(Sukoharjo – haltebus.com)
Empat orang mekanik tampak mengeliling sebuah chassis yang tak biasa di garasi PO. Siliwangi Antar Nusa (SAN), Sukoharjo, Jateng, Senin (24/9/12) sore. Tak lama berselang, M. Abdurrahman salah seorang dari mereka, duduk dibalik kemudi. Sejurus kemudian, dia menghidupkan mesin dan mulai menjalankan chassis yang sepintas mirip rangkaian besi berjalan. Chassis itu hanya dijalankan maju-mundur beberapa meter di dalam garasi. “Tadi baru dipasang sistem elektronik untuk transmisi otomatis, didampingi teknisi perwakilan ZF di Singapura,” kata pria yang sehari-hari bertugas sebagai Kepala Mekanik PO SAN.Hari itu menjadi hari bersejarah bagi PO. SAN, sebab chassis yang mereka siapkan selama setahun terakhir, akhirnya bisa dioperasikan. Saat dipindah dari garasi ke workshop yang letaknya bersebelahan, barulah terlihat jelas perbedaan chassis yang dikemudikan Abdurrahman dibandingkan chassis bus yang biasa dibuat oleh PO yang berdiri di Bengkulu ini. Tinggi lantai chassis tak lebih dari 25 cm dari tanah, lebar 2,7 meter dan panjang 12,7 meter. Sungguh tak lazim untuk sebagian orang.

Hasan panggilan akrab Hasanuddin Adnan mengaku sering kerepotan saat dalam perjalanan menggunakan pesawat, harus turun-naik bus di apron bandara. Menurut dia, hampir semua bus yang digunakan sebagai bus apron tidak menggunakan
chassis bus yang memang khusus untuk apron bandara. Tidak jarang chassis bus untuk perjalanan jauh berlantai tinggi hilir-mudik di bandara. Padahal, dengan jarak tempuh relatif pendek, naik-turun bus bisa menjadi masalah bagi sebagian orang.Dibantu Kepala Mekanik PO. SAN Abdurrahman dan pemilik Satrio Motor Winarno Ahmad dimulailah proyek hobi ini setahun yang lalu. Butuh waktu lebih dari enam bulan untuk merangkai besi-besi menjadi ‘landasan’ bus. “Sempat terjadi miskomunikasi dalam menuangkan ide menjadi sebuah
chassis,” ujar Hasan.

Abdurrahman menjelaskan
Agustus lalu, tak tahan meninggalkan proyek nyeleneh yang digagas Hasan yang tertunda Abdurrahman dan Winarno Ahmad mulai mengutak-atik. Beberapa perubahan dari gambar yang direncanakan mereka ambil. Hasilnya, dimensi
chassis yang diinginkan akhirnya tercapai.Selesai merangkai
chassis, bagi Abdurrahman berarti selesai menyusun rangkaian paling rumit merakit bus berlantai rendah. Sebab, untuk urusan mesin pria yang tak sempat mengenyam SLTA berpengalaman bongkar pasang mesin. Tentu saja, dibawah pengawasan Hasan yang juga pendiri PO SAN. Sejak tahun 2004, operator bus yang berbasis di Bengkulu ini mulai menggunakan mesin-mesin asal China demi memenuhi kebutuhan peremajaan mesin-mesin busnya. Mulai saat itulah mereka kerap bereksperimen dengan mesin. Tak sekedar mengganti mesin, rasio gardan-transmisi-tenaga mesin menjadi pokok utama eksperimen mereka. “Mulai mesin 240HP, 260HP hingga 300 HP kami sesuaikan rasionya dengan medan yang dilalui bus-bus kami,” ujar Abdurrahman.

Benar saja, saat haltebus.com menengok
Menurut Hasan, transmisi otomatis ZF digunakan untuk mendukung kinerja operasional mesin, disamping untuk kenyamanan penumpang. Dia berharap, saat bus beroperasi mesin Yuchai YC6G270-20 bertenaga 270HP yang terpasang bekerja optimal dan laju bus bisa berjalan mulus saat perpindahan persneling. Mesin juga ditata sedemikian rupa agar kinerjanya tak terganggu. Pendingin mesin diletakkan di sebelah kanan, dan dudukan mesin dibuat lebih ke kiri demi mendekatkan gardan dengan axle ZF yang unik. Letak penggerak pada axle ‘tipis’ ini ada di sisi kiri, tak seperti axle bus pada umumnya yakni di bagian tengah
Ada pula fitur suspensi udara yang dipasang pada chassis. Lagi-lagi fitur ini mengadopsi teknologi yang ditawarkan ZF pula. Dudukan setiap balon suspensi yang terpasang, dibuat sendiri. Begitu juga dengan penyusunan rangkaian selang kompresi udarayang terlihat rumit. Rupanya, Hasan mendapat tawaran menarik dari pabrikan yang terkenal dengan transmisinya itu. S
teering system yang digunakan juga menggunakan merk yang sama.

Meski sudah terhitung sukses mengoperasikan bus berlantai rendah yang dibuatnya, Hasan masih harus menempuh jalan panjang sebelum busnya bisa beroperasi layaknya bus-bus lain. Berdasarkan regulasi Kementerian Perindustrian chassis bus harus menjalani uji tipe. Jika sertifikat uji tipe berhasil diraih, bukan tidak mungkin
chassis bus berlantai rendah ini menjadi chassis bus khusus apron bandara diproduksi secara massal. “Saya tidak menutupi, jika ada kesempatan untuk produksi secara massal mengapa tidak? Saya ingin menunjukkan bahwa bangsa Indonesia mampu merakit bus model apapun,” ujar Hasan dengan bersemangat.(naskah : mai/foto : mai)









