(Jakarta – haltebus.com) Perusahaan teknologi patungan Swedia-Kenya memperkenalkan bus listrik hasil konversi pertama mereka di Nairobi, Rabu (19/1/22). Opibus mengembangkan platform kendaraan listrik bersifat modular dan bisa digunakan sebagai fondasi untuk beberapa jenis kendaraan.
“Bus ini akan jauh lebih murah daripada mengimpor bus listrik yang sudah jadi. Namun, ia juga memiliki kinerja yang unggul dibandingkan dengan rekan dieselnya. Motor (listrik) bertenaga, membuat bus memiliki torsi maksimum untuk performa sekaligus memungkinkan pengemudi untuk berakselerasi lebih responsif. Selain itu, karena tidak memiliki mesin pembakaran atau gearbox manual, maka tidak ada oli, filter, gasket yang perlu diganti. Ini berarti pengurangan 80 persen biaya perawatan, dibandingkan dengan bus diesel,” demikian pernyataan Opibus.
Terobosan Opibus memungkinkan pembuatan bus yang cocok untuk Afrika, terutama dari sisi keandalan, daya tahan dan harga. Platform ini dapat diterapkan dalam kontrak manufaktur lokal dan global. Sehingga, target menciptakan produk yang kompetitif secara global dan pertumbuhan yang cepat dapat dicapai.
Visi Opibus adalah menyediakan bus listrik yang dirancang dan dikembangkan secara lokal bisa diproduksi massal untuk pasar Afrika di akhir tahun 2023. Ini adalah langkah untuk mewujudkan tujuan Opibus untuk mengguncang sistem transportasi publik di Afrika. Mereka memiliki misi menyebarkan produk yang disesuaikan untuk kasus penggunaan lokal. Bus ini dirancang dan dikembangkan in-house dengan talenta teknik lokal, sementara pada saat yang sama memanfaatkan mitra lokal dalam produksinya.
“Bus listrik pertama ini rencananya akan diluncurkan secara komersial pertengahan tahun ini. Setelah ini, platform akan diuji dalam skala besar dalam penyebaran komersial 10 bus selama paruh kedua tahun 2022. Kami ingin memastikan, bisa mengumpulkan feed back yang berharga dalam melanjutkan pengembangan produk agar sesuai keinginan pasar dapat dioptimalkan. Senang rasanya menjadi penggerak pertama di ruang yang sangat menarik ini,” ujar Public Transport Project Coordinator Opibus, Dennis Wakaba.
Opibus merencanakan penyebaran bus listrik di daerah pinggiran kota di sekitar kota Nairobi. Untuk mengoperasikan bus listrik ini disiapkan model bisnis yang memungkinkan operator untuk menjalankan armadanya. Sejak hari pertama beroperasi, penghematan biaya jadi fokus utamanya.
Seiring dengan penyebaran bus, beberapa titik charging station juga akan dipasang sebagai paket produk Opibus. Charging Station ini bisa memanfaatkan arus AC (lambat) dan DC (cepat). “Menggunakan pengisi daya cepat, bus listrik akan terisi penuh dalam waktu satu jam sehingga memungkinkan kelancaran pengoperasian armada,” demikian penjelasan Opibus.
Sebagai perusahaan teknologi yang berbasis di Nairobi, Opibus merancang, mengembangkan, dan memperbanyak sebaran kendaraan listrik yang disesuaikan untuk benua Afrika. Opibus menjadi pemain utama dalam transisi menuju sustainable transportation. Berdiri pada tahun 2017, Opibus menjadi menjadi perusahaan pertama yang mengirimkan sepeda motor dan kendaraan listrik produksi lokal. Dengan hampir 100 karyawan, Opibus saat ini mengambil posisi di depan untuk mengembang kendaraan listrik di Afrika dan memiliki armada sepeda motor listrik terbesar.(naskah : mai/foto : dok. Opibus)
Technical Specifications
| Power | 225 kW |
| Battery | 121 kWh |
| Motor Torque | 706 Nm |
| Top Speed | 85 km/h |
| Range | Up to 120 km |
| Charging Power DC | 90 kW |
| Charging Power AC | 19.8 kW |
| Fastest Charging Time | 1.5 Hours |
























