Rabu, 14 April 2021 Registrasi NewsLetter
User ID:     Password:  
MENU
 
 
KENYAMANAN PENUMPANG BUS ADA DIMANA?
 
16 Desember 2013


(Jakarta – haltebus.com) Saat kita membahas bus yang sering didiskusikan adalah bagaimana modelnya? Seperti apa kenyamanannya? Apakah limbung? Dan sederatan pertanyaan lainnya yang terkait bodi bus. Sadarkah kita bahwa ada faktor lain yang tak kalah pentingnya dalam hal kenyamanan? “Bentuk kursi harus diperhatikan, jangan sampai penumpang merasa tak nyaman apalagi sampai pegal-pegal,” ujar Direktur PT. Rimba Kencana Permadi kepada haltebus.com, Senin (25/11/13), saat ditemui di workshop-nya di Malang.

Menurut Permadi, meski chassis bus mendukung kenyamanan penumpang, bodi bus juga dibuat agar penumpang tak terguncang-guncang, soal kursi tak boleh diremehkan. Dia mengatakan, kebanyakan bus di Indonesia dioperasikan untuk perjalanan yang boleh dibilang panjang, durasi lebih dari lima jam. Entah bus pariwisata maupun bus antar kota antar provinsi. Posisi duduk penumpang dalam kondisi seperti itu tentulah harus diperhatikan.

Ada berbagai konfigurasi kursi yang umumnya dipasang di dalam bus berukuran besar. Permadi mengatakan, ada bus dengan konfigurasi kursi 2-3 untuk bus ekonomi dengan kapasitas 54-59 kursi, 2-2 untuk bus eksekutif 24-38 kursi dan bus super eksekutif 2-1 untuk 18-24 seat. Konfigurasi kursi, menurut Permadi, dipengaruhi oleh kapasitas angkut yang diinginkan operator bus. Hal ini juga yang berdampak pada jarak antar kursi. "Terkadang jarak antar kursi yang sempit membuat kursi tak nyaman diduduki," ujarnya.

Selanjutnya, ada beragam jenis kursi yang dapat kita temui di berbagai bus. Agus Yanto dari C71, pembuat kursi asal Yogyakarta, memaparkan ada kursi dengan sandaran tetap dan bergerak, yang bisa diatur sudut kemiringannya, biasa disebut reclining seat. Untuk kursi dengan sandaran tetap, kata pria yang biasa disapa Yanto, biasanya digunakan untuk bus ekonomi non-AC dengan konfigurasi 2-3. Ada pula bus AC ekonomi yang menggunakan jenis kursi ini.

Sedangkan kursi dengan sandaran bergerak umumnya digunakan pada bus AC non-ekonomi dengan konfigurasi 2-2 sampai super eksekutif berkonfigurasi 2-1. Yanto yang juga kerap mereparasi kursi bus ini mengungkapkan, di tahun 1990-an ada tren untuk kursi dengan konfigurasi 2-3 yang sandarannya bergerak. Alhasil, sampai sekarang tak jarang kita bisa menemukan kursi bus dengan konfigurasi 2-3 sandarannya bisa disesuaikan. "Sekarang kursi banyak ragamnya, teknologi reclining seat dulunya mengandalkan pegas atau putaran besi ulir (untuk bus ekonomi), kini banyak menggunakan tuas hidrolik," katanya.



Bentuk sandaran maupun dudukan kursi juga berpengaruh pada kenyamanan. Menurut Yanto, meski skalanya masih industri rumahan, C71 mulai memperhatikan bentuk sandaran kursi. Ada sandaran dengan bentuk rata, ada yang ditambahi sayap, ada pula yang lebih tebal. Bentuk sandaran kursi, lanjut dia, disesuaikan dengan bentuk tubuh rata-rata orang Indonesia. Begitu pula dengan tebal-tipisnya dudukan kursi yang tak luput dari perhatiannya. Menurut dia, tuntutan konsumen akan kenyamanan membuat para pemain di industri kursi bus harus berkreasi membuat kursi yang terbaik. "Banyak masukan yang membuat kami juga harus membuat beragam bentuk sandaran. Tentunya agar penumpang lebih nyaman," ujar dia.



Berdasarkan konfigurasi ini kita bisa mengidentifikasikan tingkat kenyamanan dalam enam kelas. Di tingkat yang terbawah ada kursi dengan sandaran tetap dengan konfigurasi 2-3. Berikutnya, di atasnya ada kursi dengan konfigurasi 2-3 tetapi sandarannya bisa disesuaikan kemiringannya. Keempat, kursi dengan konfigurasi 2-2 dan sandaran bergerak. Ketiga, kursi dengan konfigurasi 2-2 dengan sandaran bergerak tetapi juga dilengkapi dengan sandaran kaki. Kedua, kursi dengan konfigurasi 2-2 lengkap dengn sandaran kaki, namun ukurannya lebih lebar. Dan yang paling nyaman adalah kursi dengan konfigurasi 2-1.



Namun, kategori ini bisa terus berkembang seiring kebutuhan penumpang bus. Belakangan bahkan ada kursi yang dilengkapi dengan pengatur sandaran elektrik yang diimpor dari luar negeri. Permadi mengaku, pihaknya tak pernah berhenti mencari terobosan agar penumpang bisa duduk nyaman. Dengan workshop yang didukung beragam peralatan, dia menjelaskan, inovasi dalam membuat kursi untuk bus harus terus berkembang. Dia bahkan membentuk bagian belakang sandaran kursi yang bisa membuat kaki penumpang terasa longgar, untuk mengantisipasi pemasangan kursi berjarak rapat.

Tuntutan penumpang, lanjut Permadi, tak hanya memperhatikan kenyamanan duduk selama perjalanan bus. Berkembangnya teknologi menjadi kebutuhan baru masyarakat ternyata juga berdampak pada pembuat kursi. "Mulai tahun 2013 muncul permintaan bagaimana menyediakan stop kontak listrik di setiap kursi," kata Permadi.

Kepuasan penumpang dalam perjalanan sebuah bus melibatkan beragam aspek yang komplek. Mulai dari sekedar duduk, bisa duduk dan tidur dengan nyaman selama perjalanan hingga bisa mendukung mobilitas pekerjaan. Perlombaan menghadir kenyamanan bukan hanya milik pabrikan chassis dan karoseri bus, melainkan juga melibatkan pembuat kursi. (Naskah: mai/foto-foto : mai)
 
 

Home   |   Tentang Kami   |   Halte Berita    |   Profil    |   Sudut Halte    |   Halte Advertorial    |   Halte Manca    |   Halte Wisata    |   Hubungi Kami   |   Registrasi Newsletter
haltebus.com © Copyright 2011 - 2013