(Jakarta – haltebus.com) Tidak pernah terbayangkan sebelumnya dalam pikiran Ketua Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia Kurnia Lesani Adnan bertemu dengan asosiasi pengusaha bus dari negara lain. Kamis (21/3/19) menjadi hari yang penting bagi IPOMI, yang juga mengundang Ketua Umum Organisasi Pengusaha Angkutan Darat (Organda), Adrianto Djokoseotono bertemu dengan Bus Operator Confederation of India (BOCI).
Dipimpin oleh President BOCI, Prasanna Patwardhan, pengusaha bus India ingin belajar dari pengalaman pengusaha bus di Indonesia. “Kami ingin belajar dan berbagi pengalaman dengan pengusaha bus di Indonesia, kami ingin mendapatkan informasi tentang pengelolaan transportasi bus dari negara lain,” kata Prasanna saat bertemu dengan IPOMI di sela-sela Pameran Busworld South East Asia.
Sejak September lalu, BOCI sudah tertarik untuk berkunjung ke Indonesia bersamaan dengan Busworld South East Asia. BOCI adalah salah satu partner Busworld International, dan menjadi mitra untuk Busworld India. Organisasi yang memiliki 6.000 anggota itu belum lama terbentuk, dan menjadi wadah berkumpulnya operator bus di sana. President of Busworld International, Didier Ramoudt menjembatani pertemuan kedua mitranya dari dua negara yang berbeda itu.

Selama pertemuan dengan IPOMI dan Organda, Prasanna banyak bertanya tentang bagaimana pengusaha bus di Indonesia menjalankan usahanya. Kebetulan, Kurnia Lesani Adnan dan Wakil Ketua IPOMI Angga V. Chairul adalah pengusaha bus yang. Pertanyaan yang diajukan sangat teknis terkait regulasi dan operasional. “Bagaimana anda membayar pajak? Bagaimana regulasi tentang rute bus di sini? Kami ingin membandingkannya dengan di India,” kata pria pemilik perusahaan transportasi Prasanna Grup.
Ketua Umum Organda Adrianto Djokosoetono, juga tak kalah antusiasnya. Dia mengungkapkan, diskusi itu menambah wawasan baru pengusaha, khususnya pengusaha bus di Indonesia. Adrianto yang juga Presiden Direktur Blue Bird Grup ini mengaku informasi tentang bagaimana pengusaha bus di India menjalankan usahanya mirip dengan apa yang dialami di Indonesia. “Kita perlu belajar juga, berbagi pengalaman dengan pengusaha di India, sehingga kita punya benchmark untuk memperbaiki kondisi usaha transportasi agar lebih baik lagi,” katanya.


Pada pertemuan itu, Prasanna juga sempat menyebutkan beberapa peraturan yang cukup rumit. Untuk bus antar kota misalnya, ada beberapa ijin yang diperlukan agar bus bisa beroperasi. Ijin trayek/rute dari pemerintah federal, ijin domisili dari negara bagian, ijin dari setiap kota/negara bagian yang dilalui. Dalam konteks yang sama, kata dia, ada pembayaran kewajiban berupa retribusi atau pajak di masing-masing instansi itu.


.jpg)










