Banner Top

(Jakarta – haltebus.com) Armada baru bus listrik di Singapura kini didukung pengisi daya (charger) pantograf yang didukung sistem pengisian cepat. Mulai rabu (25/8/21) 20 armada bus listrik secara bertahap diluncurkan untuk melayani beberapa rute di negara kota itu. Dalam kunjungan ke Terminal Bus Bukit Panjang untuk melihat armada baru tersebut, Menteri Perhubungan Singapura, S Iswaran mengatakan salah satu tantangan untuk mencapai tujuan ini adalah transisi dengan armada bus berbahan bakar solar yang ada.

“Mereka memiliki siklus hidup tertentu, dan jika Anda mendepresiasi mereka atau Anda menghentikannya terlalu dini, itu boros secara ekonomi; dan di tingkat angkutan umum, kita harus menanggung biaya itu. Kita harus menukarnya dengan keinginan untuk mencapai armada bus energi yang lebih bersih, lebih cepat,” katanya seperti dikutip dari channelnewsasia.com.

Bus listrik yang baru saja dioperasikan ini adalah batch terakhir dari 60 bus listrik yang dibeli Land Transport Authority (LTA) Singapura pada tahun 2018 seharga S$50 juta dari tiga pemasok. Sebanyak 20 unit bus armada baru ini dipasok dari ST Engineering Mobility Services. Bus single decker menjadi bus listrik pertama di Singapura yang hadir dengan tiga pintu, ‘untuk arus komuter yang lebih baik’.

Menurut Iswaran, langkah untuk meluncurkan bus listrik baru sangat signifikan. Dia menyebut, “Tidak terlalu banyak dalam jumlah bus, tetapi dalam jenis solusi yang sedang dicoba.”

Pantograf sedang mengisi listrik pada bus/Cherryl Lin-channelnewsasia.com

“Karena begitu LTA dan pemangku kepentingan lainnya memiliki pemahaman yang lebih baik – berdasarkan data dan teknologi – tentang bagaimana ini berkembang dan bagaimana hal itu dapat diterapkan dalam konteks kita, maka saya pikir kita dapat meningkatkan dengan lebih percaya diri,” katanya menambahkan. .

Masing-masing bus bisa menampung sekitar 83 orang dan beroperasi untuk layanan rute 38, 40, 176 dan 976. Berbeda dengan 40 bus listrik sebelumnya yang menggunakan pengisian daya listrik plug-in, bus baru ini akan menggunakan pengisi daya pantograph. Pengisi daya listrik ditempatkan di atas atap bus yang didukung sistem pengisian daya lebih cepat.

Bus listrik berhenti di tempat khusus, di mana pengisi daya pantograf yang dipasang di atas atap akan diturunkan setelah diaktifkan oleh pengemudi. Bus kemudian akan diisi daya hingga 450kW selama waktu singgah singkat. Sekitar 10 hingga 15 menit.

Dengan cara seperti itu, bus akan dapat melakukan perjalanan sekitar 48 km. Rute terpanjang yang akan dilayani armada bus ini, yakni di layanan 176 sepanjang 43 km, perjalanan pulang pergi. Jika diisi selama 30 menit, armada bus listrik dapat menempuh jarak hingga 130 km. Empat stasiun pengisian pantograf terletak di Persimpangan Bus Bedok Dan Bukit Panjang. Di setiap titik pantograf disediakan kotak pasir.

20 unit bus listrik single decker batch terakhir mulai melayani Singapura /photo : ST Engineering

Metode pengisian daya ini lebih cepat daripada pengisian daya plug-in. Metode plug-in, mengharuskan bus diisi daya antara 90kW hingga 150kW selama dua hingga empat jam. Hanya bisa diisi saat bus tidak beroperasi di waktu malam.

Singapura mendatangkan bus-bus listrik untuk memudahkan akses penumpang. Pintu depan bus tidak ada tiang di tengah, tidak seperti bus yang ada sebelumnya. Pengguna kursi roda dapat naik dan turun dari pintu tengah. Armada baru juga akan lebih senyap dibandingkan bus diesel konvensional. Pengoperasian armada bus batch pertama ini dilakukan ditengah rencara Singapura untuk memiliki armada bus dengan bahan bakar energi yang lebih bersih pada 2040. Saat ini, Negara jiran itu memiliki total armada bus sekitar 5.800 unit.

“Jadi sekarang, saya akan mengatakan bahwa ini adalah fase kunci di mana jumlahnya mungkin tidak besar, tetapi dalam hal data dan informasi yang ditinjau – yang akan menginformasikan keputusan pengadaan kami di masa depan,” kata Iswaran menjelaskan.

Iswaran menambahkan, mencoba berbagai jenis sistem pengisian daya, juga penting. “Mungkin kita harus mempertimbangkan untuk menggunakan kombinasi teknologi ini.”

Menteri Transportasi Singapura S Iswaran meninjau bus listrik/Cherryl Lin-channelnewsasia.com

Dalam kesempatan itu, Iswaran juga mengungkapkan, pengoperasian bus listrik ini sudah memberikan penghematan biaya operasional hingga 50 persen per Km. jika dibandingkan dengan bus diesel konvensional, tentunya. Selain itu, pengurangan kebisingan juga dirasakan sangat signifikan.

“Pengalaman sejauh ini adalah, kinerjanya sesuai dengan spesifikasi yang telah diberikan oleh pabrikan. Jadi kalau digabung, artinya upaya awal dengan bus listrik pada dasarnya sudah sesuai harapan. Dan itu bagus karena artinya dapat mendukung keputusan kami untuk pengadaan di masa depan,” katanya. (naslah mai/foto : Cherryl Lin/channelnewsasia.com/dok. ST Engineering)

Banner Content

Related Article