)



















