(Jakarta – haltebus.com) PT. Maya Saribakti Utama (MSU) menjadi operator bus perkotaan pertama di Indonesia yang mengoperasikan bus listrik. Perusahaan bus kota tertua di Jakarta yang masih melayani angkutan kota itu juga tercatat pemilik bus listrik terbanyak untuk saat ini. Kamis (9/6/22) di Depo Bus Listrik di Cibubur, Jakarta Timur, manajemen PT. MSU menunjukkan instalasi listrik pendukung operasional bus-bus BYD K9 yang awal Maret lalu secara resmi dioperasikan.

 

“Dengan beroperasinya bus listrik ini, kami berterima kasih pada Pemprov DKI Jakarta khususnya Dinas Perhubungan DKI Jakarta dan PT. Transportasi Jakarta yang telah memberikan kesempatan PT. Mayasari Bakti sebagai operator pertama yang mengoperasikan bus listrik. Tetunya melalui mekanisme proses pengadaan yang berlaku. Jadi kami ikut proses pengadaan yang ada di Transjakarta,” ujar Wakil Direktur Mayasari Bakti, Achmad Zulkifli.

 

Mayasari Bakti didirikan Engkud Mahpud dan Siti Muniroh pada tahun 1969, satu-satunya operator bus kota swasta tua yang masih bertahan di Jakarta/mai

Mayasari Bakti menjadi operator bus listrik pertama di Indonesia pemilik 30 unit bus listrik BYD K9/foto : mai

Sejak tahun 2015 Mayasari Bakti menjadi operator mandiri mitra PT. Transjakarta dengan jumlah armada hingga saat ini 419 unit bus beragam ukuran/ foto : mai

Menurut Zulkifli, sejak tahun 2015 pihaknya sudah berdiri sendiri dalam layanan di Transjakarta, memiliki armada 419 unit bus beragam ukuran. Sebelumnya pada 2006-201, Mayasari Bakti bergabung dalam konsorsium yang terdiri dari beberapa perusahaan angkutan di DKI Jakarta. Ketika Pemprov DKI Jakarta memiliki program transportasi bersih (zero emission), Mayasari Bakti berinvestasi untuk pembelian bus listrik  dan juga instalasi pendukungnya.

 

Ada 10 charging station yang dibangun di Depo khusus bus listrik di Kawasan Cibubur, Jakarta Timur. Pengisi baterai listrik bus listrik BYD K9 itu termasuk kategori Ultra Fast Charging setiap unitnya memiliki kapasitas pengisi baterai 2×100 kWh. Mayasari Bakti, menurut Zulkifli, bekerja sama dengan PT. Powerindo Prima Perkasa untuk membangun instalasi listriknya dan juga PT. PLN Distribusi Jaya yang memasok listrik 2.500 kVA.

 

Zulfikli menyatakan, ini hal baru bagi mereka. Karena itu, pihaknya bekerja sama dengan vendor baik PT. Bakrie Autopart selaku Pemegang Merek BYD di Indonesia maupun PT. PPP yang menyiapkan charging station. “Kalo mengoperasikan bus diesel, kan kita beli BBM di SPBU, mana ada kita punya bus lalu membeli sekaligus SPBU nya. Nah bus listrik ini, kami beli busnya, juga SPKLU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum). Investasinya? Bisik-bisik aja ya angkanya, yang jelas kami beli alatnya dari Powerindo, listriknya beli dari PLN,” kata Zulkifli berbagi pengalaman mereka.

 

Ada 10 charging station berkapasitas 2×100 kWh yang melayani pengisian baterai 30 unit bus listrik/ foto : mai

Pengisian baterai BYD yang berkapsitas 300 kWh lebih hanya dilakukan di Depo/ foto : mai

Panel indikator pengisian baterai pada dashboard/ foto : mai

Alur operasional di Depo khusus bus listrik pun tak sama dengan bus diesel. Pengemudi bus yang beroperasi di layanan Transjakarta Rute 1P (Senen-Blok M) dan 1N (Tanah Abang-Blok M) hanya bertugas hingga di area parkir pengecekan setelah beroperasi. Tugasnya lalu diambil alih pengemudi khusus yang diawasi oleh PT. Bakrie Autopart, khususnya tim purna jual BYD, yang memindahkan bus dari area pembersihan bus  ke area pengisian baterai. “Kami mendampingi tim Mayasari dan BYD untuk pengisian baterai. kami diberi window time (waktu pengisian) lima jam. Di sini kami membantu mengawasi proses supaya aman karena bagaimanapun in ikan menyangkut arus listrik dalam jumlah besar,” kata Engineering Manager PT. PPP, Yimmy Roanld menjelaskan.

 

Pengisian baterai, menurut Yimmy memakan waktu 1,5 jam untuk satu bus. Dengan 10 charging station, estimasi pengisian tiga sorti di setiap lima jam pengisian bisa tercapai. Satu charging station, kata dia, melayani tiga unit bus. Meski rentang jarak sumber listrik/Gardu  PLN lebih dari 100 meter untuk titik terjauh charging station, dia menjamin daya listrik yang dibutuhkan untuk pengisian baterai di setiap charging station sama. Menurut dia, ada tiga trafo distribusi yang mendukung kinerja seluruh charging station.

 

Yimmy menambahkan, keamanan dan keselamatan selama  pengisian baterai menjadi perhatian semua pihak yang terlibat di Depo bus listrik Mayasari Bakti. Pemantauan selama pengisian, lanjut dia, lebih mudah karena semua peralatan diatur secara digital. “Pengisian baterai kendaraan listrik tidak sama dengan bus konvensional. Ada Battery Management System (BMS) yang memantau semua yang terjadi di baterai. Kami harus berkomunikasi dengan BYD untuk memastikan alat yang tepat, seperti misalnya system plug-in apa yang dipakai. Pengisian baterai ini ada komunikasi antara alat charging dengan BMS pada bus, kalau ada anomali, pengisian baterai tidak bisa jalan,” katanya.

 

Port charging di bodi bus/foto mai

Sistem pendinginan baterai mengamankan sistem kerja baterai agar tidak mudah panas/foto : mai

Mayasari Bakti berhati-hati dalam pengoperasian bus listrik mengingat investasi yang tak sedikit/ foto : mai

Saat akan mendemonstarsikan pengisian baterai, salah bus dijalankan di area Depo untuk menunjukkan alur operasional di dalam Depo. Tiba-tiba saja bus berhenti tanpa ada indikator kerusakan yang seharusnya muncul di panel di dashoard pengemudi. Setelah dicek keseluruhan di bagian luar bus, ternyata ada salah satu panel bodi yang terbuka, yakni tutup port charging di bodi bus. “Tadi sewaktu teman-teman kami tunjukkan fungsi bus, panel di port charging sengaja tidak kami tutup. Kami sudah tahu bus akan berhenti, tidak mau jalan karena ada sensor keamanan operasional yang tertanam di bus. Begitu ditutup, bus bisa jalan lagi,” ujar After Sales Service Manager PT. Bakrie Autopart, Eka Saputra.

 

Eka menambahkan, bus BYD K9 yang berlantai rendah ini juga aman dioperasikan di Jakarta. Dalam Standar Prosedur Operasional Transjakarta, Ketika ada genangan air 20 cm, bus harus stop operasi. Dia mengakui, masih banyak pihak yang belum terbiasa dengan pengoperasian bus listrik yang masih sangat baru di Indonesia.

 

Persiapan untuk tambahan charging station di Depo Mayasari Bakti/foto : mai

Komputerisasi distribusi daya listrik yang menjaga keamanan selama operasional charging station/ foto : mai

Trafo distribusi yang memastikan arus listrik dijaga stabilitasnya/ foto : mai

Pihak Mayasari pun tak mau gegabah dalam operasional bus listrik ini, disamping investasi yang besar karena menyiapkan sendiri infrastrukturnya, juga terkait bus dengan teknologi baru dan listrik tegangan tinggi. Seluruh perawatan, menurut Zulkifli, dipegang sepenuhnya oleh PT. Bakrie Autopart. Namun, Zulkifli tak menampik pihaknya akan ikut dalam pengadaan bus listrik tahap dua yang rencananya ada sebanyak 44 bus listrik. PT. Transjakarta menargetkan pengoperasian 100 unit bus listrik hingga akhir 2022 dan pada tahun 2030 diharapkan bisa mengoperasikan 10 ribu armada kendaraan listrik.

 

“Transjakarta melakukan prses pengadaan, dan itu diberikan kesempatan kepada seluruh operator. Mayasari ini masih cukup luas, jadi insting bisnis Mayasari untuk membangun  apalagi arahnya sudah bus listrik. Ya kita akan mencoba peruntungan untuk proses pengadaan,” kata Zulkifli. (naskah : mai/foto : mai)

Banner Content